top of page

Ring Kehidupan Max Schmeling

Ogah dikenang sebagai simbol supremasi ras Arya, Max Schmeling mati-matian menganvaskan ideologi Nazi di atas ring kehidupannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Maximilian Adolph Otto Siegfried 'Max' Schmeling dikenang sebagai petarung penentang Adolf Hitler (Foto: Library of Congress)

3 Sep 2020
7 menit membaca

Diperbarui: 22 Feb

MAX Schmeling hampir tak mengenali negeri kelahirannya saat kembali dari Amerika Serikat pada suatu hari di bulan April 1933. Sejauh mata memandang, Schmeling melihat spanduk dan bendera swastika di hampir setiap sudut kota Berlin, Jerman. Salah seorang kawannya kala santap makan malam di salah satu restoran terpopuler di kota itu menyadarkan Schmeling bahwa Jerman yang dahulu bukanlah yang sekarang.


Selain bertebaran banyak spanduk dan panji Nazi, kota-kota besar di Jerman selalu diramaikan parade-parade barisan Sturmabteilung (SA, paramiliter Partai Nazi). Jika orang lain larut dalam histeria menyambut Adolf Hitler menjadi kanselir sejak Januari 1933, tidak begitu bagi Schmeling.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page