top of page

Rupa-rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama

Aneka kisah perjalanan partisipan Piala Dunia 1930. Mulai dari akomodasi busuk hingga nasib apes ketinggalan kapal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tiga wakil tim Eropa: Prancis, Belgia, dan Rumania di geladak kapal SS Conte Verde dalam pelayarannya ke Piala Dunia 1930. (Repro Le livre official de l'equipe de France/Le Siecle des Diables Rouges).

25 Apr 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 19 Jun

NEGARA mana yang tak ingin ikut serta dalam Piala Dunia? Tingginya prestise event sepakbola empat tahunan itu membuat hampir tiap negara rela melakani tahap demi tahap kualifikasi untuk bisa mengikutinya.


Padahal, ketika Piala Dunia pertama dihelat di Uruguay pada 13-30 Juli 1930, banyak negara, khususnya asal benua Eropa, ogah berpartisipasi. Selain alasan jarak yang terpisah bentangan Samudera Atlantik, perkara finansial jadi pengganjal lantaran masih terdampak depresi ekonomi. Hanya empat negara Eropa yang ikut serta: Prancis, Rumania, Yugoslavia, dan Belgia.


Selain berkat jasa lobi-lobi Presiden FIFA Jules Rimet, keempat negara itu berkenan datang karena akomodasinya, mulai dari perjalanan sampai kebutuhan mereka di Uruguay, ditanggung panitia pelaksana tuan rumah. Ketiga tim itu, termasuk Rimet dan tiga ofisial pertandingan, menyeberangi Atlantik dengan kapal pesiar SS Conte Verde yang dicarter panitia pelaksana tuan rumah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page