Hadiah Juara untuk Mama

Gelar juara yang diraih Lius Pongoh dengan sukacita dan dukacita. Hadiah untuk ibunda tercinta.

1546697032080
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Hadiah Juara untuk Mama
Mata Lius Pongoh berkaca-kaca saat mengenang momen 1984, di mana ia memenangi Indonesia Open edisi pertama sekaligus kehilangan orang yang dikasihinya (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

WAJAH Lius Pongoh, pebulutangkis era 1980-an, seketika berubah. Senyum yang menghiasi wajahnya menghilang berganti kesedihan ketika mengenang keikutsertaannya dalam Indonesia Open 1984. Sambil bercerita, mata Lius berkaca-kaca.

“Ya, di ajang Indonesia Open (17-22 Juli 1984) itu momen manis-pahit buat saya. Di bulan yang sama, mama saya meninggal,” ujar Lius lirih saat ditemui Historia di PB Djarum, Kamis, 3 Januari 2019. “Mama saya namanya mirip pahlawan perempuan, Kartini, tapi enggak ada (huruf) ‘i’-nya, jadi namanya Kartin,” lanjut pria yang sejak 2011 bernaung di bawah PB Djarum sebagai Administration and Support Coordinator.

Lius lahir dari pasangan Kartin dan Darius Pongoh di Jakarta 3 Desember 58 tahun lampau. Meski ayahnya pelatih bulutangkis klub PB 56, bukan berarti serta-merta Lius doyan olahraga tepok bulu. Lius kecil justru bercita-cita jadi tentara atau jadi praktisi beladiri.

“Kebetulan sepupu dari ayah saya ada yang (tentara) Marinir, ada juga yang di Angkatan Udara (TNI AU). Kalau Marinir kan jago berenang di laut. Kalau AU kan bisa menerbangkan pesawat sampai ke luar negeri. Nah, kalau olahraga beladiri senang karakte, kungfu, taekwondo. Tapi impian masa kecil itu tidak ada yang kesampaian,” ujar ayah empat putra tersebut.

Karena tak didukung orangtua, Lius lamat-lamat melupakan cita-cita itu. Bulutangkis jadi satu-satunya opsi untuk menyalurkan energi masa kecil. Pada usia enam tahun Lius masuk ke PB Anggara, klub naungan Bidang Anggaran Departemen Keuangan, sebelum pindah ke klub PB Garuda Jaya dua tahun kemudian. Di usia sembilan tahun, Lius akhirnya menetap di PB Tangkas tempat ayahnya melatih.

Lius Pongoh meniti karier di PB Tangkas dan berlabuh di PB Djarum di masa pensiunnya (Foto: Randy Wirayudha/Historia)

Mengutip Broto Happy Wondomisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia, Lius tak hanya mengasah kemampuan di klub tapi juga menimba ilmu olahraga di SMP, kemudian SMA Ragunan. Sejak itu Lius berkembang pesat. Prestasinya diawali dari juara tunggal putra Kejurnas Junior 1978. Setahun berselang, Lius ditarik ke Pelatnas PBSI di Senayan meski masih sekolah di SMA Ragunan.

Baca juga: Kala jenderal rangkap jabatan membenahi PBSI hingga mendirikan Pelatnas Cipayung

Di pelatnas, Lius tak hanya bermain di nomor tunggal tapi juga ganda. Sempat jadi semifinalis Kejuaraan Dunia 1980, Lius berhasil merengkuh gelar internasional pertamanya, Swedish Open 1981. Di nomor ganda, Lius yang berpasangan dengan Christian Hadinata sukses menjuarai Japan Open 1981 dan Swedish Open 1982.

Sayangnya di pertengahan tahun 1982 Lius mengalami cedera pinggang dan harus absen dari pelatnas cukup lama. Baru pada 1984 Lius turun gunung lagi. Tapi Lius langsung juara di Indonesia Open, momen yang membuatnya sedih karena hampir dalam waktu bersamaan juga mesti berduka.

Sukacita Disambung Dukacita

Lius tak pernah menyangka bisa menang. Di babak penyisihan, dia satu grup dengan raksasa Malaysia Misbun Sidek. “Saya enggak pernah bisa menang lawan Misbun. Tapi saya beruntung, Misbun lebih dulu dikalahkan Richard (Mainaky), lalu berikutnya saya mengalahkan Richard,” sambung Lius.

Beban Lius tak hanya datang dari lapangan. Saat Lius mengikuti ajang itu, Kartin ibunya dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena sakit kanker pankreas. Maka setiap Lius habis bertanding selalu kembali menemani ibunya. “Richard (Mainaky) yang tiap malam menemani saya tiap malam ke rumah sakit. Paginya baru pulang lagi,” kenangnya. Lius dan Richard sudah karib semenjak ayah Lius melatih Richard di PB 56.

Kondisi ibunya yang sakit keras membuat konsentrasi Lius nyaris berantakan. Tapi Lius berhasil mengatasinya. “Kuncinya sih jangan terlalu memikirkan pertandingan. Biar tidak tegang sebelum main. Saya mikirnya, ya sudahlah, main saja. Mau bagaimana lagi? Tidur dan makan saja sudah enggak jelas, apalagi mikir untuk bisa menang,” tambah Lius.

Baca juga: Fung Permadi menyusul ibu sekaligus meretas kebintangan di Taiwan

Tak dinyana, “jurus” itu justru membuat Lius melaju. Di perempatfinal, Lius mesti berhadapan dengan maestro Liem Swie King. Sebelum pertandingan, ibunya sudah punya firasat bahwa putranya akan menang dengan susah payah dari sang maestro.

“Waktu itu mama kondisinya sudah enggak terlalu bagus. Tapi beliau pernah bilang, ‘Nyong (panggilan kecil Lius), nanti kamu akan mengambil batu tapi susah ambilnya. Ambilnya memang susah sekali tapi nanti pasti dapat’. Saya bilang, ya saya kan mau main bulutangkis, bukan ambil batu,” kenangnya dengan mata kian berkaca-kaca.

Lius baru insyaf akan kata-kata ibunya saat bikin gempar Istora Senayan, menghadapi King. Sempat kalah di set pertama, Lius yang juga hampir kalah di set kedua justru mampu membalikkan keadaan hingga menang lewat tiga set.

“Padahal di gim kedua saya sudah ketinggalan 1-14. Enggak mungkin menang sebenarnya. Saya ingat-ingat, mungkin itu maksud kata-kata mama saya tentang mengambil batu yang susah. Saya harus main tiga gim untuk kalahkan Koh Swie King,” imbuh Lius. “Motivasi saya waktu itu, ya enggak mau kalah saja sebelum benar-benar berakhir.”

Baca juga: Adik Rudy Hartono yang berganti bendera dari Indonesia menjadi Amerika

Di semifinal, Lius membekap raksasa Denmark Morten Frost Hansen. Lius akhirnya menjuarai turnamen setelah di final menjungkalkan Hastomo Arbi. “Saya ingin kasih hadiah buat mama yang sedang sakit keras bahwa ini, ini lho, Ma, saya bisa juara,” kata Lius.

Ironis, keinginan Lius tak bisa terwujud. Tuhan berkehendak lain. “Waktu saya jadi juara, besoknya mama meninggal. Enggak sempat bisa kasih tahu saya juara,” tandas Lius.

Bulutangkis
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
2 Suka
BOOKMARK