top of page

Etalase Nazi di Olimpiade

Hitler menyulap pesta terakbar olahraga sebagai panggung propaganda Nazi. Dua tradisi dalam olimpiade itu menjadi warisan yang bertahan hingga kini.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Poster resmi Olimpiade Berlin 1936 di Deutsches Fussballmuseum, Dortmund, Jerman. (Randy Wirayudha/Historia.ID).

22 Feb 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Apr

TERPILIHNYA Berlin menjadi tuan rumah Olimpiade 1936 mendapat sambutan antusias dari Adolf Hitler yang sejak 1933 berkuasa lewat ketetapan Ermachtigungsgesetz. Pemimpin fasis itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi tuan rumah Olimpiade untuk mempropagandakan Naziisme, yang di dalamnya memuat supremasi ras Arya, kepada dunia.


Berlin terpilih sebagai tuan rumah setelah memenangkan voting rapat petinggi International Olympic Committee (IOC) pada 1931, saat Hitler masih belum berkuasa. Berlin menyingkirkan Barcelona (Spanyol), Alexandria (Mesir), Buenos Aires (Argentina), Dublin (Irlandia), Helsinki (Finlandia), Lausanne (Swiss), Rio de Janeiro (Brasil), Budapest (Hungaria), Roma (Italia), dan tiga kota Jerman lain: Koln, Frankfurt, dan Nurnberg.


Hitler langsung mempersiapkan Olimpiade Berlin dengan serius, tak peduli adanya boikot dari Spanyol dan Uni Soviet yang tak terima keputusan IOC. Meski ekonomi Jerman belum pulih dari kehancuran akibat Perang Dunia I, Hitler mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk membuat olimpiade-nya lebih akbar dari Olimpiade 1932 di Los Angeles.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page