Antara Ada dan Tiada

Keberadaan naskah Supersemar yang otentik belum teridentifikasi hingga kini. Masihkah layak diperbincangkan?

1520763526000
  • BAGIKAN
Antara Ada dan Tiada
Surat Perintah 11 Maret versi Pusat Penerangan ANgkatan Darat (Puspenad). Foto: Nugroho Sejati/Historia

Beberapa bulan sebelum mangkat, sejarawan Saleh As’ad Djamhari dari Pusat Sejarah TNI mengatakan keberadaan Supersemar secara materi (naskah otentik) sudah tidak perlu diperbincangkan lagi. “Itu kan sudah menjadi (urusan) pribadi Pak Harto,” kata sejarawan berpangkat kolonel (tituler) kepada Historia.

“Surat itu dipegang sendiri oleh Pak Harto. Jadi jimatnya beliau,” lanjut Saleh yang juga dosen mata kuliah Sejarah Militer di Universitas Indonesia itu.

Menurut Saleh, tidak ada perbedaan isi Supersemar asli dengan salinan yang ada saat ini. Inti terutama dari Supersemar adalah kalimat kunci: “Atas nama Presiden memerintahkan kepada Letnan Jendral Soeharto”.

“Kamu saya beri mandat atas nama saya untuk ambil duit. Nah, sampean yang ambil duit toh? Ya sudah, itu selesai,” ujar Saleh beranalogi.

Ditanya mengenai urgensi Supersemar saat ini, Saleh menyatakan kalau untuk melengkapi penulisan sejarah masih tetap diperlukan. “Tapi kalau materi, suratnya, kertasnya, ya sudah tidak tahu lagi ada di mana,” pungkas Saleh.

Hal senada disampaikan Agus Santoso, pejabat ANRI yang pernah memimpin pencarian Supersemar. Menurut Agus, yang kini menjabat Direktur Pemanfaatan dan Layanan Arsip, ada empat orang tokoh kunci yang mengetahui persis naskah asli Supersemar antara lain, Presiden Soeharto; Sudharmono (Menteri Sekretariat Negara 1972—1988); Moerdiono (Menteri Sekretariat Negara 1988—1998); Brigjen Budiono. Kini semuanya telah wafat.

Pihak ANRI sampai hari ini masih tetap melakukan pencarian dan berharap suatu hari nanti akan ditemukan naskah asli Supersemar. Status Supersemar sampai sekarang ditetapkan dalam Daftar Pencarian Arsip (DPA) dan masuk pada kategori Arsip Kepresidenan – program terbesar ANRI.

Selain menjadi bukti peralihan pemerintahan dari Presiden Sukarno ke rezim Soeharto, ada beberapa pertanyaan penting yang akan terjawab bilamana Supersemar yang asli ditemukan. Antara lain bagaimana sebenarnya isi teks asli Supersemar itu? Berapa lembar dokumen Supersemar, satu atau dua halaman? Di mana Supersemar dibuat, di Bogor atau di Jakarta?

Jika sudah ditemukan, kami akan menyimpannya dengan baik. Kalau sudah rusak, akan direstorasi. Kemudian akan disampaikan kepada masyarakat agar diakses oleh publik dengan memperhatikan kondisinya,” ujar Kepala ANRI Mustari Irawan kepada Historia.

“Sudah menjadi suatu keharusan bahwa itu harus dibuka kepada publik, karna sudah menjadi arsip publik,” ujar Mustari.

  • BAGIKAN
1 Suka
BOOKMARK