Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis

Kapal Greenpeace Rainbow Warrior tenggelam setelah dihajar dua bom. Akibat penentangannya terhadap ujicoba nuklir Prancis.

10 July 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis
Rainbow Warrior, kapal milik Greenpeace yang tenggelam akibat menentang ujicoba nuklir Prancis (Foto: gahetna.nl)

HARI ini, 10 Juli 1985, 34 tahun silam. Kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan.

“Suara apa itu? Jelas bukan bagian dari kebisingan rutin kapal. Bahkan, tidak ada suara normal kapal yang bisa didengar. Generator, yang memasok listrik ke kapal, anehnya sunyi. Gempa bumi kah?” kata Peter Willcox, kapten kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace yang merupakan salah satu kapal di dermaga itu, dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet.

Garda Terdepan Anti-Nuklir

Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua.

Tak lama setelah melakukan pelayaran perdana usai reparasi ulang, Rainbow Warrior langsung melakukan pelayaran berbahaya dengan mencegat kapal pengangkut sampah nuklir milik Inggris, Gem, yang mengotori perairan internasional. Selang beberapa waktu kemudian, Rainbow Warrior berhasil menggagalkan perburuan anjing laut Norwegia di Kepulauan Orkney.

Dua pelayaran berbahaya nan heroik itu membuka ratusan pelayaran Rainbow Warrior berikutnya dalam menjaga kelestarian bumi. “Greenpeace telah menjadi terkenal karena eksploitasi keberanian dan aksi dramatisnya, yang semuanya dimaksudkan untuk menarik perhatian pada penghancuran bumi dan semua mahluk di atasnya yang sistematis oleh industri,” tulis Steven McFadden dan Ven. Dhyani Ywahoo dalam Legend of the Rainbow Warriors.

Ketika intensitas ujicoba senjata nuklir Amerika Serikat dan Prancis di Pasifik meningkat pada 1970-an, Greenpeace bergabung dalam barisan penentangnya. “Gerakan untuk Pasifik bebas-nuklir dimulai di Fiji pada 1970 dengan pembentukan komite ATOM (Against Tests on Moruroa) untuk memprotes pengujian nuklir Prancis. Didukung oleh Konferensi Gereja-Gereja Pasifik, ATOM menyelenggarakan konferensi pertama untuk Pasifik bebas nuklir di Fiji pada 1975, dan sebuah konferensi lanjutan penting di Pulau Pohmpein di Mikronesia pada 1978,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence.

Dalam kampanye menentang ujicoba nuklir Prancis di Moruroa itulah Rainbow Warrior menjadi andalan Greenpeace. Dari turnya ke berbagai tempat, kapal itu kemudian menuju Auckland, Selandia Baru. Selandia Baru dianggap para aktivis lingkungan sebagai rekan. “Awak kapal berencana untuk mengumpulkan dukungan dari para simpatisan di Selandia Baru dan kemudian bergabung dengan armada perdamaian yang akan berlayar ke Atol Moruroa, di mana Prancis secara terus-menerus menguji bom-bom nuklirnya sejak 1966,” sambung McFadden dan Ywahoo.

Tiba di Pelabuhan Auckland pada 7 Juli 1985, Rainbow Warrior mendapat sambutan meriah. Realitas itu membuat Prancis gerah. Sudah empat kali Prancis dibuat malu Greenpeace dengan protes kerasnya atas ujicoba nuklir di Pasifik. Protes kelima yang akan dilakukan Greenpeace, dengan dukungan yang lebih kuat, oleh karena itu harus digagalkan. “Pada 10 Juli 1985 di Pelabuhan Auckland, pasukan komando Prancis menanam bahan peledak di bawah lambung kapal,” tulis Elzbieta Posluszna dalam Environmental and Animal Rights Extremism, Terrorism, and National Security.

Ledakan pertama,15 menit sebelum pergantian hari ke tanggal 11 Juli, merobek bagian tengah bawah lambung kapal. Generator Rainbow Warrior langsung tak berfungsi, kapal pun gelap. Setelah memerintahkan para awak untuk meninggalkan kapal, Kapten Willcox yang hanya mengenakan handuk langsung menyelamatkan diri ke dermaga. “Kapal sudah tenggelam ke titik di mana aku harus memanjat dari dek untuk bisa sampai ke dermaga,” kata Willcox dalam memoarnya.

Willcox kemudian mulai menghitung para awaknya. Davey, rekannya yang datang kemudian, memberitahu Willcox bahwa Fernando Pereira, fotografer resmi Rainbow Warrior,  masih di dalam kapal. Sang kapten dan Davey langsung ke bagian tertinggi kapal untuk mencoba menyelamatkan rekan mereka. Namun, situasi membahayakan membuat mereka urung melanjutkannya.

Ledakan kedua, dekat baling-baling kapal, muncul saat itu. Semua awak Rainbow Warrior makin bingung. “Kami masih belum tahu tentang apa yang menyebabkan semua kerusakan iru. Tidak ada kapal lain yang bisa bertabrakan dengan kami. Bahan bakar kapal adalah diesel, yang tidak mudah meledak. Satu-satunya bahan peledak yang ada di atas adalah tangki oksigen dan asetilena yang digunakan untuk pengelasan, tetapi itu disimpan jauh di depan dan jauh dari tempat kerusakan terjadi. Saya benar-benar bingung,” kata Willcox.

Menjelang subuh, Willcox dibawa polisi ke TKP untuk mengidentifikasi jenazah di Rainbow Warrior yang diambil lima penyelam AL Selandia Baru. Benar saja, jenazah itu merupakan Fernando Pereira. “Dia berada di kabinnya sekitar 20 detik ketika ledakan kedua terjadi tepat di bawahnya,” sambung Willcox.  

Setelah menjalani interogasi di kantor kepolisian setempat, para awak Rainbow Warrior lalu dibebaskan. “Fakta bahwa ada dua ledakan –terpisah hanya beberapa menit di dua lokasi berbeda– mengindikasikan ini adalah upaya disengaja untuk menenggelamkan Rainbow Warrior,” kata Willcox.

Dua hari kemudian, Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Investigasi lebih lanjut menyatakan keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, perwira militer Prancis yang di-BKO-kan ke Direction Generale de le Securite Exterieure (DGSE).

Keterilbatan militer Prancis membuat publik marah dan pers mencecar pemerintahan Francois Mitterand. Laporan yang dirilisnya pada 27 Agustus tetap tak memuaskan permintaan pers akan kebenaran. Suara pelengseran Mitterand makin kuat. Setelah Menhan Charles Hernu mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban, pada 22 September PM Prancis Laurent Fabius buka suara tentang keterlibatan DGSE.

“Perdana Menteri Laurent Fabius mengakui DGSE telah memerintahkan ‘netralisasi’ Rainbow Warrior dalam apa yang disebut, ‘Operation Satanic’,” tulis John E. Lewis dalam Terrorist Attacks and Clandestine Wars.

Nuklir
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
4 Suka
BOOKMARK