- 22 Agu 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
DUA narapidana yang kasusnya pernah bikin geger publik berduel di Lapas Gunung Sindur. Mereka adalah Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang terpidana hukuman mati kasus mutilasi berantai, dengan Habib Bahar bin Smith, ulama Front Pembela Islam terpidana kasus penganiayaan sopir taksi. Cekcok diantara keduanya dipicu perkara utang-piutang. Akibatnya, Bahar Smith menghajar Ryan Jombang sampai babak belur. Meski terjadi penganiayaan, Ryan Jombang dan Habib Bahar dikabarkan telah berdamai.
Perkelahian di penjara memang acap terjadi. Kehidupan penjara yang keras kerap menyulut perselisihan di antara para penghuni penjara. Tidak hanya penjara yang menghukum pelaku kriminal, fenomena seperti itupun berlaku pula di penjara pengasingan kaum pergerakan. Tempat pembuangan yang bertempat di pedalaman Papua itu dikenal dengan nama Kamp Interniran Boven Digoel atau Tanah Merah. Inilah penjara yang dibuat pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk membungkam gerakan orang-orang bumiputra sejak akhir 1920-an hingga 1943.
Di Digoel, orang-orang pergerakan yang diasingkan dibikin merana. Tidak hanya raga, jiwa para penghuni kamp ikut dipasung sebab tempat ini terisolasi dari dunia luar. Bentang alamnya yang penuh rawa dan belantara jadi sarang penyakit malaria. Jatah ransum bagi para Digoelis ini terbatas sedangkan kandungan gizinya jauh dari cukup. Mereka yang tidak kuat mental tinggal di sana akan mengalami depresi bahkan menjadi gila. Kondisi hidup yang sengsara turut mempengaruhi hubungan antar Digoelis yang menghuni kamp pengasingan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















