Kerajaan Bisnis Pardede

Pundi-pundi materi belimpah. Totalitas dalam berwirausaha membawa kerajaan bisnis Pardede merambah kemana-mana.

1516703897000
  • BAGIKAN
Kerajaan Bisnis Pardede
T.D. Pardede (inset) dan kesebelasan sepakbola miliknya, Pardedetex. Foto: Dok. Tonggo Tambunan.

Wajah T.D. Pardede berseri-seri. Itu terjadi jika klub miliknya berhasil mengalahkan kesebelasan lain. Bila hatinya sudah riang begitu, para pemain ikut kecipratan. Mereka berkumpul setelah laga berakhir. Menerima petuah dari Pak Ketua.

“Bagus . . .bagus, aku puas. Aku puas. Puas kali aku kalian bisa menang!, kata Pardede. Tak hanya memuji, Pardede punya kebiasaan unik nan menyenangkan: bagi-bagi duit. Pardede tak sungkan merogoh saku safarinya, membagi segepok uang buat si pencetak gol. Untuk ukuran saat itu, jumlahnya tak tanggung-tanggung.

“Kantong sebelah kiri biasanya dua ratus lima puluh ribu (rupiah, -red) kalau kantong yang kanan lima ratus ribu. Tergantung mood Ketua mau merogoh saku yang mana,” ujar Herry Kiswanto, mantan pemain Pardedetex era Galatama kepada Historia. Menurut Herry, bonus uang itu biasanya dipakai untuk makan-makan bersama.

Kalau menang di kandang lebih asyik lagi. Para pemain akan mendapat fasilitas dari perusahaan Pardede. “Diajak pijit dan sauna di hotel gratis,” ujar Herry. Hotel yang dimaksud Herry adalah Hotel Danau Toba Internasional, salah satu hotel milik grup hotel Pardede yang terletak di pusat kota Medan, di Jalan Imam Bonjol.

“Barangkali hotel itu yang pertama punya fasilitas macam begitu di Medan,” lanjut Herry.

Merambah Bermacam Bisnis

Tak hanya tekstil, bidang usaha Pardede merambah ke beragam sektor. Ketika dunia pertekstilan agak lesu pada dekade 1960-an, Pardede membuat terobosan: membuka usaha peternakan babi yang ratusan ekor banyaknya. Sebagian dari karyawannya dialihkannya ke usaha peternakan. Dalam waktu singkat, peternakan babi ini cukup membantu Pardede mengangkat depresi perusahaan

Pada 1969 Pardede mendirikan PT Surya Sakti Fishery & Cold Storage, perusahaan perikanan dan pengawetan ikan. Tak berapa lama sesudah pembentukan Surya Sakti, menyusul pembangunan hotel dan novotel. Pada 1970, mulai beroperasi Hotel Danau Toba di Medan. Dari Medan, Pardede membangun lagi cabang hotel dan novotelnya di berbagai kota, mulai dari Parapat, Tebingtinggi, hingga Jakarta.

Menurut Pardede, usaha pembangunan hotel akan dapat membentu pemerintah mengurangi pengangguran dan menyerap tenaga kerja yang mengecap pendidikanb di bidang perhotelan dan pariwisata. Dia pun melengkapi hotelnya dengan fasilitas internasional seperti steambeath (mandi uap) yang masih terbilang jarang di Indonesia dan kerap disalahgunakan jadi ajang mesum dan prostitusi terselubung.

“Hotel dan steambeath tidak dibenarkan menjadi arena permesuman,” kata Pardede dalam biografinya T.D. Pardede: Wajah Seorang Pejuang Wiraswasta karya Tridah Bangun.

Untuk menanungi anak-anak perusahaannya yang bergerak di aneka sektor, pada 1975 Pardede mendirikan T.D. Pardede Holding Company. Ini menjadi induk perusahaan Pardede yang menanungi lima grup bisnis: tekstil, Surya Sakti (perikanan), perhotelan, perbankan, dan yayasan. Pada tahun itu, Pardede Holding Company menampung sebanyak 4.153 orang karyawan yang berasal dari 28 perusahaan. Di tahun yang sama, untuk grup perhotelan saja, nilai asetnya ditaksir mencapai 3 milyar rupiah.

Bisnis Pardede yang kian menggeliat di sana-sini tak hanya mengangkat reputasinya sebagai industrialis ataupun taipan. Dia juga dikenal sebagai filantropis, pembina olahraga, dan juga politikus yang diperhitungkan.

Dalam membangun kerajaan bisnisnya, Pardede punya prinsip yang dinamakannya “Walutama”. Dalam arti yang lebih sederhana disebut 8 K: kejujuran, kelakuan, kemampuan, kerajinan, kebersihan, kewajiban, kepatuhan, dan kelakuan. Kedelapan nilai itu menjadi pegangan bagi setiap karyawan di perusahaan Pardede.

“Sedangkan falsafah hidupnya yang selalu dikemukakannya pada tiap kesempatan ialah: miskin belajar kaya, kaya belajar miskin,” tulis Tridah Bangun.

Tak hanya membangun perusahaan, Pardede juga menaruh perhatian di bidang pendidikan. Maka pada 1979, Pardede mendirikan Universitas Darma Agung di Medan. Namun pendirian Darma Agung juga bersenarai dengan kepentingan bisnis Pardede sebagai cara agar tak kekurangan tenaga kerja. Kebanyakan lulusannya dapat diserap di berbagai anak perusahaan milik Pardede.

Tonggo Tambunan, mantan pemain Pardedetex yang lain berkisah. Dalam kostum Pardedetex tak ada sama sekali logo sponsor atau iklan. "Pardede itu modalin sendiri kesebelasanya, tak pernah mengandalkan sponsor. Pardede hebatlah, gaji gak pernah telat," ujar Tonggo kepada Historia.

Yang menarik, dalam kostum kesebelasan Pardedetex hanya tertera tulisan “UDA” alias Universitas Darma Agung. “Sebagai promosilah,” kata Tonggo. Hingga kini, Universitas Darma Agung masih berdiri dan menjadi salah satu universitas swasta ternama di kota Medan.

t.d. pardede
  • BAGIKAN
1 Suka
BOOKMARK