top of page

Asal-Usul Stigmatisasi Komunis di Indonesia

Stempel negatif untuk kaum komunis dan tuduhan yang bersifat pukul rata sudah dimulai sejak zaman kolonial. Menyasar kepada mereka yang kritis terhadap kekuasaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mohammad Hatta (kedua dari kanan) di depan rumahnya di Boven Digoel (1 Januari 1936) menjelang kepindahannya bersama Sutan Sjahrir (berdiri, kedua dari kiri) ke Banda Neira. (Repro Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa).

3 Okt 2020
6 menit membaca

BANDUNG, 4 Juli 1927, delapan orang berkumpul di sebuah rumah Regentsweg No. 22. Tujuh orang di antaranya bersepakat mendirikan sebuah partai baru: Partai Nasional Indonesia (PNI). Seorang di antaranya, yang paling tua, menolak ikut masuk ke dalam susunan pendiri partai. Dia cemas kalau partai baru tersebut bakal dituduh sebagai partai komunis kelanjutan PKI dan akan kembali dibubarkan oleh pemerintah kolonial.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
transparant.png
bottom of page