Jalan Sunyi Melawan Nazi

Anak semata wayang gugur di medan tempur. Sepasang suami-istri melakukan perlawanan terhadap penguasa fasis.

1495640101000
  • BAGIKAN
Jalan Sunyi Melawan Nazi
Judul: Alone in Berlin | Sutradara: Vincent Perez | Pemain: Emma Thompson, Brendan Gleeson, Daniel Brühl as Escherich, Mikael Persbrandt | Produser: Stefan Arndt, Uwe Schott, Christian Grass | Produksi: X-Filme Creative Pool, Master Movies, Filmwave | Rilis: 13 Januari 2017 | Foto: Marcel Hartman/telegraph.co.uk.

Keheningan hutan sirna oleh derap langkah cepat seorang prajurit Jerman. Sambil sesekali menoleh ke belakang, Hans Quangel (diperankan Louis Hofmann) yang terpisah dari pasukannya terus berlari untuk menghindari pengejaran tentara Sekutu. Dor! Peluru tentara Sekutu memangsanya. Hans rubuh. Jasadnya disambut guguran dedauan.

Di Paris, yang diduduki Jerman-Nazi, di tengah lalu-lalang tentara Jerman, seorang bocah menjajakan koran sembari berteriak “Victory over France… victory over France”. Semangat perlawanan tengah tumbuh. Demonstrasi dan parade digelar penduduk Paris. Di tengah kemeriahan itu, seorang tukang pos mampir ke kantor militer lalu bergegas menuju rumah pasangan Otto Quangel (Brendan Gleeson) dan Anna (Emma Thompson).

Anna terhenyak, merobek-robek surat yang baru dibacanya, lalu menangis. Otto terdiam, seakan tak percaya putra semata wayangnya takkan pernah kembali. Kematian Hans meninggalkan kepedihan mendalam bagi pasangan ini.

Muak terhadap Nazi, Otto memilih jalan perlawanan. Dia menulis kritikan-kritikan pedas kepada penguasa fasis dalam selembar kartu pos. Kartu-kartu yang ditulis secara anonim itu lalu diletakkan di tempat-tempat umum. “Stop war machine!”, “No peace with Hitler’s devilish government”, “Believe in yourself, not in Hitler’s gang”, demikian beberapa tulisan dalam kartu itu. Lebih dari 100 kartu pos Otto tersebar hingga ke sudut Amsterdam.

Penguasa fasis mulai kerepotan. Mengira ada konspirasi besar, SS menggerakkan orang-orangnya untuk mencari pelakunya.

[pages] Inspirasi

Film berdurasi berdurasi 103 menit ini diangkat dari dari kisah nyata perjuangan Otto dan Elise Hampel, pasangan kelas pekerja di Berlin. Selama sekira dua tahun, keduanya menulis lebih dari 200 kartu pos, mengajak orang melawan dan menggulingkan Hitler. Upaya itu terhenti setelah rekan kerja Otto mendapati kartu pos di pabrik tempat mereka bekerja dan melaporkan kepada Gestapo. Pasangan Hampel ditangkap, diadili, dan dihukum mati dengan pisau guilotine di penjara Plötzensee pada 8 April 1943.

Kisah itu menjadi sumber inspirasi Hans Fallada (nama pena dari Rudolf Ditzen) menulisJeder stirbt f r sich allein, terbit pada 1947 dan salah satu novel yang diterbitkan Jerman setelah Perang Dunia II.

Fallada adalah sastrawan Jerman yang populer pada 1930-an. Selama Hitler berkuasa, Fallada menolak bergabung dengan partai Nazi. Tapi, tidak seperti penulis dan intelektual lain, dia tetap tinggal di Jerman. Hidup di tengah kuasa fasis, Fallada tak punya pilihan selain berkompromi dengan rezim Hitler agar bisa terus menulis. Dia juga kecanduan alkohol dan morfin. Ketika Soviet datang pada 1945, dia diangkat sebagai walikota Feldberg dengan tugas memsupervisi upaya denazifikasi.

Suatu hari, pada musim gugur 1945, Fallada diberi arsip Gestapo yang berisi kisah pasangan Hampel. File-file itu diperolehnya dari Johannes Becher, temannya yang juga seorang sastrawan, yang kembali dari pengasingan dan jadi ketua Kulturbund, organisasi budaya bentukan pemerintahan militer Soviet di sektor Soviet. Becher ingin dia menuliskannya menjadi buku.

Menurut Jenny Williams dalam More Lives that One: A Biography of Hans Fallada, Fallada tak mendapatkan arsip Gestapu yang lengkap. Tak ada jilid terakhir setelah pasangan Hampel, yang dijatuhi vonis hukuman mati, pecah kongsi dan menuduh satu sama lain sebagai penghasut kampanye anti-Hitler demi lolos dari eksekusi. Upaya itu sia-sia. “Alasan kenapa file Gestapu tak lengkap tidaklah jelas,” tulis Williams.

Awalnya Fallada tak tertarik menulis novel. Dia hanya membuat sebuah cerita pendek mengenai kisah Hampel yang terbit di sebuah majalah yang disponsori Soviet pada November 1945. Tujuh bulan pertamanya pada 1946 dihabiskan untuk menjalani perawatan di rumahsakit atas ketergantungannya pada obat-obatan dan gangguan kesehatan serta menyelesaikan novel The Nightmare. Dia baru kembali menekuni kisah Hampel pada akhir September 1946 dan menyelesaikan novelnya hanya dalam 24 hari.

Dalam novelnya, selain mengubah nama Hampel menjadi Quangel, Fallada mengubah motif perlawanan. Bukan kematian kakak Elise, tapi kematian anak mereka. Fallada meninggal dunia seminggu sebelum novelnya, Jeder stirbt f r sich allein, terbit.

“Rudolf Ditzen meninggal dunia pada 5 Februari 1947 di Berlin Timur, sebuah kehancuran fisik dan psikologis –di tengah pujian di Timur atas kontribusinya untuk tradisi humanisme Jerman dan hinaan di Barat atas oportunisme dan ketundukannya pada fasisme,” tulis Jenny Williams.

Bagi publik di luar Jerman, nama Fallada tidaklah asing. Salah satu novelnya, Kleiner Mann – was nun? (Little Man – What Now?) meraih sukses, termasuk di Inggris dan Amerika Serikat, dan difilmkan Universal Pictures. Namanya sempat dilupakan hingga 2009 ketika Jeder stirbt f r sich allein diterjemahkan di Inggris dengan judul Alone in Berlin dan di Amerika Serikat dengan judul Every Man Dies Alone.

[pages] Adaptasi

Sutradara Vincent Perez suka novel itu. Kisah di dalamnya, kata dia, amat sinematik. Terlebih dia punya latar belakang keluarga yang antifasis. Ibunya, seorang Jerman, datang dari keluarga antifasis. Salah seorang pamannya tewas di kamar gas Nazi. Kakeknya dari pihak ayah, seorang Spanyol, tewas tertembak saat melakukan perlawanan semasa perang.

Karena alasan itulah Perez mengangkat novel itu ke layar lebar. Dia sadar itu bukan pekerjaan mudah. Salah satu tantangan terberatnya: menghadirkan suasana mencekam. Dan dia berhasil melewatinya. Kendati demikian, minimnya konflik membuat drama yang dihadirkan terasa hambar.

Perez tak mengambil mentah-mentah detail dari novel. Adegan Anna menaruh kartu pos di dekat kelas dan hampir ketahuan, misalnya, merupakan sebentuk dramatisasi cerita. Dia juga mengubah beberapa kalimat perlawanan dalam kartu pos.

Dengan apik Perez membuat penutup kisah pasangan Hampel tanpa adegan ramai apalagi heroik, tapi sunyi sebagaimana kehidupan tokoh utamanya.

[pages]

film
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK