top of page

Distorsi Sejarah dan Kebencian pada Sukarno

Tujuh puluh tahun lebih setelah Indonesia merdeka, sebagian warga Belanda masih membenci Sukarno setengah mati. Kenapa?

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Sutan Sjahrir, Letnan Kolonel Van Beek, Sukarno, dan Mohammad Hatta, di Yogyakarta tahun 1948. Hatta dan Sjahrir dijadikan nama jalan di Belanda, Sukarno tidak mungkin karena sebagian warga Belanda masih membencinya. (Arsip Nasional Belanda).

  • 31 Agu 2019
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 14 Jun 2025

DALAM sebuah acara persiapan pameran di Rijksmuseum Maret lalu saya bertemu dengan seorang anak veteran perang Belanda. Kalimat pertama yang meluncur deras dari mulutnya adalah kemarahan sekaligus kekecewaan terhadap gambaran kehadiran Belanda di Indonesia pada 1945-1949.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page