- 20 Mar 2017
- 4 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
BILIKI, Petrus Kanisius, Iqbal Menezes, Zacarias Pereira, Benvindo bukanlah sekadar nama-nama. Mereka, bersama ribuan putra dan putri asal Timor Leste, mewakili sebuah tragedi. Mereka tercerabut dari akarnya di tengah perang dan pendudukan militer Indonesia.
Sejarawan lazim melukiskan kolonialisme dengan beleid, ketimpangan negeri terjajah, kebangkitan nasionalisme, dan seterusnya. Buku ini justru memperlihatkan bahwa kolonialisme dapat digambarkan melalui kisah dramatis anak-anak yang dibawa dari Timor Timur –nama yang disematkan Indonesia setelah menduduki wilayah ini– ke Indonesia, secara paksa atau setengah paksa, sejak 1975 hingga 1999.
Mereka dibawa dengan persetujuan orangtua, ada pula yang tanpa izin atau dengan tipu daya. Ada yang diperlakukan dengan baik, ada yang dipekerjakan, bahkan menjadi semacam budak. Sekitar dua dari empat ribu kasus berlangsung melalui lembaga-lembaga, separo lainnya adopsi. Karena itu, Helene memilih istilah netral “transfer” untuk menangkap makna “pengiriman”, “pengambilalihan”, “penculikan” dan “perdagangan anak”.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















