Mengucilkan Israel di Arena Olahraga (Bagian II – Habis)

Sejak didepak dari Asian Federation pada 1978 Israel tak pernah lagi diizinkan mengikuti Asian Games.

1513157342000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Mengucilkan Israel di Arena Olahraga (Bagian II – Habis)
Pebulutangkis Israel, Misha Zilberman (kanan memunggungi) sempat bisa tampil di Indonesia pada 2015/Foto: badmintoneurope.com

DENGAN sokongan Amerika Serikat, Israel bisa berbangga diri dan tak kesulitan menindas Palestina. Tapi, negeri itu harus membayar mahal dengan pengucilan. Di dunia olahraga, Israel mengalami pengucilan tak hanya di arena sepakbola tapi juga di Asian Games hingga Olimpiade.

Kontroversi besar terjadi ketika Israel ditolak berpartisipasi dalam Asian Games IV di Jakarta, 1962. Pemerintah Indonesia, yang gencar mendukung kemerdekaan Palestina, menolak memberi visa kepada kontingen Israel meski Indonesia harus membayanya dengan skorsing dari IOC (Komite Olimpiade Internasional) pasca-perhelatan Asian Games 1962. (Baca: Politik Olahraga Negara Dunia Ketiga).

Penolakan itu menjadi pengucilan pertama terhadap Israel setelah merdeka pada 1948. Sebelumnya, Israel sama sekali tak mengalami boikot ketika mengikuti Asian Games II Manila 1954 maupun Asian Games III Tokyo 1958. Setelah Asian Games IV pun Israel tetap bebas berpartisipasi dalam Asian Games 1966 dan 1970 Bangkok, Thailand.

Pada Asian Games 1974 di Teheran, Israel mengalami semi-boikot. Kontingen negara itu tetap diperbolehkan mengikuti gelaran oleh tuan rumah, tapi beberapa atletnya mengalami boikot. Para pemboikot menolak bertanding melawan atlet-atlet Israel dengan mengatasnamakan solidaritas terhadap Palestina yang sejak 1948 dirongrong Israel.

“Terlepas dari protes negara-negara Arab, Iran mengizinkan Israel berpartisipasi. Namun negara-negara Arab dan beberapa atlet dari negara-negara lain menolak partisipasi di sejumlah cabang yang diikuti atlet-atlet Israel,” tulis George H Sage dalam Globalizing Sport: How Organizations, Corporations, Media and Politics are Changing Sports.

Pengucilan terhadap Israel kian nyata setelah Asian Games 1974. Jelang Asian Games 1978, yang kembali dihelat di Bangkok, Israel benar-benar diboikot. Pemboikotan bukan berasal dari tuan rumah, sebagaimana di Asian Games 1962 di Jakarta, tapi langsung dari Asian Games Federation (AGF).

AGF mengganjar sanksi sementara buat Israel untuk tampil di Asian Games dengan alasan keamanan. Alasan itu membuat dongkol Presiden Komite Olimpiade Israel Joseph Inbar. “Alasan utamanya karena federasi (AGF) memiliki (dewan) tujuh negara Arab serta China dan mereka ingin mendepak kami,” ujarnya seperti dilansir suratkabar St Petersburg Times, 26 Juli 1976.

Persekusi terhadap Israel makin parah dengan keluarnya keputusan rapat Dewan AGF, 26-27 November 1981. Keputusan itu mengeluarkan Israel dari Dewan Olimpiade Asia yang hendak dibentuk. “AGF akan direorganisasi menjadi Dewan Olimpiade Asia jelang Asian Games 1982 di New Delhi, India, di mana mereka tidak akan melibatkan Israel di dalamnya,” tulis koran Ottawa Citizen, 10 Desember 1981.

Kebijakan penolakan Israel itu makin kuat dengan keluarnya kebijakan IAAF (Federasi Atletik Amatir Internasional) yang dihasilkan dari kongresnya pada 4 September 1983. “Voting Kongres menghasilkan 374-10 untuk keputusan mendukung Asian Games melarang Israel tampil di Asian Games 1982,” tulis New York Times, 5 September 1982.

Akibatnya, atlet- atlet Israel kian kesulitan tampil di Asia. Sebelumnya, mereka ditolak ikut dalam beberapa ajang regional semisal Mediterranean Games (sejak 1951) dan Arab Games (sejak 1974).

Mereka hanya bisa tampil dalam Olimpiade. Itu pun masih “diselipkan” sebuah insiden yang menewaskan 11 atlet Israel di Olimpiade 1972 Munich, Jerman. “BSO (Organisasi September Hitam), sebuah organisasi militan Palestina, menyandera para atlet Israel di Kampung Atlet (Olimpiade Munich). Mereka menuntut pembebasan 234 tahanan Palestina di Israel. Sebelas atlet Israel akhirnya tewas dalam upaya pembebasan,” ujar M Amara dalam Sport, Politcs and Society in the Arab World.

Hingga kini, beragam pemboikotan masih terus menghampiri Israel. Mayoritas boikot datang dari negara partisipan meski ada juga dari atlet secara individu. Boikot terjadi tak hanya di Olimpiade, tapi terus meluas ke beragam kejuaraan dunia dan Asia sampai sekarang.

Kejuaran-kejuaraan judo, taekwondo, karate, tinju, basket, tenis, tenis meja, gulat, anggar, renang, voli, voli pantai, biliar, hingga bulutangkis menjadi ajang boikot itu. Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 di Jakarta mungkin menjadi satu-satunya ajang yang memperbolehkan atlet Israel tampil. Lewat campur tangan BWF (Federasi Bulutangkis Dunia), pebulutangkis tunggal putra Israel Misha Zilberman akhirnya mendapatkan visa untuk bisa datang ke Indonesia.

Asian-Games
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK