- 22 Jun 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
SEPI, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan.
Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka.
“Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” kata Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno, dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















