Sukarno Mau Dibunuh di Makassar, Ini Kisah Para Saksinya

Kendati berpuluh tahun berpaut, kisah maut itu tetap lekat dalam memori warga.

1440760630000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Sukarno Mau Dibunuh di Makassar, Ini Kisah Para Saksinya
Nursiah Daeng Kanang dan Gurussi Daeng Nai. Foto: Eko Rusdianto.

DI Makassar, Jalan Cendrawasih adalah jalan utama menuju Gedung Olahraga Mattoangin (sekarang Stadion Andi Matalatta, yang juga merupakan markas tim sepakbola PSM). Jalan ini diapit oleh Jalan Andi Mapanyukki dan Rajawali dan di ujung lainnya berbatasan dengan Jalan Arif Rate dan Haji Bau.

Bila memasuki Jalan Cendrawasih dari arah Jalan Haji Bau, maka Anda akan melintasi perumahan perwira TNI dan asrama Kesdam. Dan jika jeli akan menemukan rumah mantan Pangdam Jenderal M. Jusuf, seorang panglima baik hati yang dikenang prajuritnya sebagai “jenderal susu” karena rutin membagikan susu buat anak-anak tentara.

Hanya sekira 150 meter dari rumah Jenderal M. Jusuf yang sekarang dihuni keluarganya, peristiwa jambret siang itu terjadi. Dan sekira 40 meter dari rumahnya, 51 tahun lalu terjadi peristiwa pelemparan granat terhadap presiden Sukarno.

Safrullah Daeng Kulle, berdiri di sisi jalan menggunakan celana pendek dan kaos berkerah. Dia terlihat asyik berbincang dengan beberapa tukang becak yang mengaso menunggu penumpang. “Saya sudah SD (sekolah dasar) waktu granat itu meledak di sekitar sini,” katanya sembari menunjuk jalan di depannya. Sesaat kemudian dia hanya melangkah beberapa depa, “Ya saya kira di sini.”

Daeng Kulle -sapaan akrab Safrullah–lahir tahun 1954. Dia ber-sama teman-teman sepermainannya berdiri sejak sore di seberang jalan menunggu rombongan Presiden Sukarno yang akan melintas menuju GOR Mattoanging. “Semua orang antusias, waktu mobil presiden melintas kami melambaikan tangan dan bersorak-sorak,” katanya.

Di hari yang sama, pada Minggu 7 Januari 1962, di tempat lain, Noorsiah Arman, masih mengerjakan tugas lembur dari kantornya Perusahaan Dagang Negara Jaya Bakti. “Saya pegawai baru. Baru tiga bulan. Jadi bos saya kasih tugas, mungkin untuk menguji,” katanya.

Noorsiah bekerja sejak siang, menjelang petang tugasnya belum kelar. Dan tiba-tiba orang-orang sudah ramai teriak, rombongan RI satu sudah menuju Jalan Cendrawasih dan sebentar lagi akan melintas. Seketika, Noorsiah dan ibunya bersama beberapa saudara sepupu menuju jalan utama.

Noorsiah saat itu berusia 20 tahun. Dia lahir pada 10 Mei 1942. Rumah keluarga Noorsiah berada di lorong Tekukur (sekarang Jalan Cendrawasih III), berjarak sekira 20 meter dari jalan utama, jadi hanya butuh beberapa menit saja untuk mencapai tempat orang-orang berdiri menyambut rombongan presiden.

Suara azan magrib belum terdengar, Noorsiah dengan cekatan menyelinap di antara orang-orang dan berdiri pada barisan paling depan. Ketika suara sirene pengawal presiden menyeruak melintas, semangatnya semakin bergelora. ”Kita ini kan mau lihat presiden, walaupun iring-iringan saja,” katanya.

Setelah beberapa menit rombongan presiden itu berlalu, ibu Noorsiah mengajaknya pulang. “Sudah mi, lewat rombongan presiden. Ayo pulang,” kata ibunya, yang ditirukan Noorsiah.

Baru beberapa langkah ketika Noorsiah hendak beranjak pulang, sebuah ledakan terjadi. Blarrrr… “Saya kaget. Dan tangan saya tiba-tiba lemas. Dadaku itu dingin, ternyata darah sudah mengucur dari lengan,” katanya.

Tapi dia tetap berjalan menuju rumah. Noorsiah berteriak pada ibunya. “Mama dikena ka. Dikena tanganku,” katanya, sembari memeragakan tangan kanannya dikempit tangan kirinya.

“Jadi waktu saya sudah berlumur darah, mamak saya dudukkan di kursi, di rumah ini. Dan dia juga ikut panik,” sambungnya.

Beberapa saat kemudian, karena mengeluarkan banyak darah, penglihatan Noorsiah mulai berkunang-kunang. Dia meminta ibunya membawa ke rumah sakit. “Saya dibopong ke depan jalan. Lalu dinaikkan di mobil ambulance. Saya ingat, ada 11 orang di mobil itu, dan dibawa ke rumah sakit Pelamonia.”

Sementara itu, Edi Suyoto lahir 8 Agustus 1950 ada di sisi lain pada tepi jalan yang sama. Dia bersama teman-temannya, di lorong Jalan Cendrawasih III sedang menentukan pilihan, apakah menunggu iring-iringan Presiden atau ke GOR Mattoanging melihat Presiden menyampaikan pidato. Diskusi mereka berlarut hingga menjelang petang. Tak ada kata sepakat. “Ya akhirnya kami berdiri di sisi jalan. Menunggu rombongan presiden,” kata Yoto –sapaan akrabnya.

Sisi jalan tempat berdiri Yoto sama dengan Noorsiah, namun jaraknya terpaut sekira 200 meter. Saat Yoto dan teman-temannya belum usai mengagumi rombongan presiden, ledakan terjadi. Orang-orang berlari penuh hiruk pikuk. Ada yang berdarah dan menangis. “Saya dan kalau tidak salah enam orang, lari menuju tempat ledakan. Tapi semua panik, jadi kami ikut takut. Jadi masuk lorong lagi,” katanya.

Di tempat lain, ketika suara ledakan itu terjadi, Nurisah Daeng Kanang yang saat itu sudah kelas 4 Sekolah Dasar, berlari keluar rumah. Dia menuju tempat ledakan. Namun, seketika nyalinya ciut ketika didapatinya seorang remaja, orang yang dikenalnya sudah bersimbah darah. Kakinya terpotong dan mukanya belepotan darah. “Itu saya ingat betul, namanya Ahmad, kakinya sampai terpotong. Ada juga Gunsui bajunya robek-robek,” katanya.

Historia menemui Noorsiah pada Minggu 7 Juli 2013 yang lalu. Hari dan tanggal yang sama ketika dia mengalami peristiwa mengerikan itu. Meskipun usianya sudah menjelang 72 tahun, tak sedikit pun rambutnya memutih, hanya kulit badannya yang sudah mengeriput.

Pasca peristiwa ledakan itu, Noorsiah menjalani perawatan selama sebulan di rumah sakit Pelamonia. Lengan kanannya meninggalkan bekas, seperti bekas terbakar api kecil. Saat itu, rumah sakit menginginkan tangannya untuk di amputasi, namun keluarga menolak.

Namun, beberapa tahun terakhir, bekas luka percikan itu akhirnya membengkak. Menggumpal seperti lengan atlit binaragawan, tapi bedanya lembek. Memegangnya pun tak ubahnya seperti daging perut, kenyal. “Kata dokter, tidak apa-apa dan tidak ganas. Tapi selalu tumbuh,” kata Noorsiah.

Menurutnya, di lokasi ledakan granat itu, berdiri sebuah asrama tentara yang cukup besar sebab memanjang hingga ke jalan Andi Mappanyukki. Gerbang asrama tentara itu menghadap Jalan Cendrawasih dan hampir berhadapan dengan lorong rumah Noorsiah.

Tahun 1950-an hingga tahun 1965, kawasan tempat tinggal Noorsiah bernama Panambungan. Lorong rumahnya bernama Jalan Tekukur. Tapi pada tahun 1965 berubah nama menjadi kompleks Patompo.

Pada awalnya, kawasan Panambungan dihuni oleh para pendatang pencari kerja. Rumah di kawasan itu terlihat kumuh sebab bangunan semi permanen bisa terhitung jari. Yang lain hanya berupa gubuk-gubuk seadanya. Lalu pada awal tahun 1965, terjadi sebuah kebakaran hebat, menghanguskan ratusan rumah dan membuat beberapa jiwa kehilangan tempat tinggal.

Walikota Makassar saat itu HM Daeng Patompo mengeluarkan perintah, bagi para penduduk yang tak dapat membangun kembali bangunan semi permanen dipindahkan ke kawasan Tanjung. Ratusan penduduk akhirnya berpindah. Termasuk para korban ledakan granat.

Ketika mengunjungi kawasan relokasi yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Maccini Sombala, Historia berjumpa beberapa orang saksi hidup, termasuk Nursiah Daeng Kanang yang hidup bersama bapaknya, Gurussi Daeng Nai. Kondisi mereka tak jauh berbeda saat berada di Panambungan. Dinding rumah dari seng dan berlantai tanah. “Beginilah keadaannya dek,” kata Nurisah.

Gurussi Daeng Nai sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Pada sa-at peristiwa ledakan granat di Jalan Cendrawasih, dia juga bertugas se-bagai keamanan kampung. Tukang jaga ronda. Dan saat ini kondisi keseha-tannya pun sudah mulai turun, pikun. Untuk berjalan sekian meter saja, dia menggunakan tongkat pun dengan dipapah cucunya. “Tapi itu peristiwa Cendrawasih saya tahu. Saya tahu,” pungkasnya.

[pages]
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK