Kala Bom Berjatuhan di Cibadak

Kecerobohan tim intelijen militer Inggris berujung kehancuran sebuah kota kecil secara tragis.

1513044947000
  • BAGIKAN
Kala Bom Berjatuhan di Cibadak
Beberapa Thunderbolt milik RAF yang bersiap menyerang Cibadak. Foto: IWM

Tugu di depan gedung Sekolah Dasar Negeri III Cibadak, Sukabumi itu tertancap kuat di perut bumi. Sebagian badannya yang berlumut seolah penanda bahwa usia benda tersebut sudah tidak muda lagi. Namun tak banyak orang tahu, jika tugu tersebut merupakan pengingat suatu peristiwa penting. Tepat 72 tahun lalu di tempat tersebut telah mendarat sebuah bom yang dijatuhkan oleh pesawat tempur Thunderbolt milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris).

“Tapi tidak sempat meledak. Entah kenapa…” ujar Uwoh (92), salah satu eks pejuang Sukabumi yang ikut bertempur melawan tentara Inggris pada 1945.

Seperti dicatat oleh Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam The Fighting Cock: The Story of The 23rd Indian Division, sejak dihadang secara besar-besaran oleh para pejuang Indonesia di Bojongkokosan pada 9 Desember 1945, tentara Inggris berupaya mencari titik sumber serangan itu terjadi. Untuk mendapat informasi itu bukan hanya tenaga telik sandi saja yang disebar, namun juga beberapa pesawat pengintai pun ikut dikerahkan.

Karena terletak di antara Bojongkokosan-Cikukulu (dua tempat di mana tentara Inggris menderita korban yang cukup banyak), intelijen militer Inggris menyimpulkan bahwa pusat pertahanan para pejuang Indonesia adalah Cibadak. “Mereka kecele, kita tidak pernah berbasis di sana,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, Komandan Resimen 13 TKR (Tentara Keamanan Rakjat) yang membawahi Sukabumi dan Cianjur.

Maka sehari setelah mendapat hantaman di Bojongkokosan dan Cikukulu, pada 10 Desember 1945, dari pangkalan udara Cililitan, Jakarta, bergeraklah kurang lebih satu skwardon tempur RAF. Mereka terdiri dari empat Mosquito dan enam Thunderbolt (pesawat pembom yang memuat 500 pound bom).

Tahap pertama yang dilakukan oleh RAF adalah menyebarkan terlebih dahulu ribuan pamflet ke daratan Cibadak. Mereka menyerukan agar para pejuang Indonesia menyerah dan penduduk sipil menyingkir. Karena tak ada respon dari pihak TKR dan kelompok lasykar, maka beberapa jam kemudian mereka langsung melakukan pemboman secara membabi buta.

“RAF menjalankan penyerangan lewat udara yang paling dasyat selama keterlibatan mereka dalam “Perang Jawa”…” tulis Doulton.

Cibadak tak berdaya. Hampir sebagian besar wilayahnya menjadi lautan api lengkap dengan bumbungan asap tebal. Keadaan kota menjadi porak poranda. Puluhan mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Sebagain dari mereka adalah pejuang Indonesia atau penduduk sipil yang tak sempat menyingkir ke tempat aman kala serangan udara Inggris dimulai siang itu.

Dari pihak pejuang Indonesia sendiri, perlawanan hanya bisa bisa dilakukan secara minimal. Menurut Eddie, selain tak memiliki meriam penangkis serangan udara, di Cibadak kehadiran para pasukan TKR dan anggota lasykar memang hanya sedikit. Ada memang balasan, namun itu hanya dilakukan dengan senjata-senjata kaliber ringan peninggalan tentara Jepang.

Di tengah pemboman itu, terbuhul suatu kisah heroik. Seorang anggota TKR bernama Ojong Bantamer nekad memanjat pohon kelapa sambil membawa senjata ringan. Dari atas pohon kelapa itulah, ia lantas menembaki pesawat-pesawat tempur Inggris tersebut.

“Kedengarannya memang konyol, tapi entah karena lagi beruntung, tembakan si Ojong berhasil merusak sayap salah satu pesawat tempur itu,” ujar Uwoh.

Usai pemboman yang berlangsung satu jam itu (menurut pihak Indonesia berlangsung lebih dari satu jam dan dilakukan dua kali), Cibadak ada dalam kondisi tak menentu. Puing-puing memenuhi kota dan hampir dipastikan sebagian besar infrastruktur hancur lebur. Korban nyawa sendiri tak bisa dipastikan jumlahnya. Namun menurut Eddie Soekardi yang jelas bisa mencapai angka ratusan.

“Anak buah saya sendiri yang gugur akibat pemboman itu berjumlah lebih dari 40 orang…”ungkapnya.

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK