Palang Merah Bertaruh Jiwa Demi Nyawa

Orang seringkali tak melirik keberadaannya, padahal perannya sangat penting. Di masa Revolusi 1945, mereka tak mempedulikan jiwanya demi menyelamatkan banyak nyawa.

1347814800000
  • BAGIKAN
Palang Merah Bertaruh Jiwa Demi Nyawa
Foto: Koleksi Palang Merah Indonesia.

JALAN Menteng Raya 31 sudah ramai dengan kendaraan sore itu. Truus Iswarni Sardjono menunggu kendaraan umum di depan Gedung Joang. Usianya sudah 83 tahun. Setiap hari dia biasa pergi-pulang menggunakan kendaraan umum. Dia tak mau merepotkan orang lain. Perjuangan berat untuk mencapai tempat tujuan di Jakarta yang semrawut baginya belum seberapa dibandingkan perjuangannya 66 tahun silam di Surabaya.

Tak lama setelah kemerdekaan, Truus masuk Palang Merah 45 pimpinan Loekitaningsih. Belum sempat masuk asrama untuk mendapat pembekalan, pertempuran keburu pecah. Tiap hari, bersama teman-temannya, Truus berjuang menyelamatkan nyawa banyak orang di tengah kondisi yang mengancam nyawanya sendiri. “Yang paling saya nggak lupa, anak kecil,” ujarnya. Anak itu tewas dengan tubuh terbelah akibat terkena bom Inggris. “Yang setengah di got, setengah lainnya di pagar.”

Loekitaningsih memang identik dengan kerja palang merah. Sebagai langkah untuk merespon keadaan kota Surabaya yang kian genting, Loeki, panggilan akrab Loekitaningsih, ketua Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI), membentuk kesatuan palang merah. “Berhubung pada saat TKR dibentuk, prajurit kesehatan belum dapat disiapkan, maka kami bertugas sebagai Korps Palang Merah Putri,” tulis Loekitaningsih dalam “Saham Revolusi”, dimuat Seribu Wajah: Wanita Pejuang Dalam Kancah Revolusi ’45.

Dalam program kerja awalnya, organisasi tersebut bergerak dalam bidang kelaskaran, palang merah, dapur umum, dan bantuan bagi pengungsi. Palang merah mereka bernama Palang Merah 45. Semua anggotanya, sebanyak 52 pemudi, relawan. Ada yang melamar, banyak juga yang masuk karena ajakan Loeki.

Selain memberi pertolongan pertama pada korban pertempuran, Palang Merah 45 menyalurkan makanan dan pakaian serta menolong pengungsi. Mereka mendapatkan pakaian-pakaian dari gudang-gudang timbunan Jepang yang telah mereka ambil-alih sementara makanan diperoleh dari dapur-dapur umum. Untuk obat-obatan, Palang Merah 45 mendapatkan bantuan dari rumahsakit umum dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Seiring membesarnya pertempuran di Surabaya, Palang Merah 45 akhirnya fokus pada palang merah. “Karena apa? Korbannya sudah seluruh kota, sudah penuh dengan korban,” ujar Truus Iswarni Sardjono, mantan anggota Palang Merah 45 sekaligus teman dekat Loekitaningsih, kini berusia 83 tahun. Orang-orang waktu itu sampai menjuluki Alun-alun Contong sebagai abatoar (tempat pemotongan hewan). “Itu jalanan aspal nggak ada, (adanya) darah.”

Pertempuran Surabaya, lebih dikenal sebagai Pertempuran 10 November, merupakan buntut dari kegagalan perundingan antara pihak Indonesia dan Sekutu yang diwakili Inggris. “Bung Karno lalu memberi keputusan: ‘Terserah arek-arek Suroboyo’,” ujar Truus. Gubernur Suryo lalu berunding dengan berbagai perwakilan masyarakat di gubernuran. Loeki ikut hadir. “Dia bilang, ‘Gimana, merdeka atau mati?’,” ujar Truus menirukan. Penduduk Surabaya pilih melawan.

Sejalan dengan strategi pertahanan yang berpencar dan berpindah-pindah, Loeki membagi Palang Merah 45 menjadi tiga lini. Pertama, mereka yang bergerak di garis depan, dengan tiga petugas per unitnya. Kedua, pos transito, tempat merawat para korban sebelum dikirim ke rumahsakit dengan tenaga 5-7 perawat. Ketiga, pos induk, tempat pembagian tugas dan pengaturan giliran tugas; terkadang juga jadi tempat rawat-jalan para korban dan poliklinik. Ada beberapa dokter yang ikut membantu seperti Dokter Hadiono Singgih, Dokter Sapraun, dan Dokter Irsan Radjamin.

Palang Merah 45 bekerja dengan peralatan seadanya. Masing-masing anggota membawa satu tas kecil, verband tas namanya. Isinya sneelverband atau perban dengan saas (gundukan) tebal di dalamnya, mitela (perban segitiga), dan yodium tincture (semacam obat merah, untuk luka ringan). “Tas itu nggak boleh ketinggalan,” ujar Truus.

Empat ambulan bantuan milik mereka hampir tak pernah berhenti beroperasi, sehingga mereka harus bisa menyelamatkan para korban dengan berbagai cara. “Apa saja yang lewat, nunut.” Prioritas mereka adalah korban yang masih hidup. Korban tewas baru mereka urus ketika ada waktu sisa.

Sebagai unit khusus, mereka belum memiliki seragam. Para relawan mengenakan pakaian sehari-hari. Satu-satunya tanda pengenal mereka hanyalah rambut kelabang yang dinaikkan, sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan semasa Jepang. Baru setelah ada gencatan senjata, Palang Merah 45 membuat seragam. “Kita minta coklat, jadi lain dengan tentara. Nggak pernah ada yang putih,” ujat Truus.

Bukan hal mudah bagi mereka menjalankan tugas yang berurusan dengan darah dan tubuh korban yang tak lagi utuh. “Perut rada mual, munyer,” kenang Truus. Isbandijah –kemudian setelah menikah dikenal sebagai Nyonya Sungkono– suatu hari pernah mengumpulkan otak korban-korban yang tercecer ke dalam satu mitela lalu menguburkannya. “Saya bergidik, hanya satu kali,” kenang Truus. Namun karena jadi rutinitas, lama-lama mereka terbiasa.

[pages]

Muncul di Front

KRIAN, Sidoarjo, suatu pagi di tahun 1946. Mortir-mortir pasukan Inggris-NICA tiba-tiba memecah keheningan daerah Jrebeng. Orang-orang panik. Di sebuah rumah, para pemudi langsung mencari dan menyelamatkan obat-obatan, beragam dokumen, dan barang-barang penting lain. Mereka lalu menyelamatkan diri ke lubang perlindungan di halaman. Dua pemudi masih tertinggal ketika sebuah mortir menghantam rumah itu sesaat kemudian.

“Saya mengira bahwa saya akan hancur-lebur bersama mobil dan rumah yang menjadi pos kami,” tulis Darsini Soekarto, salah satu pemudi yang tertinggal tadi, dalam kesaksiannya, “Nyaris Disambut Maut”, dimuat dalam Seribu Wajah Wanita Pejuang Dalam Kancah Revolusi ’45, Buku Pertama. Dia ketika itu sedang lari menuju mobil yang diparkir di halaman untuk menyelamatkan obat-obatan. Belum sampai, mortir keburu menghajar rumah yang hanya berjarak sekira lima meter darinya. Dia langsung tiarap. “Badan saya terangkat-angkat oleh getaran ledakan peluru,” tulisnya.

Darsini dan pemudi-pemudi di rumah tadi merupakan anggota Palang Merah 45 bentukan Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI) pimpinan Loekitaningsih. Rumah yang dihantam mortir tadi merupakan posko mereka.

Banyak pemudi menggabungkan diri ke dalam organisasi kepalangmerahan tak lama setelah proklamasi kemerdekaan. Mereka umumnya masuk secara sukarela –meski ada juga yang ditugaskan tempat kerjanya– sebagai kontribusi bagi perjuangan. Latarbelakang mereka beragam, tapi kebanyakan pelajar. Usia mereka umumnya masih di bawah 20.

Sejumlah palang merah muncul secara spontan dengan stuktur organisasi dan peralatan seadanya. Mereka umumnya mengikuti front-front perjuangan yang tersebar di tanah air, memenuhi kebutuhan medis yang belum tersedia dalam ketentaraan. Tak ada standar prosedur bagi kerja palang merah; tergatung pada badan atau institusi yang menaunginya serta disesuaikan dengan kondisi dan tempat mereka. Begitu pula tugas anggota-anggotanya. “Kalau di situ nggak ada kecelakaan, nggak ada yang dirawat, saya cari beras, cari sayuran,” ujar Utari Suyanto, mantan anggota palang merah, kepada Majalah Historia.

Utari, kala itu berusia 16 tahun, bertugas di palang merah Rejowinangun, sekira lima kilometer dari Boja, Kendal. Poskonya menempati bekas rumah Belanda di tengah hutan. Selain untuk tempat merawat korban, posko juga menjadi asrama para dokter piket dan perawat. Peralatan dan obat-obatan didapatkan dari Rumah Umum Sakit Kendal. Para korban mendapat perawatan sementara di posko untuk kemudian dibawa ke rumahsakit.

Tugas anggota palang merah front Boja tak terlalu berat. Di Boja jarang terjadi pertempuran. Korban tak terlalu banyak. “Kalau sepi ya badminton, jalan-jalan ke hutan cari pisang, cari monyet,” ujar Utari, ketika itu baru 16 tahun, selain sebagai perawat juga bertugas sebagai pencari logistik.

Berbeda dari palang merah front Boja, palang merah di Makassar menjalani tugas lebih berat. Pertempuran kerap terjadi di sana, terlebih ketika Belanda menguasai Kota Makassar. Sebagai pemimpin palang merah, Emmy Saelan bahkan ikut memanggul senjata dan bergerilya hingga pedalaman. Untuk komunikasi antaranggota, Emmy menggunakan sandi sebagai sandi; bila seorang anggota memegang rambut harus dibalas dengan memegang rambut pula. Nama sandi Emmy sendiri adalah Daeng Kebo.

Meski kadang ikut bertempur, Emmy tetap menjalankan kerja kepalangmerahan. Dia mengobati dan merawat para korban. “Dia kan pernah kerja di rumahsakit, jadi tahu mengenai obat dan sebagainya,” ujar Maulwi Saelan, adik kandung Emmy.

Palang merah di Makassar bergerak dalam unit-unit kecil, mengikuti garis pertahanan para pejuang. Poskonya terpencar dan berpindah-pindah, dengan membawa peralatan dan obat-obatan seadanya. Jika bantuan obat-obatan kurang, Emmy sering turun tangan; mencari di rumahsakit bekas tempatnya bekerja.

Di Bogor, Hadiati Soema Atmaja dan teman-temannya menjadikan halaman depan rumah orangtuanya di Gang Menteng sebagai posko palang merah darurat. Neneng, panggilan Hadiati, berusia sekira 16 tahun sedangkan Sariyah 11 tahunan. Sariyah Soema Atmaja, ketua Wirawati Catur Panca Kotamadya Bogor, ingat bagaimana sepakterjang kakaknya. Neneng dan teman-teman merawat para korban dengan peralatan dan obat-obatan ala kadarnya. “Sederhana, ada kain buat perban ya pakai kain,” ujar Sariyah.

[pages]

Bahaya Mengintai

Risiko yang dihadapi para anggota palang merah tak kalah berat dari mereka yang pegang senjata. Bahaya selalu mengintai mereka. Peluru nyasar atau pecahan bom menjadi keseharian. Loeki, misalnya, seringkali hampir terserempet maut ketika menjalankan tugas. Dia dan rombongannya pernah ditembaki musuh dari salah satu rumah penduduk. Mereka langsung tiarap dan merangkak keluar mencari tempat aman. Tak lama setelah itu, mereka nyaris jadi santapan empuk pesawat musuh.

Ketika hendak meninggalkan kota dengan sedan Chrysler bertanda palang merah, di tengah jalan, pesawat musuh menukik ke arah mereka. Loeki dan rombongannya hanya pasrah. Untung saja pesawat itu akhirnya tak jadi menembak, hanya memutar dan mengikuti mobil mereka. “Setelah mereka yakin bahwa mobil kami betul-betul mobil Red Cross, akhirnya pesawat terbang itu menghilang,” kenang Loeki dalam “Saham Revolusi”.

Yang paling menegangkan mungkin adalah ketika Loeki dan rombongannya hendak mengantarkan ransum ke garis depan di front Trosobo. Di perjalanan, mobil mereka berpapasan dengan banyak kendaraan yang bergerak terburu-buru. Ketika mereka hampir sampai dan akan belok ke tujuan, mendadak tank musuh muncul dalam jarak sekira 100 meter. Tank itu langsung memuntahkan kanonnnya tapi meleset, hanya mengenai pohon di pinggir jalan. Dalam cengkeraman bahaya, supir ambulan langsung banting stir 180 derajat. Gerakan tersebut membuat tembakan musuh kembali meleset. Supir terus melarikan ambulan meski musuh terus memberondong. Ambulan akhirnya selamat. “Sangat mengherankan mengapa tank itu menembak ambulans?” kenang Loeki.

Ketegangan hampir selalu menemani hari-hari para anggota palang merah. Belum lagi, mereka menangani jumlah korban yang jauh melebihi batas. “Kita itu 24 jam, besok lagi, besok lagi,” ujar Truus. Istirahat hanya mereka dapat secara bergiliran. Itu pun sebentar. “Kalau kita bisa merem, itu sudah hebat.”

Loeki cepat-cepat meminta bantuan tambahan tenaga dan obat-obatan. Palang Merah 45 selalu aktif berkordinasi dengan badan ketentaraan setempat. Tak lama kemudian, bantuan pun datang dari Jakarta dan kota-kota lain.

Tapi, itu pun tetap belum meringankan beban tugas mereka. Jumlah korban dengan awak mereka tak sebanding. “Yang di front itu hanya kita,” ujar Truus. Belum lagi mereka seringkali tak sempat makan, apalagi mandi. Pola makan mereka tak teratur. Akibatnya, kondisi mereka pun terus mundur. Mereka kewalahan. Satu per satu sakit.

Suatu hari Dokter Hutagalung (dari divisi) memeriksa para anggota Palang Merah 45. Begitu tahu hasilnya, dia meminta divisi cepat ambil tindakan. “Suruh istirahat! Ini de meisjes, anak buah Loeki, sebentar lagi pada gila,” ujarnya sebagaimana ditirukan Truus.

Setelah gencatan senjata, Divisi VII, yang menguasai wilayah Surabaya dan sudah punya unit kesehatan, mengambil-alih pos-pos kesehatan Palang Merah 45 dengan menempatkan 200 prajurit kesehatan. Sementara Palang Merah 45 dibubarkan dan anggotanya kembali ke profesi masing-masing.

Banyak di antara mereka lalu menikah, aktif di staf I (bagian intelijen) divisi, atau melanjutkan tugas palang merah di tempat lain. Truus sendiri memilih meneruskan perjuangan. Saat itu, sekira 1947, Divisi VI Narotama pimpinan Mayjen Sungkono sudah mundur ke Kediri karena Surabaya diduduki NICA. Di Kediri, Staf I Divisi, yang menangani urusan intelijen, menarik Truus untuk menjadi telik sandi. Ketika bertugas sebagai mata-mata inilah Truss bertemu dengan Sardjono, biasa dipanggil Djon, lelaki yang dinikahinya pada 1954.

Mereka tak pernah memikirkan bahaya apalagi hasil yang bakal mereka peroleh dari pengorbanan mereka. Dalam benak mereka, menolong nyawa yang meradang merupakan satu panggilan jiwa. “Kalau bukan kita, terus siapa?” ujar Truus Iswarni Sardjono, yang kini menjabat ketua Bidang Umum Wirawati Catur Panca, organisasi yang mewadahi para perempuan pejuang 45.

[pages]
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK