Yang Keliru Tentang Masa Lalu

Dua situs sejarah sekitar revolusi di Cianjur menyajikan informasi yang salah. Pemerintah setempat sama sekali tak peduli.

07 June 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Yang Keliru Tentang Masa Lalu
Situs-situs sejarah era revolusi di Cianjur. (foto: Abdul Basyith/Hendi Jo)

JIKA ke Bandung via Cianjur,  anda akan melewati sebuah tugu yang unik di sekitar Pasar Ciranjang (kira-kira 15 km dari pusat kota). Tugu yang terletak di depan deretan rumah toko itu merupakan replika pesawat (disebutkan di tugu tersebut) jenis Boeing 747 berwarna hijau militer dengan simbol KLM (maskapai penerbangan Belanda) lengkap dengan lambang bendera Si Tiga Warna. Monumen apakah itu gerangan?

“Katanya itu untuk memperingati jatuhnya pesawat Belanda yang ditembak tentara Indonesia saat zaman perjuangan dulu,” ujar Oni (36), salah seorang warga Ciranjang.

Apa yang dikatakan Oni sejatinya jauh dari kebenaran sejarah. Menurut Raden Makmur (90), selama revolusi berlangsung di Indonesia (1945-1949) tak pernah ada satu pun pesawat milik Kerajaan Belanda (terlebih milik penerbangan sipil seperti KLM) yang jatuh di Ciranjang.

Baca juga: Palagan Kali Cisokan

“Kita mau nembaknya pakai apa? Pake bedil biasa? Ya tidak mungkin,” ujar lelaki yang pernah bergabung dengan lasykar BBRI (Barisan Banteng Repoeblik Indonesia) itu.

Menurut Makmur, kisah pesawat terbang jatuh di Ciranjang memang pernah ada. Tapi bukan milik Belanda, melainkan milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris).  Ceritanya beberapa bulan setelah proklamasi, Ciranjang diserang oleh sebuah pesawat pemburu jenis Mustang (atau bisa jadi jenis Mosquito). Selain membom beberapa posisi yang dianggap sarang “ekstrimis” Indonesia, pesawat tersebut juga menembaki mobil-mobil sipil yang tengah melaju di jalan raya.

“Termasuk katanya sempat menembaki sedan yang ditumpangi oleh Pak Nata Mihardja, Kepala Polisi Ciranjang, namun tidak sempat kena,” ungkap Makmur.

Namun saat bermanuver di sekitar wilayah Curug,  karena terbang terlalu rendah, salah satu sayap pesawat itu membentur sebatang pohon kelapa hingga oleng dan jatuh di tengah pasar. Maka hancur leburlah pesawat legendaris pada Perang Dunia II itu.

Pendapat Makmur berkelindan dengan sebuah dokumen berjudul “Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Mempertahankan Kemerdekaan NKRI (1942-1949)” yang disusun oleh DHC (Dewan Harian Cabang) Angkatan 45 Kabupaten Cianjur. Dalam dokumen setebal 137 halaman itu, salah seorang veteran bernama Abu Bakar (terakhir berpangkat kolonel) bersaksi bahwa pesawat pemburu itu memang milik RAF yang tengah melancarkan aksinya pada 3 Desember 1945 jam 11.00.

Abu Bakar juga membenarkan Mustang itu jatuh karena salah satu sayapnya mengenai batang pohon kelapa yang banyak tumbuh di wilayah Curug. Dalam situasi hilang keseimbangan, pesawat tersebut meluncur tak terkendali dan jatuh di sekitar halaman gedung Kewedanaan Ciranjang persis dekat pasar.

“Seorang tukang cukur rambut dan seorang serdadu Jepang tewas seketika tertimpa pesawat yang jatuh itu,” ujar salah satu tokoh terkemuka LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Cianjur tersebut

Namun berbeda dengan versi Makmur yang menyatakan pesawat itu langsung hancur lebur saat jatuh, Abu Bakar menyatakan pesawat itu masih agak utuh ketika mendarat secara keras. Bahkan sekelompok anggota TKR (Tentara Keamanan Rakjat) dari Kompi III Batalyon III  sempat mengepung bangkai pesawat tersebut dan menembaki dua penumpangnya lalu merampas senapan mesin 12,7 dan sebuah pistol buatan Jerman.

“Pesawat itu lalu ditembaki secara gencar dan meledak berkeping-keping,” ungkap Abu Bakar.

Lantas mengapa versi sejarah yang lebih valid dan bisa dipertanggungjawabkan ini tidak menjadi acuan pembuatan tugu tersebut? Semua orang yang saya temui di Ciranjang tak bisa menjawabnya.

Kesalahkaprahan juga terjadi pada Jalan Adi Sucipta di pusat kota Cianjur. Nama yang identik dengan seorang komodor pionir TNI Angkatan Udara itu sebetulnya adalah milik seorang pahlawan perang kemerdekaan asal Cianjur bernama Asmin Sucipta. Namun entah bagaimana ceritanya, nama “Asmin” berubah jadi “Adi”.

Pada tahun 1980-an, seorang anggota DPRD Cianjur bernama Rahmat Purawinata pernah mengingatkan soal tersebut ke pihak Pemkab Cianjur dan langsung dituruti dengan mengganti secepatnya nama jalan tersebut dengan Jalan A. Sucipta. Namun begitu dia berhenti dari anggota DPRD, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah: Jalan Adi Sucipta. 

“Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab berubahnya kembali nama jalan itu,” ujar lelaki yang masih memiliki hubungan darah dengan pejuang Asmin Sucipta tersebut.

Lantas siapa sebenarnya Asmin Sucipta atau A. Sucipta itu?

Menurut Qadim (95), Asmin adalah seorang pejuang terkemuka Cianjur yang memimpin LASPO, sebuah milisi lokal yang berafiliasi kepada Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia). Di kalangan pejuang Cianjur dan Sukabumi, Asmin dikenal sebagai seorang penembak runduk yang mumpuni.

“Pak Asmin itu jagonya nembak musuh dari jarak jauh. Kalau seorang musuh sudah ada dalam kecenganana (incaran tembakannya) sudah dipastikan dia mati,” ungkap eks anak buah Asmin Sucipta itu.

Keahlian Asmin dalam hal menembak diakui oleh putra pertamanya, Mahkun Cipta Subagyo (75). Dari kakeknya, Muhammad To’ib Zamzami (yang tak lain adalah kawan seperjuangan Asmin), Mahkun mendapat cerita bahwa suatu hari sang ayah pernah menghabisi 11 prajurit ubel-ubel (sebutan para pejuang untuk pasukan British India Army) dari jarak sekitar 500 meter hanya dengan mempergunakan Si Dukun, senjata Lee Enfield kesayangannya.

“Menurut kakek, waktu itu ayah menembaki serdadu-serdadu yang ada di jalan raya Sukabumi-Cianjur itu dari balik pepohonan di pinggir Sungai Cisarandi” ujar Mahkun.

Baca juga: Neraka Pasukan Gurkha

Tak cukup dengan aksi penembakan jarak jauh, Asmin pun terlibat aktif dalam penyerangan-penyerangan nekad ke wilayah kekuasaan militer Belanda. Pernah suatu siang, Asmin melumpuhkan dua serdadu Belanda yang tengah jalan-jalan di sekitar Pasar Bojongmeron. Dengan menggunakan botol kecap, dia memukul kepala kedua serdadu tersebut lantas merampas senjatanya.

Karena aksi-aksinya, militer Belanda sangat mengincar Asmin. Dalam suatu perjanjian gencatan senjata pada 1948, Asmin berhasil diringkus lalu dibawa ke penjara Paledang, Bogor. Selanjutnya nasib Asmin berakhir di ujung senapan tim eksekusi mati militer Belanda dan jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dereded, Bogor.

Berdasarkan kisah sejarah itu, Mahkun menyatakan harapannya agar nama Jalan Adi Sucipta dirubah kembali menjadi Jalan Asmin Sucipta. Hal itu memang sudah sering disuarakan oleh media dan komunitas pecinta sejarah di Cianjur.

“Tapi hingga kini mereka (pemerintah Kabupaten Cianjur) masih saja acuh tak acuh, inilah susahnya kalau punya pemerintah tak memiliki kesadaran sejarah,” ujar Helmy Adam, aktivis komunitas sejarah De Brings Tjiandjoer.

 

sejarah-kota, sejarah-revolusi
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
3 Suka
BOOKMARK