- 15 Mar 2011
- 5 menit membaca
Diperbarui: 15 Des 2025
USIANYA 87 tahun. Tapi kesehatannya terbilang masih baik. Dia masih suka minum kopi. Bicaranya masih lancar. Hanya kaki kirinya saja lumpuh. Dia pun hanya bisa berbaring di ranjang, di sebuah kamar berukuran 3 x 4 meter, di rumah anak seorang teman di Jalan Tegalan, Matraman, Kampung Melayu, Jakarta Pusat.
Awal Februari lalu, bersama beberapa teman, saya menjenguknya. Walau sakit, dengan bersemangat dia menjawab tentang gerakan perempuan saat itu. Bahkan dia sempat menantang begini, “Ayo mau tanya apa lagi?”
Umi Sarjono lahir di Semarang pada 24 Desember 1923. Dia mengenyam pendidikan di Semarang sampai kuliah di Akademi Sosial Politik, lalu melanjutkan sekolahnya di Jakarta pada 1950-an. Di masa Jepang, Umi membuka warung di depan markas tentara Peta, yang digunakan sebagai pos penghubung antara para aktivis di markas itu dengan kelompok gerakan komunis bawah tanah. Dia sendiri dan suaminya, Sukisman (seorang pemimpin PKI), menjadi anggotanya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















