top of page

Gambar Partai Dilumuri Tahi

Drama terjadi menjelang Pemilu 1955. Orang tak bertanggung jawab melemparkan kotoran pada alat peraga kampanye. Bikin gempar orang-orang sekampung.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 21 Feb 2024
  • 3 menit membaca

Pesta demokrasi Pemilihan Umum 2024 baru saja usai. Rakyat sudah mencoblos dan memilih presiden serta anggota legislatif untuk lima tahun ke depan. Meski KPU masih menghitung perolehan suara resmi, pasangan calon nomor 2 Prabowo-Gibran diperkirakan memenangkan kontestasi. Banyak serba-serbi cerita yang terjadi di bilik suara maupun selama proses perhitungan suara di TPS.


Di Jawa Timur, kertas suara untuk calon legislatif di coret-coret oleh seorang pemilih. “KORUP SEMUA CAPE ASLI,” begitu isi coretannya yang memenuhi kolom pencoblosan. Tulisan “KORUPTOR :)” juga terdapat di kertas suara TPS wilayah Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok. Sementara itu, di tingkat DPD, nama komedian Alfiansyah Bustami alias Komeng merajai perolehan suara di daerah pemilihan Jawa Barat. Saban kali nama Komeng dicoblos dalam perhitungan suara, serentak orang-orang sekitar TPS berteriak “UHUUUII,” yang menjadi ciri khas Komeng ketika membawakan acara komedi Spontan. Itulah sekelumit kejadian unik pada pemilu tahun ini.


Pada Pemilu 1955, insiden yang menggelitik bahkan sudah terjadi sebelum pemilu dihelat. Namun, peristiwa ini berbau tidak sedap. Bukan coretan, tapi kotoran berupa tinja dijadikan alat perang urat syaraf. Seperti itulah yang terjadi di Kampung Tanah Sereal, Kelurahan Krukut, Jakarta Barat. Di kawasan itu, alat-alat peraga kampanye berseliweran menghiasi jalanan. Kebanyakan adalah gambar lambang partai yang ditempel di sana-sini.


Baca juga: Jakarta Kota Tinja


Sekali waktu, kedapatanlah bahwa salah satu tanda gambar partai dilumuri tahi oleh orang-orang nakal bin culas. Perbuatan itu dilakukan pada malam hari dan baru ketahuan waktu pagi kemudian. Tentu saja para pengikut dari partai yang tanda gambarnya dilempari kotoran menjadi marah. Tapi, mereka hanya bisa mengelus dada. Tidak diketahui siapa orang yang berbuat kurang ajar demikian.


Jengkel sudah kepalang. Namun, orang yang diburu tak kunjung tampak batang hidungnya. Kemarahan lantas ditimpakan kepada partai lain yang tanda lambangnya ditempel berdekatan dengan gambar partai yang dilumuri tahi. Jadilah tanda gambar partai kompetitor itu penuh kotoran juga. Para pengikutnya pun ikut meradang.


Masyarakat sekitar jadi penasaran. Dalam waktu berdekatan dua tanda gambar partai yang menjadi alat peraga kampanye sama-sama berlumuran tahi. Karena dilakukan pada malam buta, sulit mengungkap siapa orang di balik aksi ugal-ugalan itu. Teknologi untuk memantau seperti CCTV pada saat itu belum ada. 



Seperti bersiap-siap mau perang, para pengikut partai yang bersangkutan lantas melakukan ronda. Pada malam hari, mereka mondar-mandir di tempat tempelan gambar partai yang belum kelumuran najis. Ronda malam ini dimaksudkan supaya alat peraga kampanye mereka tidak dilumuri kotoran lagi. Begitu pula dengan pengikut partai yang satunya lagi. Mereka juga merasa berkewajiban membela tanda gambar partai mereka dari ulah orang-orang usil. Maka terjadilah ronda kontra ronda. Antar-pengikut partai saling mengintai saru sama lain.


Namun, karena masing-masing menjaga dan dijaga, lantas tiada lagi yang berani main lempar-lemparan tahi. Maka selamatlah alat peraga kampanye mereka yang ditempel di tembok-tembok, tiang-tiang jalan, dan sudut-sudut gang. Semua itu berkat kesungguhan para pengikut partai yang saban malam melakukan ronda istimewa. Peristiwa ini pun jadi ada hikmahnya.


“Dan karena perondaan terus-menerus itu, kampung tersebut menjadi aman, tidak ada maling yang berani masuk ke sana! Gara-gara tanda gambar partai,” demikian diberitakan Majalah Minggu Pagi, No.47, 20 Februari 1955. 



Pemilu 1955 berlangsung di bulan September. PNI, Masyumi, NU, dan PKI jadi partai pemenang pemilu dengan raupan suara terbanyak.  Secara umum, pemilu pertama di Indonesia ini berjalan aman, lancar, dan damai. Kendati terselip pula sekelumit insiden saling sikut seperti kasus di Tanah Sereal tadi, turut mewarnai jalannya pemilu.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page