Siong Vo, Legenda Sepatu Bola

Indonesia punya banyak legenda sepakbola di masa lalu. Julukan legenda juga layak disematkan pada merek sepatu bola ini.

1499095249000
  • BAGIKAN
Siong Vo, Legenda Sepatu Bola
Toko olahraga Siong Vo. Foto: Nugroho Sejati/Historia.

Alex Sulaiman terkejut sekaligus antusias. Kawannya, Pariono, mengatakan masih menyimpan sepatu bola merek Siong Vo yang pernah dipakainya kala membela tim nasional (timnas) sebagai pemain sebagai sayap kanan (right winger) medio 1960-an.

Kendati bukan pemain bola profesional, hanya pernah main sepakbola amatir untuk klub Mahisa, Alex rajin berlatih di Lapangan Petak Singkian, markas klub sepakbola UMS (Union Makes Strength) Jakarta. Di sana pula dia kenal dan menjalin pertemanan dengan Pariono.

Alex adalah pewaris Siong Vo, merek yang legendaris. Maka, mendengar penuturan Pariono, dia penasaran ingin melihat sepatu itu. Dan demi memenuhi keinginan temannya, Pariono membawakannya.

Sepatu itu sudah berusia 60 tahun. Namun ia masih terawat dengan baik. Kulitnya mulus, dengan warna hitam polos nan mengkilat. Tak ada goresan sedikit pun. Sol sepatunya juga cukup bagus; ada beberapa goresan tapi tak sampai menjadi gompalan. Pul-pulnya tetap terjaga.

Alex punya banyak kenangan manis atas sepatu itu, bagian yang tak terpisahkan dari sejarah keluarganya. Karenanya dia langsung membujuk Pariono agar mau barter dengan sepatu bola gres yang berjajar di toko miliknya. Meski sempat menolak, Pariono akhirnya tak kuasa menahan bujuk-rayu Alex.

“Akhirnya tukar,” ujar Alex, 70 tahun, terkekeh kepada Historia ketika ditemui di Toko Siong Vo di bilangan Galur, Jakarta Pusat.

Dari Hobi Jadi Hoki

Sejak diperkenalkan di Hindia Belanda (Indonesia), sepakbola menemui banyak peminat. Mulanya ia hanya dimainkan orang-orang asing, terutama Belanda. Sepakbola jadi olahraga kelas atas. Prestisius. Perlahan sepakbola dimainkan orang Tionghoa dan juga bumiputera. Sepakbola jadi populer, digemari beragam kalangan.

Siong Vo juga kepincut dengan permainan ini. Dia kemudian menjadi salah satu pemain andalan klub UMS Jakarta, klub sepakbola yang didirikan awal abad ke-20. Dia bermain di posisi sayap kiri (left winger).

“Dia sezaman dengan Endang Witarsa,” ujar Alex Sulaiman, anak Siong Vo.

Endang Witarsa adalah seorang dokter gigi yang memilih berkarier di sepakbola. Dia mulai berkarier di UMS, dan kelak menjadi pelatihnya. Dia juga pernah menjadi pemain dan kemudian pelatih timnas sepakbola Indonesia.

Tak seperti Witarsa, karier profesional Siong tak berlanjut. Dia terlalu sibuk membantu bisnis keluarganya. Sejak masa kolonial, ayahnya memproduksi sekaligus menjual sepatu di daerah Senen, Jakarta. “Bikin sepatu preman. Sepatu yang biasa itu dibilangnya sepatu preman,” ujar Alex. Siong Vo membantu di bagian penjualan hingga produksi. Karena kesibukannya itulah dia memutuskan gantung sepatu dan menekuni bisnis.

“Lantaran orangtua saya seneng bola, dia juga bikin sepatu bola,” ujar Alex. “Mulanya, dia hanya membuat sepatu bola untuk dipakai sendiri. Itu juga bikin cuma berapa pasang.”

Siong Vo tak pernah benar-benar meninggalkan sepakbola. Dia masih rajin memainkan si kulit bundar di lapangan UMS, dengan memakai sepatu buatannya sendiri. Sambil menyelam minum air. Sambil bermain bola, Siong Vo memasarkan produk sepatunya. Satu per satu pemain UMS tertarik, membeli, dan mengenakannya. Dari mereka, sepatu bikinan Siong Vo menyebar ke berbagai tempat.

Ketika mewarisi kendali perusahaan pada masa akhir penjajahan Belanda, Siong Vo memutuskan hanya memproduksi sepatu bola. Siong Vo melihat ada peluang bisnis yang besar dari olahraga ini. Keputusan itu ternyata tepat. Permintaan terus meningkat. Pesanan datang dari perorangan maupun toko-toko sport. Namanya dipakai sebagai merek dagang.

Kala itu Siong Vo bukan satu-satunya sepatu bola yang beredar di pasaran. Beberapa merek sepatu bola lokal maupun impor juga tersedia. Sam Tay adalah salah satu produk lokal, yang menjadi pesaing kuat Siong Vo. Sementara untuk produk impor, merek macam Adidas, Puma, dan Hummell sudah dinikmati segelintir orang di Hindia Belanda; umumnya kulit putih.

Tapi, selain kualitas, Siong Vo punya kekhasan sendiri. Ia berbahan kulit kualitas tinggi, yang membuatnya nyaman dipakai dan awet. Perekatnya juga kuat karena, menurut Alex, menggunakan lem khusus seperti yang digunakan produsen-produsen sepatu asal Jerman. Itu sebabnya harga Siong Vo lebih mahal dari sepatu bola lokal lainnya.

Pembuatan sepatu secara hand made menjadi daya tarik lainnya. Orang bisa secara khusus memesan sepatu sesuai ukuran kakinya. “Jadi begitu (sepatu) masuk (kaki) sudah pas. Nggak ada istilah kekecilan apa kelonggaran,” kata Alex.

Kualitas itu pula yang mendorong Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) memilih Siong Vo sebagai sepatu yang dikenakan para pemain timnas. Termasuk ketika Indonesia berlaga di Olimpiade Melbourne tahun 1956, penampilan timnas sepakbola Indonesia satu-satunya di ajang olahraga terakbar sejagat itu.

Di ajang itu, timnas Indonesia berhasil melaju ke babak perempatfinal dan harus berhadapan dengan Uni Soviet yang diperkuat pemain-pemain legendaris macam Lev Yashin, Igor Netto, Wduard Streltsov, dan Valentin Ivanov. Dengan mengandalkan serangan balik, Indonesia nyaris mempermalukan Soviet. Pertandingan akhirnya berakhir imbang 0-0. Untuk menentukan pemenang, digelar pertandingan play off dan Indonesia kalah telak 0-4. Soviet akhirnya jadi juara Olimpiade di cabang sepakbola. Sebuah kekalahan terhormat tapi menjadi prestasi tertinggi yang pernah dicapai timnas Indonesia.

Alex tak pernah lupa kenangan manis masa remajanya itu. Dia masih ingat para pemain timnas datang ke Senen untuk mengukur sepatu. Dia juga masih ingat ukuran sepatu beberapa pemain.

“Dulu kan, kalau mau bertanding, satu orang dikasih dua pasang. Pesan dari sini,” ujar Alex.

Momen itu juga masih mengendap di kepala Maulwi Saelan, kiper sekaligus kapten timnas di Olimpiade Melbourne. Dan tanpa segan Maulwi salut atas kualitas sepatu Siong Vo. “Setelah ada Siong Vo semua pakai Siong Vo. Sebelumnya, pakai sepatu yang keras kulitnya. Itu kalau kena kaki, waduh...,” ujar Maulwi Saelan, 89 tahun, kepada Historia.

Merek Siong Vo berkibar-kibar. Para pemain mancanegara kemudian tertarik menggunakannya. “Pemain Singapura kalau datang, tanding, satu orang bisa beli 20 pasang. Pemain Malaysia kayak Santokh Singh juga datang untuk membeli. Minimal 10 pasang dia bawa,” kata Alex. “Biasanya datang dulu, pesan nomor.”

Siong Vo tak cepat berpuas diri. Pengembangan dilakukan. Aturan sepakbola diikuti. Misalnya, setelah larangan penggunaan kulit untuk sol dan pul sepatu bola keluar sekitar 1975, Shiong Vo mulai memproduksi sepatu bersol plastik. Beberapa model sepatu juga terus dilahirkan.

“Biasanya kalau satu model nggak sukses, nggak kita ulang,” kata Alex. Model Beatle yang digunakan Maulwi Saelan cs. merupakan salah satu model paling sukses.

[pages]

Punya Penggemar Fanatik

Meski predikat leader disandang Siong Vo dalam bisnis sepatu bola lokal, problem tetap ada. Terutama masalah masalah dana.

Untuk mengembangkan usahanya, Siong Vo coba mengajukan kredit ke bank. Tapi selalu gagal. Agunan berupa toko di Senen tak mampu meyakinkan bank untuk mengucurkan kredit. Alasannya, toko itu sudah tak layak lagi. “Itu bakalan dibongkar,” ujar Alex menirukan penolakan bank. Praktis, Siong Vo menjalankan roda bisnisnya murni dari hasil penjualan.

Pada masa jayanya, produksi sepatu Siong Vo mencapai 100 pasang per hari. Meski jauh dari mencukupi permintaan pasar yang tinggi, jumlah tersebut sudah maksimal karena produksi sepatu Siong Vo tak menggunakan mesin.

“Satu tukang paling banyak enam pasang sehari,” kata Alex.

Keterbatasan dana membuat Siong Vo tak bisa menambah tenaga produksi. Dengan postur “pas-pasan” itu Siong Vo harus bersaing dengan produk-produk luar negeru yang mulai masuk pada pertengahan 1970-an. Selain pemain lama seperti Adidas, Puma, atau Hummell, merek macam Lotto atau Asics ikut meramaikan persaingan. Perlahan sepatu Siong Vo mulai ditinggalkan pemain nasional. Ia tak lagi main di segmen pasar kelas atas. Itu pun masih harus bersaing dengan sepatu-sepatu bola lokal berharga murah yang dengan kualitas apa adanya semisal merek Super Cup.

Meski harus berjuang keras, Siong Vo tetap bertahan.

Ketika Alex Sulaiman mewarisi perusahaan dari ayahnya pada 1981, dia melakukan gebrakan dengan membuat sepatu berwarna. “Orang belum bikin, saya sudah bikin duluan,” ujarnya. Namun, gebrakan itu gagal di pasaran. Mungkin mendahului zaman. Sepatu berwarna baru digandrungi akhir 1990-an.

Sadar bisnisnya bisa ambruk karena banyaknya pesaing, Alex mengubah toko Siong Vo dari toko sepatu bola menjadi toko sport (olahraga). Dengan jaminan keaslian barang-barang dagangannya, toko Siong Vo makin dikenal orang. Namun, pada 1990, tempat usahanya kena gusur –kini jadi Hotel Oasis Amir. Alex memindahkan tokonya ke Galur, sementara untuk produksi sementara dilakukan di Bogor sebelum pindah lagi ke Jalan Kramat, Jakarta. Toh, Siong Vo tak kehilangan pelanggan.

Ketika stasiun televisi swasta menyiarkan pertandingan sepakbola mancanegara, animo masyarakat terhadap sepakbola mancanegara tumbuh cepat hingga akhirnya memunculkan penggemar fanatik. Di sisi lain, atribut tim-tim mancanegara amat langka di Indonesia. Jersey, misalnya, waktu itu hanya ada yang original. Selain harganya selangit, untuk mendapatkannya pun cuma bisa dilakukan dengan pemesanan (indent).

Alex melihat hal itu sebagai peluang bisnis. Dia memproduksi jersey dan atribut-atribut tim sepakbola mancanegara bermerek Siong Vo. Insting bisnisnya terbukti benar. Jersey tim macam AC Milan, Barcelona, atau Ajax diserbu pembeli. Banyak dari mereka yang datang dari luar Jakarta. Di akhir pekan, mereka mesti mengantri untuk sekadar bisa membayar ke kasir.

Selain menjual beragam produk dari berbagai merek, toko Siong Vo tetap menjual produk andalannya: sepatu bola Siong Vo. Penggemar fanatiknya masih terus mencari hingga 1998.

“Kadang-kadang ada yang nyari-nyari sampai setengah mati,” kata Alex.

Senjakala

Kerusuhan rasial tahun 1998, yang mengiringi kejatuhan rezim Orde Baru, mengubah segalanya. Massa membakar toko Siong Vo dan ruko-ruko di sebelahnya. “Habis, sudah nggak ada apa-apa lagi. Bahan, kulit, cetakan semua taruh di sini. Habis sudah semuanya,” ujar Alex, lirih.

Meski peristiwa kelam itu menghentikan laju sejarah “sang legenda”, sepatu bola Siong Vo, Alex tak patah semangat. Dia membangun toko Siong Vo dari nol. Namun, toko Siong Vo tak lagi menjual produk buatannya sendiri. Sepatu bola, jersey, kaos, maupun aksesori tak lagi diproduksi. Selain bahan-bahan produksi ludes terbakar, Alex tak memiliki dana.

“Kepingin saya produksi lagi, kepingin bener, cuma nggak kuat. Mesti ada tiga modal,” ujar Alex.

Toko Sport Siong Vo berukuran kecil. Lebarnya hanya sekira empat meter. Selain berfungsi sebagai toko, Alex memfungsikan lantai satu untuk tempat menaruh stok dagangan. Lantai atasnya dipakai sebagai gudang untuk menyimpan bahan-bahan pembuat sepatu dan juga tempat tinggal.

Bentuknya hampir tak berubah hingga kini. Hanya, eternitnya kini sudah tak ada. Peristiwa berdarah tahun 1998 membuat Alex –beserta keluarganya– dan tokonya menjadi sasaran amuk. “Lihat aja atasnya, kosong kan sekarang,” ujarnya.

Banyaknya toko sport membuat toko Siong Vo tak seramai dulu. Ia bertahan dengan mengandalkan pelanggan lama. Alex juga membuka toko online, mengikuti perkembangan zaman, dengan harapan Siong Vo tetap bertahan. Entah sampai kapan.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK