Diperbarui: 21 Okt
MALAM itu, 20 Oktober 1982, belasan ribu suporter Spartak Moskow berbondong-bondong datang ke Grand Arena of Central Lenin Stadium (kini Stadion Luzhniki), Moskow, Rusia, kendati cuaca dingin menusuk tulang. Namun euforia kemenangan yang diraih tim kesayangan mereka berkalang duka getir hingga menjadi bencana olahraga terbesar di Rusia sampai saat ini.
Pataka 41 tahun lampau itu bermula dari laga Spartak Moskow menjamu tim tamu asal Belanda, HFC Haarlem, di leg pertama babak kedua UEFA Cup musim 1982-1983 di stadion berkapasitas maksimal 104 ribu penonton itu. Karena suhu mencapai minus 10 derajat celcius di malam itu, panitia yang mulanya ingin menyediakan 82 ribu tiket, mengubah keputusannya di saat-saat akhir bahwa hanya sekitar 16 ribu tiket yang mereka sediakan.
“Musim dingin Rusia datang lebih awal di tahun 1982, membuat tangga sektor timur Stadion Lenin berselimut es. Tidak lebih dari 15 ribu suporter yang datang, ditambah sekitar 100 suporter Belanda,” kenang sejarawan Inggris, Prof. Jim Riordan yang ia tuangkan dalam tulisan “Moscow’s Secret Tragedy: Hundreds of Fans Crushed to Death” yang dimuat The Guardian, 4 Mei 2008.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















