Memburu Surat Sakti

Demi menyingkap kisah peralihan kekuasaan Sukarno ke Soeharto, ANRI membentuk tim pencarian naskah Supersemar. Bak mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

1520770195000
  • BAGIKAN
Memburu Surat Sakti
Repro Supersemar versi ketiga yang diserahkan Yayasan Akademi Kebangsaan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia pada 2012. Foto: Nugroho Sejati/Historia.

SELEMBAR surat itu tampak lusuh dan kusam, menguning dimakan usia. Sobek di sisi kanannya menyebabkan sebagian isi surat tak terbaca. Pada kop surat tertera: Presiden Republik Indonesia dan kata “Surat Perintah” mengikuti di bawahnya.

“Tadinya kami sudah yakin bahwa ini adalah Supersemar yang asli. Karena kondisinya sudah rusak parah,” ujar Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Mustari Irawan kepada Historia.

Surat itu menjadi versi ketiga Supersemar yang berhasil didapatkan oleh ANRI. Menurut Mustari, surat itu diserahkan ke pihak ANRI pada 2012 oleh Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, ketua Akademi Kebangsaan.

Nurinwa yang ditemui Historia di kediamannya di kawasan Depok Lama pada Maret 2016 lalu, berkisah seputar naskah Supersemar yang ada padanya. Berdasarkan penuturannya, surat itu didapatkan di petilasan makam Majapahit di Jalan Cempaka, Kecamatan Tegal Sari, Surabaya. Melalui perantaraan temannya, Nurinwa tak sengaja menemukan naskah Supersemar itu ketika sedang melakukan penelitian.

“Saya berinisiatif menyerahkannya ke Arsip Nasional, karena teman saya itu tidak terlalu paham birokrasi,” ujar Nurinwa.

Untuk menguji keaslian arsip, ANRI meneruskan lembar Supersemar itu ke laboratorium forensik Polri. Namun harapan publik selama ini untuk memperoleh naskah otentik Supersemar pupus. Setelah diuji, surat tersebut dinyatakan bukan yang asli.

“Jadi dianalisis melalui tandatangan (Sukarno), ternyata tidak satu tarikan tandatangan,” ungkap Mustari.

Dalam uji lab, tandatangan Sukarno diperbandingkan dengan delapan tandatangannya yang lain di tahun yang sama (1966). Dan hasilnya, tandatangan Sukarno dalam surat yang diuji tak menyerupai aslinya. Surat tersebut dikembalikan lagi oleh Pihak ANRI kepada pemiliknya. Kendati tidak asli, ANRI tetap merepro dan menyimpannya sebagai bahan pembanding dikemudian hari.

Menelusuri Supersemar

Hingga saat ini, ANRI telah mengoleksi tiga macam Supersemar. Yang pertama, diperoleh dari Pusat Penerangan TNI tahun 1995. Tak berapa lama kemudian, versi kedua Supersemar diperoleh dari Sekretariat Negara yang berasal dari repro buku 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 3: 1965—1973 (diterbitkan Sekretariat Negara pada 1980). Terakhir, Akademi Kebangsaan menyerahkan versi ketiga Supersemar pada 2012. Dari ketiganya tiada satu pun yang dinyatakan sebagai naskah otentik.

Menurut Mustari Irawan, sejak 2000, ANRI telah membentuk tim pencari Supersemar. Pencarian tersebut digagas kepala ANRI saat itu, M. Asichin. Penelusuran dilakukan dengan mewawancarai tokoh-tokoh yang dianggap mengetahui keberadaan Supersemar. Wacana ini tak terlepas seiring bergulirnya era reformasi dan tumbangnya rezim Soeharto.

Jendral (purn) Abdul Haris Nasution menjadi sosok pertama yang ditemui dan diwawancarai oleh ANRI. Dari Nasution, penelusuran berlanjut ke berbagai nama dan bermacam kalangan. Mulai dari ketua DPR Akbar Tanjung, kemudian orang-orang terdekat dengan Sukarno seperti para ajudannya: Sukardjo Wilardjito, Suharyanto di Yogyakarta (tentara yang bertugas di Istana Bogor), Maulwi Saelan dan Sidharto Danusubroto, dua pengawal presiden serta Sukmawati Sukarnoputri. Tim juga melakukan wawancara kepada beberapa tokoh angkatan ‘66 seperti Ridwan Saidi, Cosmas Batubara, bahkan sampai Moerdiono, mantan Menteri Sekretaris Negara era Orde Baru yang pada 1966 sudah bertugas di Sekneg.

“Dari semua yang kami wawancarai pada dasarnya mereka hanya mengatakan tahu, tapi dimana keberadaannya mereka tak tahu,” ujar Mustari.

Mustari mengakui, pihaknya tidak sempat mewawancarai orang penting seperti Jendral M. Jusuf (wafat pada 2004) yang dianggap sebagai tokoh kunci terkait keberadaan Supersemar. “Kami baru mewawancarai keponakannya M. Jusuf yang menjadi wakil walikota Makasar pada 2005, dan yang bersangkutan juga tidak tahu,” katanya.

Terakhir, ANRI mendapat informasi, Supersemar ada pada Moerdiono. Tim ANRI mewawancarai Moerdiono pada 2005 dan 2008. Dia mengatakan naskah asli Supersemar itu ada, dan isinya dua lembar. Saat Moerdiono menjadi pejabat di Sekretariat Negara pada dekade 80-an, kementrian itu berada di bawah Sudharmono.

Dalam otobiografinya Pengalaman Dalam Masa Pengabdian, Sudharmono menyebutkan bahwa teks asli Supersemar ada pada Brigadir Jenderal Budiono, Sekretaris Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Ketika Supersemar dikeluarkan, Budiono ditugaskan pimpinan Angkatan Darat, Letnan Jendral Soeharto untuk menggandakannya. Penggandaan itu bertujuan untuk melegitimasi penerbitan surat pembubaran PKI yang menjadi wewenang Grup V (bidang hukum dan intelijen) KOTI (Komando Operasi Tertinggi) – tempat Sudharmono berdinas sebagai ketua operasional. Setelah digandakan, Sudharmono hanya menerima surat yang digandakan. Sampai saat ini, ANRI belum memiliki surat asli yang dipegang oleh Brigjen Budiono.

ANRI juga telah menelusuri kembali keberadaan Supersemar ke pihak TNI AD, namun hasilnya nihil. Belum ada perkembangan terbaru tentang Supersemar.

Terkait sulitnya menemukan Supersemar, Mustari mengakui keberadaan surat tersebut sudah samar-samar saat baru dikeluarkan. Akibat kondisi politik yang mengarah chaos, tidak terpikir bahwa dokumen yang berisi Surat Perintah 11 Maret 1966 itu harus diselamatkan dan disimpan. Sehingga ketika digandakan, tidak jelas surat yang asli dibawa oleh siapa.

  • BAGIKAN
1 Suka
BOOKMARK