Palestine Walk di Bandung

Satu lagi bentuk dukungan Indonesia kepada perjuangan kemerdekaan Palestina.

1539451145733
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Palestine Walk di Bandung
Menlu Retno Marsudi didampingi Menlu Palestina Riyad al-Maliki meresmikan Palestine Walk di Bandung, Sabtu, 13 Oktober 2018. (Dok. Kemlu RI).

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki dan Walikota Bandung Oded M. Danial, meresmikan Palestine Walk: Road to Freedom, taman sepanjang 100 meter di Jalan Alun-alun Timur, Bandung, Sabtu (13/10/2018).

“Palestine Walk menggambarkan dukungan dan komitmen masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung terhadap perjuangan rakyat Palestina dan sebagai pengingat agar semangat perjuangan tersebut tetap beresonansi di hati kita. Dukungan bangsa Indonesia tidak akan pernah luntur hingga rakyat Palestina memperoleh kemerdekaannya. Palestina selalu ada dalam napas diplomasi Indonesia,” kata Retno Marsudi dikutip dari kemlu.go.id.

Acara selanjutnya talkshow di Museum Asia Afrika yang dihadiri sekitar 400 mahasiswa. Maliki menyampaikan terima kasih atas persaudaraan yang diberikan Indonesia. Dia yakin Indonesia akan menjadi suara bagi Palestina di Dewan Keamanan PBB.

Oded M. Danial, Riyad al-Maliki, dan Retno Marsudi dalam peresmian Palestine Walk di Bandung. (Dok. Kemlu RI).

Setelah di Bandung, acara Solidarity Week for Palestine (dari Indonesia untuk Palestina) kemudian diadakan di Jakarta berupa walk for peace and humanity bersamaan dengan car free day di Wisma Mandiri Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Esoknya, Maliki akan memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Salemba. Maliki juga dijadwalkan bertemu Presiden Joko Widodo dan DPR RI.

Pembuatan Palestine Walk di Bandung tentu terkait peran Indonesia dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 1955. Sebelum KAA, pada 1953 Achmad Subardjo, mantan menteri luar negeri yang menjadi duta besar keliling, menyampaikan sumbangan Indonesia sebesar 60 ribu dolar Amerika untuk Palestine Relief Fund (Sumbangan Pengungsi Palestina).

Baca juga: Sumbangsih pertama Indonesia untuk Palestina

Dalam pidato pembukan KAA, Presiden Sukarno mengatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Palestina, Vietnam, Aljazair, dan seterusnya. Oleh karena itu, Sukarno-Hatta tak menyambut tawaran pembukaan diplomatik dari Israel ketika Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda pada akhir tahun 1949.

Baca juga: Israel mengakui kedaulatan Indonesia

Soal kemerdekaan Palestina jadi agenda pembahasan dalam rapat tertutup bidang politik KAA. Sekretaris Jenderal KAA, Roeslan Abdulgani, dalam The Bandung Connection, Konferensi Asia Afrika di Bandung Tahun 1955, mengungkapkan bahwa pembahasan Palestina menyerempet ke persoalan zionisme yang menimbulkan perselisihan pendapat di antara delegasi.

Misalnya, Mohammad Fadhel Jamali, ketua delegasi Irak, menyamakan bahaya zionisme dengan kolonialisme dan komunisme. Meski semua delegasi menyetujui kemerdekaan Palestina, pernyataan Fadhel itu memanaskan suasana rapat. Delegasi Arab, Pakistan, Afghanistan, dan Iran pun mengutuk zionisme internasional.

Tanggapan datang dari Burma (Myanmar) dan India yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru keberatan menyamakan zionisme dengan kolonialisme dan imperalisme. Tetapi dia mengakui zionisme memang adalah suatu gerakan agresif.

Baca juga: Enampuluh Tahun KAA membahas kemerdekaan Palestina

Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai mencoba mendinginkan suasana. Dia menyetujui resolusi KAA supaya semua resolusi PBB tentang Palestina dilaksanakan dengan syarat kekuatan luar, seperti Amerika Serikat, tak boleh mencampurinya. Dia mengusulkan penyelesaian Palestina sebagaimana Tiongkok membebaskan Taiwan secara damai setelah menyaratkan kekuatan militer Amerika Serikat mundur. Selain menegaskan sokongannya terhadap pembebasan Palestina, KAA juga menyerukan penyelesaian konflik Palestina-Israel secara damai.

Sementara itu, sebagai bentuk dukungan kepada kemerdekaan Palestina, Sukarno melarang timnas Indonesia melawan Israel dalam perebutan tiket ke Piala Dunia 1958. Berikutnya, ketika menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962, Sukarno juga tak memberikan visa kepada kontingen Israel. Sejak zaman Sukarno hingga Joko Widodo, Indonesia tetap pada pendirian mendukung kemerdekaan Palestina.

Baca juga: Dukungan Sukarno kepada kemerdekaan Palestina

Dalam pidato pembukaan pertemuan Puncak Bisnis Asia Afrika di Jakarta Convention Center, 23 April 2015, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 60 tahun KAA, Jokowi menegaskan: “Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Kita tidak boleh berpaling dari penderitan rakyat Palestina. Kita harus mendukung sebuah negara Palestina yang merdeka.”

Dunia, Palestina, Israel
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK