Etalase Nazi di Olimpiade

Hitler menyulap pesta terakbar olahraga sebagai panggung propaganda Nazi. Dua tradisi dalam olimpiade itu menjadi warisan yang bertahan hingga kini.

1519306354000
  • BAGIKAN
Etalase Nazi di Olimpiade
Poster resmi Olimpiade Berlin 1936 di Deutsches Fussballmuseum, Dortmund, Jerman/Foto: Randy Wirayudha (Historia)

TERPILIHNYA Berlin menjadi tuan rumah Olimpiade 1936 mendapat sambutan antusias dari Adolf Hitler yang sejak 1933 berkuasa lewat ketetapan Ermachtigungsgesetz. Pemimpin fasis itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi tuan rumah Olimpiade untuk mempropagandakan Naziisme, yang di dalamnya memuat supremasi ras Arya, kepada dunia.

Berlin terpilih sebagai tuan rumah setelah memenangkan voting rapat petinggi International Olympic Committee (IOC) pada 1931, saat Hitler masih belum berkuasa. Berlin menyingkirkan Barcelona (Spanyol), Alexandria (Mesir), Buenos Aires (Argentina), Dublin (Irlandia), Helsinki (Finlandia), Lausanne (Swiss), Rio de Janeiro (Brasil), Budapest (Hungaria), Roma (Italia), dan tiga kota Jerman lain: Koln, Frankfurt, dan Nurnberg.

Hitler langsung mempersiapkan Olimpiade Berlin dengan serius, tak peduli adanya boikot dari Spanyol dan Uni Soviet yang tak terima keputusan IOC. Meski ekonomi Jerman belum pulih dari kehancuran akibat Perang Dunia I, Hitler mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk membuat olimpiade-nya lebih akbar dari Olimpiade 1932 di Los Angeles.

Andrew Nagorski dalam Hitlerland: American Eyewitness to the Nazi Rise to Power menyebutkan, Hitler membuat megaproyek renovasi Deutsches Stadion menjadi Olympiastadion yang mampu menampung 110 ribu penonton. Dia menunjuk Menteri Olahraga Hans von Tschammer und Osten sebagai penanggungjawab dan Albert Speer bersama kakak-adik Werner dan Walter March sebagai arstiteknya. Proyek yang memakan biaya 43 juta Reichsmark itu berjalan selama dua tahun.

Bukan hanya itu, Hitler juga membangun Reichssportfeld atau kompleks olahraga di sekeliling Olympiastadion. Di antaranya, arena Maifeld (kapasitas 50 ribu orang), amfiteater Waldbuhne (25 ribu), dan fasilitas serta venue lain untuk cabang-cabang renang, berkuda, dan hoki di sisi utara. Tak ketinggalan, pembangunan wisma atlet di Elstal, Wustermark, sebuah distrik 30 kilometer di barat Berlin.

Hitler juga mengucurkan tujuh juta dolar Amerika untuk produksi film tentang olimpiade. Film itu digarap sineas Leni Refenstahl.

Agar hegemoni Nazi lebih terasa, Hitler membuat siaran televisi Olimpiade Berlin yang menjangkau puluhan negara. Menurut David Clay Large dalam Nazi Games: The Olympics of 1936, Hitler menggunakan peralatan siaran Telefunken untuk menayangkan 70 jam perhelatan olimpiade yang digelar 1-16 Agustus 1936. Transmisi tayangannya menjangkau 41 negara melalui stasiun TV Paul Nipkow. Olimpiade Berlin 1936 menjadi hajatan olahraga multicabang akbar pertama yang disiarkan stasiun televisi.

Sebagai medium propaganda Naziisme, Hitler melarang olimpiade itu diikuti atlet Yahudi, termasuk di kontingen Jerman. Dia menginginkan kontingen Jerman hanya berisi atlet ras Arya. Kecuali atlet anggar Jerman Helene Mayer, yang akhirnya dimasukkan dalam kontingen karena rambut pirang dan mata birunya membuat dia dianggap ras Arya meski “setengah” darahnya Yahudi, atlet-atlet tuan rumah seperti petinju Erich Seeling, petenis Daniel Prenn, hingga peloncat tinggi Gretel Bergmann akhirnya dicoret dari kontingen karena berdarah Yahudi.

Kepada para atlet negara lain, pemerintahan Hitler kemudian mengendurkan aturan dengan mengizinkan beberapa negara membawa atlet Yahudi mereka. Pun begitu, banyak atlet tetap tak boleh tampil. Dua pelari estafet AS, Sam Stroller dan Marty Glickman, mesti merelakan posisi mereka digantikan Jesse Owens dan satu pelari lain karena keturunan Yahudi. (Baca: Konsekuensi Persahabatan Atlet “Nazi”).

Terlepas dari soal rasisme, setelah semua persiapan rampung, Hitler puas dan membuka olimpiade dengan memamerkan kemegahan balon udara LZ 129 Hindenburg yang terbang di atas Olympiastadion. Sekira tiga ribu merpati dilepas bersamaan dengan defile 5000 atlet dari 51 negara peserta –termasuk AS yang batal memboikot– mengitari stadion dan memberikan gestur Olympic Salute atau gerak tangan yang nyatanya menyerupai salam Nazi.

“Saya menyatakan, perlombaan Berlin, merayakan Olimpiade ke-11 di era modern, resmi dibuka,” kata Hitler dalam pidatonya, dikutip Philip Gavin dalam The Triumph of Hitler. Api abadi olimpiade dinyalakan pembawa obor dan disusul pengumandangan himne olimpiade gubahan komposer Jerman Richard Strauss.

Olimpiade Berlin berjalan sukses. Hitler berhasil mendapatkan citra supremasi ras Arya yang diinginkannya. Terlebih, Jerman menjadi juara umum dengan 33 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu. “Olimpiade itu menjadi etalase Hitler. Keuntungan besar dalam propaganda baginya,” ujar sejarawan Barbara Burstin, dilansir Time, 1 Agustus 2016.

Lepas dari beragam kontroversi yang mengitarinya, olimpiade itu mewarisi beberapa hal yang masih bertahan hingga kini. Dua di antaranya, siaran televisi dan tradisi obor olimpiade. “Dua hal itu menetapkan bab baru dalam olimpiade yang kita ketahui sekarang. Sebagaimana juga keterlibatan politik dan nasionalisme ekstrem dan itu berlanjut sampai sekarang. Tidak diragukan lagi bahwa nasionalisme merupakan bagian yang paling fundamental dari itu semua,” lanjut Large.

Meski penyalaan api olimpiade sudah eksis sejak Olimpiade Amsterdam 1928, tradisi pawai obor pertama itu digagas Carl Diem (penasihat politik Hitler). Pawai dimulai dari Gunung Olimpus di Yunani menuju Berlin dengan jarak 3.187 kilometer. Obor itu dibawa bergantian oleh 3.331 atlet selama 12 hari melintasi enam negara: Yunani, Bulgaria, Yugoslavia, Hungaria, Cekoslovakia, Austria dan Jerman. Atlet atletik Jerman, Fritz Schilgen terpilih jadi pembawa obor terakhir sebelum disulut ke wadah api abadi di Olympiastadion.

“Pertandingan secara ksatria dan sportif membangkitkan karakter terbaik manusia. Karakter yang bukan memisahkan, melainkan menyatukan para peserta dalam satu pemahaman dan respek. Juga membantu menyambung semangat perdamaian antarnegara. Itu alasannya kenapa api olimpiade tak boleh padam,” ungkap Hitler, dikutip David Arscott dalam The Olympics: A Very Peculiar History.

  • BAGIKAN
1 Suka
BOOKMARK