top of page

Pesan Bung Karno dan Rujak Diponegoro

Bung Karno ingin para atlet mencontoh Diponegoro. Berjuang melawan Belanda meski hanya sarapan sederhana berupa rujak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno di tengah-tengah para atlet Indonesia jelang Asian Games II 1954 di Manila, Filipina. (Majalah Aneka, No. 7 Tahun V).

16 Agu 2018
3 menit membaca

KENDATI upacara pembukaan Asian Games XVIII Jakarta-Palembang 2018 baru akan diresmikan 18 Agustus 2018 mendatang, beberapa cabang yang mengikutsertakan para atlet kita sudah digulirkan. Antara lain, sepakbola putra sejak 10 Agustus, bola tangan sejak 13 Agustus, dan basket 5x5.


Mereka berlaga dengan semangat penuh dengan diiringi pesan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sepekan lalu, 8 Agustus 2018. Harapan terbesarnya, 938 atlet yang akan turun di 40 cabang mampu merealisasikan target minimal posisi 10 besar di klasemen akhir.


 "Perolehan 16 medali emas adalah minimal, artinya kalau tambah banyak boleh, kurang satu pun tidak boleh, jelas itu," tegas Jokowi di halaman Istana Negara, Jakarta sebagaimana dikutip laman Kementerian Pemuda dan Olahraga, Rabu 8 Agustus 2018.


Selain prestasi, mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu juga berpesan, para atlet agar selalu menjaga nama baik Indonesia sebagai tuan rumah. “Saya titip, kebanggaan negeri ini ada di saudara-saudara seluruh atlet yang akan berlaga dan yakinlah 263 juta masyarakat Indonesia berada di belakang dan mendoakan saudara-saudara semuanya untuk berkumandangnya lagu Indonesia Raya dan berkibarnya Merah-Putih setelah adanya kemenangan setelah saudara bertanding. Jagalah nama baik negara bertandinglah secara sehat dan fair. Selamat berjuang," tutup Jokowi sekaligus secara resmi melepas Kontingen Indonesia.


Pesan presiden senada dengan yang disampaikan Presiden Sukarno kala melepas para atlet nasional jelang Asian Games II 1954 di Manila, 30 April 1954.


Presiden Joko Widodo di tengah-tengah para atlet kontingen Indonesia di Asian Games 2018. (kemenpora.go.id)
Presiden Joko Widodo di tengah-tengah para atlet kontingen Indonesia di Asian Games 2018. (kemenpora.go.id)

Pesan Bung Karno Meneladani Diponegoro


Bung Karno berharap para atlet yang diberangkatkan bisa menjaga nama baik negara dengan sikap sportif dan kesederhanaan. Mengingat, di tahun itu republik belum lama lepas dari rongrongan Belanda namun masih direcoki Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di beberapa daerah. Bung Karno tak ingin ada sikap dari para atlet yang menimbulkan kecemburuan di tengah rakyat yang tengah susah. Terlebih, mereka diberi sejumlah fasilitas khusus demi menunjang prestasi.


“Agar kamu di Manila nanti dapat memberi prestasimu sebaik-baiknya. Baik individueel, maupun team, ya bahkan prestasi sebagai putera Indonesia. Jangan lupa, bahwa keberangkatanmu ke Manila itu oleh rakyat Indonesia dicantumkan pengharapan sebesar-besarnya kepadamu akan hasilnya pertandingan. Hendaknyalah nanti kamu dalam berjuang di Manila dengan bekal batin perjuangan,” cetus Bung Karno, dikutip majalah Aneka Nomor 7 Tahun V, 1 Mei 1954.


Bung Karno menyampaikan pesan itu di hadapan kontingen di Training Centre, Jakarta. Bung Besar menggarisbawahi sikap kesederhanaan yang dianalogikannya dengan sikap sederhana Pangeran Diponegoro sebelum berperang.


“Bahwa kita harus menjadi bangsa yang ekonomis weerbaar, militair weerbaar, dan geestelijk weerbaar. Saya tekankan, bahwa bangsa Indoensia mencapai kebesarannya justru di dalam kesederhanaan. Suatu contoh, Pangeran Diponegoro tidak pernah makan bestik. Tiap-tiap hari pagi beliau hanya minum kopi dicampur air santan kelapa. Dan jika Pangeran Diponegoro hendak ke medan peperangan, lebih dulu makan rujak. Dengan suam-suam ‘kepedesan’, Diponegoro menyerbu kubu-kubu pertahanan Belanda,” imbuhnya lagi.


 Presiden Sukarno (kanan) memberi pesan dan wejangan kepada kontingen Indonesia jelang Asian Games 1954 di Training Centre, Jakarta. (MajalahAneka, Nomor 7 Tahun V)
Presiden Sukarno (kanan) memberi pesan dan wejangan kepada kontingen Indonesia jelang Asian Games 1954 di Training Centre, Jakarta. (MajalahAneka, Nomor 7 Tahun V)

Kemunduran Prestasi


Sayang, meski sudah dihujani pesan nan menggebu-gebu sampai mengungkit-ungkit kebiasaan Pangeran Diponegoro, para atlet Indonesia gagal memberi hasil lebih baik sebelumnya, di Asian Games I New Delhi 1951.


Di New Delhi, tulis buku Olahraga dalam Perspektif Sejarah: Periode 1945-1965 terbitan Ditjen Olahraga Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2004, para pejuang olahraga Indonesia mampu membawa pulang lima medali perunggu. Masing-masing dari Sudarmojo pada nomor lompat tinggi putra, Hendarsin pada lompat jangkit, Bram Matulessy pada lempar lembing, Annie Salamun pada lempar cakram putri, dan tim relay 400 meter putri (Darwati, Lie Djing Nio, Triwulan, Surjowati).


Di Asian Games II 1954 Manila, perolehan medali Indonesia justru menukik. Salah satu ofisial kontingen kala itu, Mangomban Ferdinand Siregar dalam biografinya, M. F. Siregar: Matahari Olahraga Indonesia, berkisah nahwa Indonesia hanya mampu pulang dengan tiga medali perunggu. Ketiganya dipetik Lukman Saketi dari cabang menembak nomor rapid fire pistol putra, Tio Ging Hwie dari angkat besi kelas ringan putra, dan tim polo air putra.


Posisi Indonesia di klasemen medali akhir kian terpuruk karena jumlah negara peserta bertambah. Di Asian Games I dengan sembilan negara kontestan, Indonesia bercokol di posisi tujuh, di bawah Ceylon (kini Sri Lanka), Filipina, Iran, tuan rumah India, dan Jepang sebagai juara umum. Sementara di Asian Games II, Indonesia berkubang di posisi 12 dari 13 negara peserta.*



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Pesta petasan pada malam tahun baru di ibukota malah menjadi bencana. Presiden Soeharto sampai turun tangan.
Pesta petasan pada malam tahun baru di ibukota malah menjadi bencana. Presiden Soeharto sampai turun tangan.
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
Lebih dari 80 nyawa jurnalis menguap di tangan aparat Israel. Tak sekalipun pelakunya diseret ke muka hukum.
Lebih dari 80 nyawa jurnalis menguap di tangan aparat Israel. Tak sekalipun pelakunya diseret ke muka hukum.
Laporan tentang kekerasan terhadap perempuan terus meningkat tiap tahun. Berbagai usaha telah dilakukan, tapi payung hukum belum ada.
Laporan tentang kekerasan terhadap perempuan terus meningkat tiap tahun. Berbagai usaha telah dilakukan, tapi payung hukum belum ada.
transparant.png
bottom of page