Spesialis Pencabut Nyawa

Dibentuk sebagai alat pemukul dan mesin pembunuh, Korps Pasukan Khusus (KST) Belanda melakukan aksi-aksi brutal di Indonesia.

1503317191000
  • BAGIKAN
Spesialis Pencabut Nyawa
KST saat berparade di Batavia. Foto: Arsip Nasional Belanda

Sulawesi Selatan awal 1947. Pertempuran tak seimbang di Wajo itu berakhir dengan kekalahan Tentara Republik Indonesia (TRI) –kini, TNI. Sejumlah prajurit tewas. Sebagian lagi terluka, termasuk Kapten Andi Abubakar, komandan Bataliyon I Resimen III Divisi Hasanuddin. Namun, alih-alih menghormati hukum perang dengan mengobati pemimpin pasukan musuh, pasukan Depot Speciale Troepen (DST)-pada tahun 1948 berubah menjadi Korps Speciale Troepen (KST)- memenggal kepala Kapten Andi dan membawanya ke Pasar Enrengkang.

“Mereka mempertontonkan kepala Kapten Andi di tengah pasar untuk melemahkan semangat perjuangan pemuda setempat,” ujar Maulwi Saelan, eks pejuang Sulawesi Selatan.

Beranggotakan prajurit-prajurit pilihan dari berbagai etnis, pasukan baret hijau (para komando) dan berbaret merah (lintas udara) itu dikenal ganas dalam aksi-aksinya. Dengan dingin, mereka membunuh siapapun yang dianggap sebagai musuh Belanda. Kapten J.H.C. Ulrici, salah seorang pemimpin KST dari Kompi Eric, menyatakan bahwa KST pantang membawa tawanan dari suatu operasi.

“Kami memburu mereka memang khusus untuk dibunuh,” ujar Ulrici saat diwawancarai Haagse Postedisi Agustus 1965.

Berbagai sumber sejarah menyebut KST sebagai kesatuan militer Belanda yang paling banyak menghabisi nyawa orang Indonesia, militer maupun sipil. Menurut Gert Oostindie, mereka seolah tak terpisahkan dari figur Kapten R.P.P. Westerling. " Dia seorang yang selalu bangga dengan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya,” ujar sejarawan Belanda itu kepada Historia

Pembenaran Westerling bukan hanya didasarkan pada efektivitas dan proporsionalitas yang diperkirakannya, namun juga sebagai jawaban atas tindak kekerasan dari musuh. “Saya membunuh para pembunuh yang telah melakukan kekejaman dan tentu saja saya tak membunuh orang yang tidak bersalah,” ujar Westerling, dikutip Oostindie dalam bukunya Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950.

Pernyataan Westerling diamini Ulrici. Dia menyebut, aksi-aksi KST merupakan suatu kewajaran dalam situasi perang. “Saya pikir kami cukup logis. Misalkan Anda menemukan seseorang yang telah membunuh kawan Anda dengan memotong alat kelaminnya lalu memasukannya ke mulut jasad kawan Anda tersebut, apakah Anda akan mengajaknya untuk minum kopi espresso? Tentu saja tidak!” ujar Ulrici dalam De Groene Amsterdammer edisi 16 Agustus 1995.

Selain di Sulawesi Selatan, KST dianggap bertanggungjawab atas sejumlah pembunuhan massal di berbagai tempat. Sejarawan Belanda Anna Lodt menyebut ratusan (ada yang menyebut ribuan) nyawa dihilangkan KST di Rengat, Riau, pada 5 Januari 1949.

Sebelumnya, KST juga melakukan aksi brutal di Jawa Barat. Dalam catatan A.H. Nasution, pada awal 1948, mereka membunuh 150 orang Indonesia di Tasikmalaya. “Itu juga ditambah dengan ratusan korban lainnya yang jatuh di Karawang dan Cirebon,” tulis Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid VII.

Di perbatasan Ciamis dan Tasikmalaya, pada 13 dan 16 April 1948, tanpa alasan yang jelas, para prajurit KST menghabisi sekitar 10 penduduk sipil dan membiarkan mayat mereka tergeletak di tengah jalan. Menurut sejarawan Batara Hutagalung, situasi ini sempat menjadi skandal karena diekspos Mayor R.F. Schill, komandan Yon 1-11-RI, yang muak terhadap perilaku prajurit KST. Kepada atasannya, Kolonel M.H.P.J. Paulissen, Schill melaporkan soal ini. Bisa jadi karena laporan ini, beberapa saat kemudian, militer Belanda “memecat” Westerling dari dinas ketentaraan.

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK