Raksasa Perang Dunia Dipermalukan di Ambarawa

Meski berawal damai, Inggris selaku negara pemenang perang akhirnya menanggung malu akibat ulah Belanda di Jawa Tengah.

1481797694000
  • BAGIKAN
Raksasa Perang Dunia Dipermalukan di Ambarawa
Monumen Palagan Ambarawa.

KEPUTUSAN Konferensi Potsdam pada Juli 1945 yang membagi-bagi tugas kepada negara-negara besar Sekutu membuat Inggris kebagian tugas mengendalikan wilayah Asia Tenggara. Di wilayah tersebut, Inggris selain harus mengambilalih kekuasaan dari tangan Jepang, melucuti senjata mereka dan memulangkan pasukan Jepang ke negerinya, adalah membebaskan tawanan dan interniran Sekutu dan menjaga keamanan serta menegakkan hukum.

Panglima Southeast Asia Command (SEAC) Laksamana Lord Louis Mountbatten lalu membentuk Allied Forces Netherlands Indis (AFNEI) untuk menjalankan tugas di wilayah bekas Hindia Belanda dan menunjuk Letjen Sir Philip Christison sebagai kepalanya. Mountbatten juga membentuk sembilan tim penerjun yang akan bertugas sebagai advanced team di Sumatra dan Jawa. Tim itu masing-masing berisi empat personil yang terdiri dari komandan, petugas sinyal/komunikasi, dan dua personil medis. Mereka dilengkapi peralatan medis, obat-obatan, dan bahan makanan. Dari merekalah informasi mengenai lapangan berasal.

Pada 8 September 1945, tim pertama mendarat di pantai Batavia. Penerjunan mereka berjalan bersama para penerjun pasukan Belanda, yang datang sebagai alat Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Civil Affairs Agreement yang ditandatangani kedua negara pada 24 Agustus 1945 membuat Belanda bisa membonceng Inggris. Menurut sejarawan Universitas Diponegoro Supriya Priyanto kepada Historia, inti perjanjian tersebut adalah “Inggris wajib mengembalikan wilayah kepada bekas koloninya.” Dengan kata lain, Inggris harus membantu mewujudkan kembali penjajahan Belanda atas Indonesia.

Tim penerjun yang bertugas di Jawa Tengah tiba pada 18 September. Mereka mendarat di Magelang. Kota perbukitan itu diyakini sebagai tempat bagi banyak tawanan perang dan interniran Sekutu berada. Tim tersebut lalu ke Jakarta guna memberikan pengarahan mengenai Magelang, dan kembali lagi keesokannya. Menurut mereka, kerjasama dengan Jepang sangat vital karena detail jumlah kamp dan interniran hanya mereka yang tahu.

Dengan bantuan Jepang, tim di Magelang membebaskan 773 tawanan dan interniran yang ada. Mereka menginformasikan kepada markas SEAC di Colombo (Ceylon) bahwa karena adanya penjarahan dari para “ekstrimis”, droping logistik hendaknya dihentikan.

Pada 20 Oktober, sekira satu brigade pasukan Inggris dari Gurkha 3/10 mendarat di Semarang. Gubernur Jawa Tengah Wongsonegoro menyambut hangat kedatangan mereka, lalu mengadakan perundingan. Kepada Jenderal Bethel Wongsonegoro mengatakan pihak Indonesia menjanjikan kerjasama seluas-luasnya asal pasukan Inggris tak mengusik kedaulatan republik. Gubernur juga bersikeras untuk tak membiarkan Sekutu melucuti persenjataan polisi republik.

Bersamaan dengan kedatangan Inggris, para pejuang di Semarang sedang mati-matian merebut senjata dari pasukan Jepang. Insiden demi insiden terjadi. Pembunuhan 200 warga sipil Jepang di Ambarawa memicu aksi balas dendam mereka di Semarang. “Sebagai balasan, pasukan Jepang membunuh 2.000 orang Indonesia, maka Gurkha pun terjebak dalam sebuah pertempuran pada saat kedatangannya,” tulis Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia: 1945-1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution.

[pages]Gurkha langsung mengambilalih lapangan udara di Semarang dan mendirikan markas di sana. Rakyat Indonesia menyambut kedatangan mereka karena dianggap sebagai pembebas dari Jepang.

Atas izin gubernur, satu datasemen Gurkha lalu bergerak ke Ambarawa dan Magelang. “Ambarawa itu kan menjadi kamp interniran besar. Maka ke situ mereka begitu mendarat di Semarang,” ujar Priyanto. Di sana, mereka membebaskan para tawanan dan interniran, termasuk eks prajurit KNIL Belanda.

Namun, para eks tentara Belanda lalu melakukan provokasi-provokasi seperti mengenakan seragam militer lengkap, menangkapi, dan bahkan menyiksa para pemuda pejuang Indonesia. Hal itu memicu perlawanan. Panglima BKR Kedu Soesman, yang dibantu BKR Yogyakarta pimpinan Oemar Slamet dan Laskar Rakyat Mataram serta kesatuan perjuangan lainnya, lalu mengepung tangsi-tangsi pasukan Sekutu di Tuguran, Susteran, dan Hotel Montagne (kini di seberang alun-alun). Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Panglima garnisun Inggris di Magelang Letkol Edwards, yang tiba pada akhir Oktober, mengadakan perundingan dengan penguasa setempat untuk menghentikan pertempuran. Karena tak menghasilkan kesepakatan, Brigjen Bethel lalu mengambilalih. Dia berunding dengan Presiden Sukarno yang sedang bersafari. Perundingan tanggal 2 November itu selain menghasilkan kesepakatan gencatan senjata juga menghasilkan kesepakatan pembentukan Contact Committee, yang bertugas memastikan kelancaran pembebasan tawanan dan interniran Sekutu. Lima pemimpin Indonesia dan lima perwira Inggris masuk ke dalam komite tersebut. Untuk itu, Inggris memberi bantuan senjata Lee & Field kepada petugas Indonesia, sementara Indonesia menjamin suplai bensin dan makanan kepada pasukan Inggris.

Pada 20 November, evakuasi 2500 internir dari Magelang berjalan lancar. Sisa yang masih ada menyusul dievakuasi keesokan harinya berbarengan dengan penarikan garnisun Inggris di Magelang ke Ambarawa. Kecuali anak-anak, lansia, dan mereka yang sakit, para interniran yang tak kebagian truk harus berjalan kaki ke Ambarawa. Meski dengan pengawalan pasukan, keamanan mereka sangat rentan dari serangan para “ekstrimis”. Jenderal Christison sampai menyamakan kondisi mereka dengan kondisi evakuasi warga Inggris dari Kabul ke India pada 1842 yang hanya menyisakan seorang selamat sampai tujuan.

Berbarengan dengan masa tegang di Magelang, pimpinan tentara bersidang dan memilih Kolonel Sudirman (panglima BKR Banyumas) sebagai panglima TKR. Sambil menunggu waktu pelantikan, dia kembali ke markasnya sambil menyusun strategi guna menghadapi kemungkinan terburuk dari proses evakuasi tawanan Sekutu dari Magelang ke Ambarawa.

Sudirman memerintahkan komandan-komandan TKR di Jawa Tengah mengirim pasukannya untuk memperkuat TKR di Ambarawa. “Yang terbanyak dari Banyumas, karena senjatanya terlengkap,” ujar Priyanto. Sudirman juga membentuk Markas Pimpinan Pertempuran guna menghindari kesalahan yang terjadi di Magelang di mana para pejuang Indonesia bertempur tanpa koordinasi dan hierarki yang jelas. Sudirman menetapkan garis-garis besar operasi penyerbuan Ambarawa, menunjuk Letkol Isdiman (panglima Resimen Purwokerto) sebagai pemimpin koordinator pasukan penyerbu, membagi Ambarawa menjadi beberapa sektor, dan menetapkan pukul 04.30 pagi tanggal 12 Desember sebagai waktu dimulainya ofensif.

Sudirman, menurut Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia: Kisah Seorang Pengawal, berhasil menghimpun sekitar 20 batalyon. Rasio persenjataan untuk pasukan reguler 1 senjata berbanding 5 personil, sementara untuk laskar dan tentara pelajar rasionya 1:10.

Sementara itu di lapangan, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menganggap penarikan mundur pasukan Inggris ke Ambarawa secara diam-diam pada malam 21 November menyalahi kesepakatan –yang menetapkan garnisun Inggris tetap ditempatkan di Magelang. Bagi mereka, mundurnya pasukan Inggris sebagai upaya melarikan diri. “Kecurigaannya begitu besar rakyat kita di masa revolusi,” ujar Supriya Priyanto. Pasukan resimen Kedu Tengah di bawah Letkol Sarbini, diikuti kesatuan-kesatuan lain seperti Yon Mayor Imam Androngi, Yon Mayor Soeharto, Mayor Sardjono, langsung mengejar. Kontak senjata terjadi dan memakan beberapa korban.

[pages]Di Ambarawa sendiri pertempuran sudah meletus pada 20 November, yang menurut pihak Indonesia dipicu oleh bombardir pesawat-pesawat AU Inggris (RAF) –sementara menurut Inggris dipicu serangan-serangan oleh para prajurit Indonesia. Pejuang Indonesia melakukan perlawanan dengan berondongan senapan mesin dan pemboman mortir. Mereka mengepung pertahanan Inggris dan memblokir akses ke sana. Tembak-menembak terus membesar.

Terdesaknya Inggris membuat mereka meminta bantuan ke Semarang. Bantuan dari Semarang datang melalui pesawat-pesawat pembom, tank, dan artileri. Pada 26 November, berondongan senapan mesin pesawat RAF menggugurkan Letkol Isdiman yang bermarkas di Desa Kelurahan. Hal itu menambah kemarahan pihak Indonesia. “Orang-orang Indonesia menuangkan bensin mengelilingi sebuah kamp interniran dan membakarnya; mereka menembus pagar belakang kamp lain dan membunuh tentara, perempuan, dan anak-anak Inggris,” tulis McMillan. Korban yang jatuh sangat banyak, dari kedua belah pihak.

Setelah TKR menguasai jalan Semarang-Ambarawa dan Yon Mayor A Yani merebut lapangan udara Kalibanteng, pasukan Inggris dan interniran yang mereka bebaskan terjepit di Ambarawa. Hubungan mereka dengan markas pusat di Semarang putus.

Keadaan itu membuat pasukan Indonesia leluasa melancarkan serangan Ambarawa yang dimulai tepat jam 04.30 pagi tanggal 12 Desember. Setelah tembakan mitraliyur penanda membuka serangan, pasukan Indonesia dari berbagai sektor di Ambarawa maju menyerang posisi Inggris. “Mereka merayap mendekati kedudukan musuh sampai jarak 200 meter,” tulis Dinas Sejarah TNI dalam Sudirman: Prajurit TNI Teladan. Gatot Subroto yang menggantikan Isdiman, merangsek dari selatan kota. Mereka melancarkan gerilya kota. Pasukan Inggris dan interniran yang mereka bawa terjepit.

Kontak senjata berlangsung terus-menerus selama empat hari dan memakan banyak korban. Setelah empat hari terkepung, pasukan Inggris akhirnya memutuskan untuk menerobos jalur ke Semarang. Mereka mundur sambil membawa interniran yang tersisa. Setelah mati-matian menempuh perjalanan dari Ambarawa, mereka akhirnya tiba di Semarang dengan banyak kerugian. “Inggris jadi kena getahnya,” tutup Priyanto, menjelaskan bagaimana pasukan Inggris yang sudah bosan perang itu harus menanggung malu akibat ulah Belanda.

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK