top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Mencari Sejarah Si Pitung

Si Pitung bukan sekadar legenda. Sejarah mencatat sosoknya.

Oleh :
7 Okt 2013

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Dicky Zulkarnaen (kiri) memerankan Si Pitung (1970) karya sutradara SM Ardan. Foto dari "In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legenda" karya Margreet van Till.

  • 8 Okt 2013
  • 2 menit membaca

Dicky Zulkarnaen (kiri) memerankan Si Pitung (1970) karya sutradara SM Ardan. Foto dari "In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legenda" karya Margreet van Till.


DARI kejauhan terdengar suara tembakan memecah malam pada 30 Juli 1892. Rumah tuan tanah asal Bugis, Hadji Sapiudin, di kawasan Marunda dirampok gerombolan bersenjata. Seorang menodong Hadji Sapiudin, sisanya menguras isi rumah. Esoknya, warga heboh. Mereka percaya kelompok Si Pitung pelaku perampokan itu. Peristiwa ini terekam dalam koran Hindia Olanda, 10 Agustus 1892.


Sebulan kemudian, Si Pitung ditangkap. Rumahnya digeledah. Polisi menemukan barang bukti uang sebesar 125 gulden di sebuah lubang rahasia di lantai rumah. Pitung dijebloskan ke penjara di Meester Cornelis. Namun, tak lama berselang, Si Pitung bersama gengnya, Dji’ih, Rais, dan Jebul meloloskan diri.


Di kalangan warga Betawi, sosok Si Pitung dikelilingi kabut mitos. Berbagai cerita mengisahkan Pitung memiliki kekuatan supranatural untuk lolos dari kejaran polisi. “Sebagai kepala geng, Si Pitung merampok rumah-rumah tuan tanah yang kaya. Dia terkenal karena keberaniannya, yang dipercaya memiliki senjata-senjata magis dan kekuatan-kekuatan magis,” tulis Henk Schulte Nordholt dan Margreet van Till, “Colonial Criminals in Java” dalam Figures of Criminality in Indonesia, the Philippines, and Colonial Vietnam karya Vicente L. Rafael.



Pitung bukan legenda belaka. Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam “In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend”, dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 152, 1996, sosok Si Pitung benar-benar berdasarkan sosok nyata yang hidup pada paruh kedua abad ke-19.


Si Pitung lahir di Pengumben, sebuah desa di Rawa Belong, anak dari pasangan Bung Piung dan Mbak Pinah. Masa kecilnya dihabiskan di pesantren pimpinan Hadji Naipin. Selain mengaji, dia belajar silat. Ketika dewasa, Si Pitung terkenal di kalangan rakyat Betawi sebagai seorang jago yang baik hati. Merampok untuk dibagikan kepada rakyat miskin.


Si Pitung melakukan perampokan pada 1892-1893. Aksi-aksinya terekam dalam suratkabar Hindia Olanda, disebut sebagai salah satu buronan kelas kakap polisi kolonial. “Perbedaan penyebutan namanya memperlihatkan pada saat itu dia tidak dikenal luas: kadang-kadang dia disebut ‘Si Bitoeng’, waktu lain ‘Pitang’. Setelah beberapa bulan, editor Hindia Olanda memutuskan secara konsisten menyebutnya dengan ‘Si Pitoeng’,” tulis Margreet.


Margreet juga membongkar nama asli Si Pitung. Ketika tertangkap polisi, dalam dokumen pemeriksaannya terungkap nama aslinya: Salihoen. Menurut sebuah cerita lisan, nama Si Pitung merupakan turunan dari bahasa Jawa, pituan pitulung (kelompok tujuh).


Di kalangan warga Betawi, ketika Si Pitung meninggal, berita kematiannya berkembang penuh mitos. Mereka percaya Si Pitung meninggal akibat kehilangan jimatnya, yakni rambut. Pasalnya, beberapa jam sebelum kematiannya, Si Pitung terlihat di Pasar Senen dengan rambut yang telah dipotong. Padahal, baik dipotong atau tidak, memang sudah sejak lama Pitung menjadi incaran polisi. Margreet percaya, hal inilah yang menyebabkan munculnya kepercayaan bahwa Si Pitung kehilangan kekuataanya karena rambutnya dipotong.



Setelah kematiannya, Si Pitung dengan cepat dilupakan orang-orang Belanda. Tapi tidak dengan orang Indonesia. Kisah Si Pitung terawat dengan baik, lewat lenong maupun film. Bagi mereka, Si Pitung adalah Robin Hood dari Betawi


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Dari KNIL Jadi Tentara Republik

Hidayat Martaatmadja memutuskan pensiun dari KNIL setelah menyaksikan penindasan Belanda terhadap bangsanya. Dia beperan dalam pendirian PDRI.
bottom of page