top of page

Tentara, Pengusaha, dan Pengurus Sepakbola

Ketua Umum PSSI yang mundur setelah timnas gagal. Pengurus klub yang tidak begitu suka pemain asing.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Brigjen TNI (Purn.) Sjarnoebi Said, Ketua Umum PSSI (1982-1983) dan pengurus klub Krama Yudha Tiga Berlian. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

  • 18 Okt 2022
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 18 Jan

SETELAH Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, kekuatan Republik di daerah sekitar Baturaja berantakan. Komandan resimen Mayor Rasjad kemudian memerintahkan seorang Pembantu Letnan (dulu disebut Letnan Muda) mewakilinya dengan mandat penuh untuk bertindak demi pertahanan daerah Ogan Tengah.


Pembantu Letnan yang baru berumur 20 tahun itu berangkat ke Ogan Tengah bersama Mayor dr. Moeghni dengan sebuah jip. Sepanjang jalan mereka melihat kampung-kampung di Baturaja sepi karena penduduk mengungsi. Para Republiken dan rakyat sipil panik di sana.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page