Aksi Pejuang Bekasi

Veteran ini enggan menerima tunjangan. Memegang teguh sumpahnya sebagai pejuang tanpa mengharap imbalan.

1499949800000
  • BAGIKAN
Aksi Pejuang Bekasi
H. Ilyasa bin H. Malih, veteran asal Babelan, Kabupaten Bekasi, mantan anggota Laskar Hisbullah pimpinan KH Noer Ali. Foto: Randy Wirayudha.

Banyak veteran pejuang kemerdekaan yang hidupnya prihatin. Mereka hanya bergantung kepada tunjangan veteran setiap bulannya. Namun, H. Ilyasa bin H. Malih, veteran asal Babelan, Kabupaten Bekasi, enggan menerima tunjangan. Kendati hidupnya sederhana, mantan anggota Laskar Hisbullah pimpinan KH Noer Ali ini, punya alasan mengapa menolak tunjangan itu.

“Kita mah enggak berharap tunjangan. Dulu kita ikut laskar kan juga udah disumpah jabatan sebagai anggota pakai Alquran segala di atas kepala kita, bahwa kita berjuang tanpa pamrih. Kita berjuang jangan ngarepin (mengharapkan) gaji, kita berjuang dengan ikhlas,” kata Ilyasa di kediamannya kepada Historia.

“Kalau kita minta tunjangan, minta pamrih, ya kita mengingkari sumpah kita sendiri. Tapi itu kalau saya. Kalau (veteran) yang lain berharap tunjangan, ya silakan aja. Tapi memang sering tuh saya ngedapetin orang yang suka ngaku-ngaku. Bilangnya dulu berjuang, padahal mah saya tahu dia dulu enggak ikut perang,” tambahnya.

Kalau ada yang mengaku-ngaku sebagai mantan anak buah KH Noer Ali, Ilyasa biasanya akan mengajukan pertanyaan: di mana baku tembak pertama Laskar Hisbullah dengan Sekutu (Inggris) dan Belanda di Bekasi? “Kalau jawabnya tidak sama dengan saya, berarti dia bukan pejuang dulunya,” lanjut Ilyasa.

Ilyasa menceritakan bahwa baku tembak pertama Laskar Hisbullah dengan Sekutu terjadi di Pedaengan atau kini Cakung, Jakarta Timur. Tepatnya di sekitar front garis demarkasi pasca Jakarta dijadikan kota diplomasi pada 9 November 1945.

Sebagaimana diungkapkan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Resimen V/Jakarta Raya Letkol Muffreni Mu’min dalam biografinya, Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min, semua pasukan bersenjata kecuali polisi, diharuskan keluar dari Jakarta. Sementara eksistensi tentara Republik hanya boleh diwakili kantor penghubung di Jalan Cilacap Nomor 5.

Semua badan-badan perjuangan, keluar dari Jakarta dan Letkol Muffreni memilih markasnya yang baru di Cikampek, hingga mengubah unitnya dari Resimen V/Jakarta Raya menjadi Resimen V/Cikampek. Meski begitu, wilayah pengawasannya tetap meliputi Jakarta, Bekasi, Cikarang, Karawang, hingga Cikampek.

Kali Cakung dijadikan front terdepan karena di situlah garis demarkasinya. Muffreni tidak hanya menempatkan pasukannya dari Batalyon III Bekasi, tapi juga meminta bantuan dari sejumlah badan perjuangan lain, termasuk Laskar Hisbullah.

“Sering itu ada infiltrasi dari sekutu atau Belanda yang coba-coba melewati garis demarkasi di Cakung. Biasanya kita takutin dengan tembakan, baru dia mundur lagi. Tapi seiring waktu, kita terus terdesak. Terutama setelah ada bentrok besar, Pertempuran Sasak Kapuk (kini Pondok Ungu, Bekasi Utara),” kata Ilyasa.

Pertempuran Sasak Kapuk

Pertempuran Sasak Kapuk terjadi pada 29 November 1945. Konvoi Inggris datang dari arah Klender menuju Cakung melewati Kranji. Dekat Stasiun Kranji, pasukan Punjab Ke-1, Pasukan Perintis ke-13, Resimen Medan Ke-37, Detasemen Medan ke-69 serta Kavaleri FAVO ke-11, sempat dihadang lebih dulu oleh kelompok Pesilat Subang pimpinan Ama Puradiredja.

Meski dampaknya tidak besar, setidaknya konvoi Sekutu itu sempat tercerai-berai sebelum akhirnya dihantam lagi di Sasak Kapuk oleh gabungan Laskar Hisbullah, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pimpinan M. Hasibuan, serta para pemuda rakyat.

“Dari arah Kranji setelah mereka diserang kelompok pesilat, mereka nembakin mortirnya ke arah Sasak Kapuk. Kita yang masih pada ngumpet, melihat mortir-mortirnya enggak ada yang meledak. Pada takabur yang lain dan ketika keluar dari tempat persembunyian, baru ditembakin infantrinya Inggris,” kenang Ilyasa.

Ilyasa dan rekan-rekannya yang lain, termasuk KH Noer Ali pun memilih mundur ke arah Kaliabang. Beruntung, Inggris tak ikut mengejar, hanya terus menembaki artileri dan mortir, sementara para pejuang mundur. Ilyasa juga mengaku bahwa ketika tengah lari tunggang langgang mundur dari pertempuran, senapan Lee Enfield-nya nyaris hilang karena terjatuh.

“Itu senjata kita satu-satunya. Dulu itu dapatnya dari penghubung tentara yang sering komunikasi dengan KH Noer Ali. Sebelumnya waktu awal-awal ikut mah, pegangnya masih golok sama bikin panahan. Mata panahnya kita bikin dari bambu, terus dikasih racun kodok,” aku veteran kelahiran 1928 itu.

Ilyasa ikut KH Noer Ali sekitar usia 16-17 tahun. Thamam, mantan tentara Heiho (tentara pembantu Jepang), melatihnya menembak, melempar granat Jepang yang kepala pinnya kuning (Kyunana-shiki Teryudan/Granat Tangan Type 97), biasanya digetok di kaki dulu, ditahan pinnya, baru diayun tiga kali sebelum dilempar.

Kisah tentang front terdepat di Kali Cakung juga didapat dari veteran Hisbullah lainnya, H. Mursal. Sebagaimana diceritakan Ilyasa, Mursal juga mengalami baku tembak pertamanya di Pedaengan, Cakung.

“Sampai kita harus bikin halang rintang itu. Nebangin pohon-pohon yang kecil sampai yang gede buat menghalangi Inggris sama Belanda yang sering nyolong-nyolong (menyusup) masuk ke wilayah kita. Tapi ya yang namanya Belanda, peralatannya banyak, gampang aja menerobos penghalang yang kita bikin,” aku Mursal.

Ilyasa dan Mursal untuk sementara ini tercatat sebagai dua dari tiga mantan anggota Laskar Hisbullah yang tersisa. Satu veteran lainnya yang juga pernah ditemui Historia adalah Mat Ali yang tinggal di Tarumajaya.

Sedianya sebelum ini masih ada satu lagi, H. Abdullah di Karawang yang sayangnya terakhir kali coba disambangi, ternyata sudah tiada sejak medio Juni 2017. Menariknya, kesemua veteran Laskar Hisbullah itu menggemari senapan Lee Enfield buatan Inggris.

“Kalau senjata Jepang mah jarang kita bisa ngenain musuh. Lebih enak pakai LE (Lee Enfield). Pasti kena kalau nembak pakai itu,” cetus Mat Ali.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK