top of page

Dari Matulessia Menjadi Matulessy

Belanda melarang nama Matulesia karena perlawanan Thomas Matulesia yang lebih dikenal sebagai Pattimura. Matulesia diubah jadi Matulessy.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan Kapitan Pattimura.

15 Mei 2017
2 menit membaca

Pada 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura memimpin penyerangan ke benteng Belanda, Duurstede. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pattimura. Pattimura merupakan gelar yang disandang oleh Thomas Matulessia yang lahir pada 1783 di negeri Haria. Thomas adalah anak kedua dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Kakak Thomas adalah Johannis.


Leluhur keluarga Matulessia berasal dari Seram. Turun-temurun mereka berpindah ke Haturessi (sekarang negeri Hulaliu). Moyang Thomas berpindah ke Titawaka (sekarang negeri Itawaka). Di antara turunannya ada yang menetap di Itawaka, ada yang berpindah ke Ulat, ada yang kembali menetap di Hulaliu, dan ada yang berpindah ke Haria. Yang di Haria menurunkan ayah dari Johannis dan Thomas. Ibu mereka berasal dari Siri Sori Serani.


Thomas tidak menikah. Sedangkan Johannis menurunkan keluarga Matulessy yang berdiam di Haria. Zeth Matullesy, seorang pegawai pekerjaan umum Provinsi Maluku, menjadi ahli waris Thomas dan Johannis, yang memegang surat pengangkatan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional. Dia juga menyimpan pakaian, parang dan salawaku milik Pattimura.


“Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab,” tulis I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura. Nanulaitta terlibat dalam penyusunan naskah Perjuangan Pattimura dalam Pengembangan Ampera dari Masa ke Masa pada 1966 yang disusun oleh Panitia Penggalian Sejarah Pahlawan Nasional Pattimura. Belakangan, ada pendapat bahwa Pattimura adalah muslim.


Menurut Nanulaitta, pengangkatan Thomas sebagai panglima perang dan bergelar Pattimura ditetapkan dalam Proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini berisi 14 keberatan atas kekejaman Belanda sehingga rakyat mengangkat senjata. Proklamasi yang ditandatangani oleh 21 raja ini, juga menjadi dasar hukum bagi perang melawan Belanda yang pecah pada 15 Mei 1817.


Perlawanan Pattimura berakhir pada 16 Desember 1817. Dia bersama Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (Raja Siri Sori Islam), digantung di luar benteng Victoria, Ambon.


Menurut Nanulaitta, berdasarkan keterangan beberapa orang yang bermaga Matulessy, setelah perang Pattimura, Belanda tidak menerima raja, patih, murid, pegawai, serdadu atau agen polisi, yang bermarga Matulessia. Matulessia merupakan perubahan dari Matatulalessi (mata: mati, tula: dengan, lessi: lebih).


“Fam itu harus diganti, lalu ada keluarga yang berganti fam menjadi Matulessy atau Matualessy,” tulis Nanulaitta. Namun, ada yang tetap memakai Matulessia. Di Hulaliu, keluarga itu mengganti namanya menjadi Lesiputih artinya putih lebih yang mengandung makna orang putih yang menang. Pada 1920, atas rekes (surat permohonan) dari keluarga tersebut, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, memutuskan mengizinkan keluarga Lesiputih memakai nama Matulessy lagi.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
Sebagian orang Belanda khawatir kecamuk Perang Dunia I menjalar ke Hindia Belanda. Jika benar terjadi, tanah jajahan yang berharga itu bisa lepas dari genggaman. Maka, perkumpulan Onze Vloot menebar propaganda supaya Kerajaan Belanda membuat kebijakan memperkuat armada perang guna membentengi Hindia Belanda. Sebagian pejabat Belanda merisaukan perkembangan militer Jepang yang agresif setelah menang perang melawan Rusia. Di sisi lain, armada perang Belanda, utamanya di Hindia Belanda, dalam...
Sebagian orang Belanda khawatir kecamuk Perang Dunia I menjalar ke Hindia Belanda. Jika benar terjadi, tanah jajahan yang berharga itu bisa lepas dari genggaman. Maka, perkumpulan Onze Vloot menebar propaganda supaya Kerajaan Belanda membuat kebijakan memperkuat armada perang guna membentengi Hindia Belanda. Sebagian pejabat Belanda merisaukan perkembangan militer Jepang yang agresif setelah menang perang melawan Rusia. Di sisi lain, armada perang Belanda, utamanya di Hindia Belanda, dalam...
Pewarta foto Historia.id untuk kedua kalinya meraih penghargaan APFI, ajang tertinggi pewarta foto di Indonesia.
Pewarta foto Historia.id untuk kedua kalinya meraih penghargaan APFI, ajang tertinggi pewarta foto di Indonesia.
Asa membumbung tinggi setelah Timnas U-23 bekap Thailand, 2-0. Pengentasan dahaga 28 tahun mulai terbuka di Manila.
Asa membumbung tinggi setelah Timnas U-23 bekap Thailand, 2-0. Pengentasan dahaga 28 tahun mulai terbuka di Manila.
Pembunuh berdarah dingin Inggris di kotak penalti lawan. Dikenang dan dihormati sampai ke Italia.
Pembunuh berdarah dingin Inggris di kotak penalti lawan. Dikenang dan dihormati sampai ke Italia.
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Apakah stok tokoh di negeri ini masih tersedia banyak?
Berharap menyamai prestasi enam dekade lalu yang membawa pulang perunggu.
Berharap menyamai prestasi enam dekade lalu yang membawa pulang perunggu.
transparant.png
bottom of page