Seorang Belanda di Darul Islam

Van Kleef disebut-sebut pihak DI TII menyebrang ke kubu mereka dengan sukarela. Sempat dicurigai Kartosuwirjo.

1516753656000
  • BAGIKAN
Seorang Belanda di Darul Islam
Selebaran yang dikeluarkan pihak tentara untuk menangkap van Kleef. Sumber: Pusjarah AD.

Masalah kerjasama antara DI/TII dengan APRA sempat dibahas dalam pengadilan orang-orang Belanda yang dituduh terlibat makar terhadap pemerintah Republik Indonesia. Bahkan di persidangan, Haris bin Suhaemi (anggota DI/TII yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Kartosuwirjo) memberikan kesaksian bahwa sepuluh hari sebelum APRA menyerang Bandung, pemimpin APRA (Westerling), pemimpin DI/TII (Kartosuwirjo), dan Kepala Negara Pasundan (Wiranatakusumah) menggelar suatu pertemuan rahasia di Hotel Preanger, Bandung.

“Selama pertemuan itu diputuskan bahwa, andaikan serangan terhadap Bandung sukses, wilayah Jawa Barat secara de facto menjadi teritori DI...,” tulis Subversive Activities in Indonesia: The Jungschlager and Schmidt Affair, diterbitkan Kementerian Luar Negeri Indonesia tahun 1957.

Haris juga mengatakan dalam pertemuan sebelumnya pada 1949 DI/TII dan Westerling sepakat untuk melakukan aksi bersama di Jawa Barat. Dan faktanya, pada hari yang sama dengan aksi APRA di Bandung, pasukan DI melakukan serangan di dua kota lain di Jawa Barat: Tasikmalaya dan Garut.

Beberapa kali pula, menurut Haris, pemerintah Belanda lewat klik Jungschlager diam-diam memasok senjata dan amunisi ke basis-basis DI/TII. Bantuan itu didistribusikan melalui jalur udara, menggunakan pesawat-pesawat milik Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), perusahaan minyak Belanda, dan pantai.

Colson, ajudan Westerling, menyebut tak pernah ada pertemuan antara Kartosuwirjo dan Westerling. Kesaksian Haris mengenai serangan TII di Tasikmalaya dan Garut juga meragukan. Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan menyebut memang ada peningkatan kegiatan TII sekitar waktu serangan APRA atas Bandung pada 23 Januari 1950. Namun, “Tidak terjadi serangan massal oleh pasukan Darul Islam.”

Sebuah bantahan keras disampaikan Jenderal Mayor TII Djajasakti. Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan Angkatan Perang Negara Islam Indonesia (APNII) tertanggal 27 Desember 1955, Djajasakti menyebut semua itu hanya tipu muslihat gaya Republik Indonesia.

Djajasakti malah balik menuduh pemerintah RI “hilang akal” sehingga menciptakan figur-figur palsu dan dongeng-dongeng untuk menghancurkan nama DI. Sebagai contoh, dia menyebut Haris bin Suhaemi sebagai “saksi buatan” yang dimunculkan pemerintah RI. “Imam NII, S.M. Kartosoewirjo, tidak pernah mempunyai seorang ‘kurier pribadi/pengawal/vertrouwensman’, yang bernama Haris bin Suhaemi!” ungkap Djajasakti.

Djajasakti juga menyebut nama van Kleef, seorang keturunan Belanda yang memilih bergabung dengan NII dan punya nama samaran Wim Smits. “Teranglah, bahwa yang pernah datang ke daerah Cianjur dengan TII adalah W. Smits alias Ch. H. Van Kleef, mujahid NII dan bukanlah Schmidt yang sekarang diperiksa di Jakarta,” ujar Djajasakti.

Djajasakti menganggap tuduhan jaksa R. Soenario sebagai absurd. Katanya, sesulit-sulitnya perjuangan melawan RI, DI/TII tak akan mempertaruhkan perjuangan itu lewat suatu kerjasama dengan orang-orang Belanda. “Belanda itu adalah musuh kami jadi menuduh kami bekerjasama dengan komplotan Jungschlager dan Schmidt itu adalah suatu perbuatan hina dina,” ujarnya.

Siapa Djajasakti masih diperdebatkan. Holk H. Dengel menyebutnya sebagai salah satu nama alias Kartosuwirjo. Sumber-sumber militer, misalnya buku Teguh-Tenang Menempuh Gelombang (1962) karya RA Kosasih, penguasa perang daerah (Peperda) Pangdam III/Siliwangi, menyebutnya sebagai nama alias van Kleef.

Setelah persidangan yang panjang, pengadilan memutuskan hukuman mati untuk Jungschlager. Namun sebelum proses pengadilan usai, pada 19 April 1956 Jungschlager ditemukan meninggal dunia secara misterius di penjara.

Schmidt divonis hukuman 15 tahun penjara pada Oktober 1956. Setelah tiga tahun mendekam di balik jeruji besi, dia dibebaskan dan langsung dipulangkan ke Belanda. Begitu berkesannya pengalaman selama menjadi musuh pemerintah Indonesia, pada 1961 Schmidt menulis buku berjudul In de Greep van Soekarno (Dalam Cengkeraman Soekarno).

Mati Syahid

Kendati alur kisah kerjasama DI/TII-APRA disajikan secara logis dan meyakinkan oleh Jaksa R. Soenario, banyak orang percaya persekutuan aneh itu hanya tipu-tipu gaya RI. Al Chaidar tak yakin adanya kerjasama tersebut. Kalaupun ada, dia menduga itu dilakukan klik yang sengaja diciptakan intelijen RI untuk merusak citra DI/TII.

J.C. Princen, bekas teman satu sel Schmidt di penjara Cipinang, Jakarta, juga tak yakin. Kata Princen, dalam otobiografinya Kemerdekaan Memilih, isu kerjasama antara eks APRA dan DI/TII, “sesuatu yang menurutku merupakan rekayasa.”

Princen adalah tentara Belanda yang membelot ke Divisi Siliwangi pada masa revolusi. Dia ditangkap polisi karena mengkritik pemerintahan Sukarno yang dianggapnya semena-mena karena mengeluarkan keputusan memerangi kaum pemberontak di Sulawesi tanpa persetujuan parlemen.

Satu-satunya yang menandai persekutuan itu adalah keberadaan Ch. van Kleef. Siapa dia?

Dalam dokumen APNII tertanggal 27 Desember 1955, Djajasakti bercerita tentang sosok van Kleef,seorang keturunan Belanda kelahiran 15 April 1915. Disebutkan van Kleef pernah menjadi pegawai pemerintah kolonial, sebagai polisi dan tentara. Sejak awal Februari 1951, dia memilih bergabung dengan NII, kendati tetap memeluk Katolik. Dia ikut kesatuan TII ke daerah Cianjur pada Juni 1951. Setelah sekira sebulan di kawedanan Ciranjang, dia bersama kesatuan TII kembali ke pangkalan semula.

Pada 15 Juli 1953, setelah dua setengah tahun bergaul dengan pasukan NII, atas kemauan sendiri van Kleef memeluk Islam, sehingga, tulis Djajsakti, “jadilah ia: mujahid, penggalang serta pendukung Negara Islam Indonesia yang volwaardig (penuh).”

Al Chaidar, pengamat DI/TII dari Universitas Malikussaleh Aceh, mengamini apa yang disebutkan Djajasakti. Berdasarkan hasil wawancaranya dengan seorang tokoh DI bernama Abdul Fatah Wirananggapati, van Kleef sungguh-sungguh saat bergabung dengan DI/TII. Itu dibuktikan dengan totalitas pengabdiannya, mulai bekerja sebagai staf diplomat hingga gerilyawan di hutan-hutan Jawa Barat.

Van Kleef menjadi saksi keruntuhan DI/TII. Sejak 1953, Kartosuwirjo kehilangan orang-orang kepercayaannya. Satu per satu gugur dalam pertempuran dengan tentara pemerintah atau tertawan. Praktis tinggal Sanusi Partawidjaja, yang menjabat majelis luar negeri NII. Dia pula yang mewakili Kartosuwirjo antara 1954 dan 1959 ketika Kartosuwirjo menarik diri ke kawasan-kawasan pegunungan selatan Jawa Barat.

Menurut Holk H. Dengel, Partawidjaja kemudian berkomplot dengan van Kleef untuk menentang kekuasaan Kartosuwirjo. Partawidjaja akan menggantikan posisi Kartosuwirjo, sedangkan van Kleef menempati jabatan menteri luar negeri. Rencana itu tercium Kartosuwirjo. Maka, Kartosuwirjo mengambil-alih kepemimpinan NII dan kembali ke daerah pusat perjuangan DI.

“Sekitar 1960 Partawidjaja dihukum mati oleh Kartosuwirjo,” tulis Dengel.

Dalam pandangan Al Chaidar, hukuman mati itu patut disesali. Mengapa? Karena berdasarkan hasil penyelidikan tim khusus yang kemudian dibentuk Kartosoewirjo, terbukti tuduhan kudeta Partawidjaja-van Kleef fitnah semata. Pelakunya adalah klik DI lain pimpinan Soedjojono. Berbeda dari Partawidjaja yang kadung dieksekusi, van Kleef terselamatkan oleh hasil temuan itu.

“Nama van Kleef kemudian dipulihkan dan ia diterima kembali masuk dalam lingkaran elit Darul Islam,” ujar Al Chaidar.

Gerakan Kartosuwirjo sendiri kian terdesak. Pada 1962, muncul seruan dari Kartosuwirjo kepada pengikutnya untuk turun gunung dan menyerah kepada pemerintah. Pada tahun yang sama Kartosuwirjo ditangkap, divonis hukuman mati oleh Pengadilan Mahkamah Militer, dan dieksekusi mati pada 12 September.

Seruan Kartosuwirjo ditanggapi beragam oleh pengikutnya. Sebagian besar patuh. Sebagian kecil meyakini itu tipu-tipu pemerintahan Sukarno dan memilih tetap melanjutkan perlawanan. Di antara kelompok kecil ini tersebutlah van Kleef.

“Saat bertahan itulah, van Kleef syahid dalam suatu pertempuran di suatu wilayah dekat Sukabumi pada sekitar tahun 1964,” ujar Al Chaidar.

Berakhirlah kisah van Kleef dan kegaduhan soal persekutuan aneh DI/TII-APRA. Sejarah mencatat kegaduhan yang dilakukan APRA dan konflik berkepanjangan (13 tahun) antara pemerintah RI dan DI/TII menyebabkan sekitar 24.000 nyawa melayang serta penderitaan rakyat yang tak ternilai.

aliansi di/tii-apra
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK