top of page

Sepakbola Surabaya Punya Cerita

Perjuangan rakyat Surabaya untuk Indonesia lewat sepakbola. Melewati sekat-sekat rasial.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tim Hoofdklassers Soerabaija berisi pemain campuran antara Belanda, Tionghoa, dan Bumiputra. (Soerabaijasch Handelsblad, 20 Januari 1936).

1 Okt 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 19 Jun

SEDARI masa pergerakan, Surabaya sohor sebagai “dapurnya” nasionalisme. Segala segi kehidupan arek-arek Suroboyo sejak 1930-an, termasuk sepakbola, hampir selalu mengacu pada “promosi” ke-Indonesia-an.


Sepakbola jadi alat perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Permainan si kulit bundar begitu efektif untuk mengundang massa dan merekrut simpatisan. Terlebih, untuk golongan kelas dua (Timur Asing: Arab, Tionghoa) dan kelas terbawah (Bumiputera).


Pertandingan-pertandingan bal-balan jadi “senjata” politik untuk menohok Nederlandsch Indische Voetbalbond (NIVB), induk sepakbola bentukan pemerintah Hindia Belanda. Sejak 1930, NIVB mendapat rival politis, PSSI. Setiap tim di bawah masing-masing federasi itu saling bersaing mencuri hati penggila bola di semua lapisan masyarakat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Seorang kapten kapal dan dokter menulis catatan harian seputar kehidupan di Batavia.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Kolaborasi kelompok teater Belanda-Indonesia di Festival Teater Jakarta. Mengangkat repertoir eks-KNIL dengan trauma dan fantasinya.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Dokumenter pahlawan dari Fuentalbilla yang ditempa di La Masia. Memendam beban psikis di balik sifatnya yang kalem dan dingin.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Mengenal sepakbola dari ekspatriat, negeri kecil di Teluk Persia ini tampil di pentas internasional lewat Piala Dunia.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Dengan pendekatan yang kreatif, museum bukan lagi destinasi yang menjemukan.
Dengan bantuan Uni Soviet, Indonesia pernah hampir memiliki Institut Oceanografi di Ambon. Ditelantarkan Orde Baru.
Dengan bantuan Uni Soviet, Indonesia pernah hampir memiliki Institut Oceanografi di Ambon. Ditelantarkan Orde Baru.
transparant.png
bottom of page