SOSOK Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, begitu terkenang di hati rakyat Indonesia. Presiden ke-4 RI ini dianggap reformis oleh kalangan santri. Hal itu juga menghilangkan kesan kolot dunia pesantren di mata masyarakat. Meski tentu saja anggapan tersebut tidak benar.
Hidup di lingkungan pesantren –sebagai cucu ulama besar KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur– tidak serta-merta menghalangi minat baca Gus Dur. Tersedianya buku (berbagai jenis) dalam jumlah banyak, ditambah lingkungan keluarga yang mendukung membuat minat membacanya tersalurkan.
Ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta, tahun 1950, di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan dan nyantri di Pesantren Al-Munawwir, Gus Dur semakin menikmati hari-harinya bersama buku. Dikisahkan Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta menjadi tempat Gus Dur menemukan berbagai jenis tema buku yang diinginkan. Ia bahkan sering mengunjungi toko-toko buku langganan mahasiswa UGM.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















