Sebuah Percobaan Pertama

Sukarno jadi sasaran pembunuhan. Anak-anak dan ibu hamil justru jadi korban.

1512004850000
  • BAGIKAN
Sebuah Percobaan Pertama
Gedung Sekolah Rakyat Perguruan Cikini, Jakarta. Di depan gedung ini Bung Karno digranat. Foto: repro Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 karya Mangil Martowidjojo

DUA anak itu berjalan mengapit Presiden Sukarno yang terlihat sumringah saat melangkah keluar dari gedung sekolah Perguruan Tjikini.

“Dengan suasana hati yang gembira aku mempermainkan rambut seorang anak yang berjalan di samping sebelah kiriku dan mendekap anak yang melekat ke kaki kananku,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sabtu malam itu, 30 November 1957, Sukarno menghadiri malam amal dalam rangka hari jadi Sekolah Rakyat (SR) Perguruan Tjikini ke-15. Dia hadir bukan sebagai presiden melainkan orangtua murid dari Guntur dan Megawati Sukarnoputri. Tapi Guntur dan Mega tak ikut pulang. Mereka memilih tetap di sekolah, menonton film yang bakal diputar selepas resepsi.

Pukul 20:45 kepala sekolah Sumadji dan ketua panitia acara Ny Sudardjo mengantar Sukarno menuju mobil kepresidenan yang menunggu di teras sekolah. Belum lagi langkah kaki presiden beranjak masuk ke dalam mobil, seketika ledakan menggelegar tak jauh darinya. Daar!

Semula orang mengira ledakan berasal dari ban yang meletus. Namun tak lama setelah ledakan pertama, ledakan kedua kembali terdengar. Kali ini semua orang panik, menjerit dan berlarian menyelamatkan diri.

“Anak-anak berteriak dan berlari ketakutan memasuki gedung sekolah. Tamu-tamu berguling ke bawah mobil atau masuk selokan. Puluhan orang kena. Ratusan terbanting ke tanah. Kulihat kekuatan ledakan melemparkan seorang inspektur polisi ke sebuah tiang. Darah berserakan,” ujar Sukarno mengenang.

Para pengawal berlari, menerjang presiden dan menindih tubuh orang nomor satu Republik Indonesia itu. Salah seorang pengawal jadi tameng hidup presiden.

“Ngationo telah menjadikan dirinya sebagai perisai dan merangkul Bung Karno sebelum granat yang jatuh di dekatnya meledak sehingga pecahan-pecahan granat yang menuju ke arah Bung Karno telah mengenai badan dan bagian kepala Ngationo,” tulis suratkabar Merdeka, 2 Desember 1957.

Adegan dramatis belum berhenti. Seorang pelaku lain kembali melemparkan granat dari kiri gedung sekolah dan disusul seorang lagi yang menggranat dari sisi kanan. Granat ketiga, yang dilemparkan ke Sukarno dari jarak hanya lima meteran, dan granat keempat mungkin yang paling dramatis. Ledakannya, “menembus mesin, menghancurkan kaca depan, menyobek-nyobek bagian dalam mobil menjadi seripihan dan meledakkan dua buah ban,” ujar Sukarno dalam otobiografinya. Sedangkan granat keempat, dilempar dari seberang jalan, menghancurkan sisi lain mobil presiden. Total ada lima granat yang dilemparkan pelaku.

Bersimbah Darah

Di tempat yang sama, Budiono Kartohadiprodjo, 67 tahun, saat itu siswa kelas 5 SR Tjikini, merasakan dadanya seperti tertonjok tapi dia tak menggubris. Pandangannya tetap tertuju ke arah iringan presiden. Dia berdiri di kanan gerbang sekolah, sekira 1,5 meter dari titik perlintasan presiden. Sejak beberapa menit sebelumnya dia antusias menunggu iring-iringan presiden dan pengawalnya lewat. “Namanya anak kecil, senang dengar sirene-sirene gitu,” ujarnya kepada Historia.

Ketika presiden baru berjalan beberapa langkah, kenangnya, bunyi ledakan keras terjadi. Dia tak tahu itu bunyi apa, dia ingat presiden langsung dibawa lari pengawalnya. Sejurus kemudian, letusan kembali terjadi tepat di titik presiden berdiri ketika granat pertama meledak.

“Saya lihat kok semprotannya, apinya itu lihat. Ya (cuma) satu setengah meter,” kenangnya. Suara teriakan orang-orang minta tolong bercampur suara tangis pun langsung menggema. “Saya berdiri aja, bengong. Kan nggak tau,” kenang pemimpin redaksi majalah Gatra itu.

Semua orang duduk dan tiarap. “Ya saya juga ikut duduk saja di situ,” kenangnya. Listrik mati. Gelap. Dalam keadaan serba kalut itu dia mengusap dada kirinya. Ternyata, darah sudah membasahi. Nafasnya mulai ngos-ngosan. Dia terkulai lemas.

Di tengah kegelapan itu, Kolonel dr Azis Saleh datang memeriksa keadaan. Menteri kesehatan itu menemukan Budiono tergolek bersimbah darah dan langsung menggotongnya ke dalam, membaringkannya di meja.

“Habis itu terus saya diangkat lagi, dimasukkan ke mobil. Nah dari mobil itu terus diangkut ke Rumah Sakit Cikini,” kenang Budiono. Tapi karena RS Cikini penuh, Budiono dirujuk ke RSUP Cipto Mangunkusumo.

Ternyata serpihan granat mengenai dada dan bahunya. Serpihan lainnya mengiris bagian kecil telinga kanannya. Yang paling parah, menurutnya, serpihan granat yang di dada, memotong pembuluh jantungnya. “Ini yang mengubah kehidupan saya,” ujarnya. Karena itu dia tak lolos test jadi pilot.

Panik

Pada malam naas yang sama, beberapa puluh meter dari tempat Budiono berdiri, Jus Soemadipradja dan keluarganya sedang berkumpul di salah satu ruang di SR Tjikini. Mereka bersiap pulang namun menunggu rombongan presiden pergi.

“Tunggu sampai Bung Karno pergi. Ngapain kita berdesak-desakan di depan,” ujar Jus kepada Historia, menirukan kata-kata ayahnya.

Tiba-tiba, blarr!! Bunyi ledakan besar terdengar. “Ayah kagum. Dia bilang, hebat ya Cikini, pakai petasan,” tutur mantan wartawan Indonesia Raya itu. Selang beberapa detik, bunyi ledakan kembali terdengar. Erik, salah seorang teman kakak Jus langsung berteriak kepada Makmoen Soemadipradja (ayah Jus), “Handgranaat, Oom. Diam, Oom!”

Mendadak Makmoen pening. Keluarganya juga panik. Tapi efek obat yang diminumnya berhasil menenangkan Makmoen. Dia perintahkan keluarganya agar tetap di tempat dan tenang. Orang-orang sudah berlarian sembari menangis dan berteriak minta tolong waktu itu. Mereka mondar-mandir karena informasi yang memberitahu posisi penggranat membingungkan.

“Panik. Semrawut aja pada saat itu,” kenang Jus.

Beruntung seluruh anggota keluarga mantan menteri dalam negeri Negara Pasundan itu selamat dari ledakan granat.

Keterangan resmi pemerintah menyebutkan 10 orang tewas, termasuk anak-anak dan ibu hamil, dan 48 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu.

60 tahun peristiwa penggranatan cikini, 60-tahun-peristiwa-penggranatan-cikini
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK