Diperbarui: 5 hari yang lalu
SUATU pagi pada 28 September 1963. Kopral Tejbahadur Gurung, seorang tentara Gurkha Rifles 1/2, terkesiap mendengar informasi dari petugas patroli perbatasan tentang keberadaan pasukan Indonesia di Desa Long Jawai, sekira 80 km dari Borneo (Kalimantan Utara). Dia memerintahkan tiga petugas operator radio untuk meminta bantuan ke kantor pusat di Belaga, kota kecil di sepanjang Sungai Rejang, Sarawak.
Tejbahadur mengambil kotak berisi granat kemudian bergerak. Ketika mencapai puncak bukit, dia dan anak buahnya diserang mortir 60 mm. Terjadi baku tembak. Tejbahadur kewalahan. Seorang Gurkha tewas dan lainnya tertembak. Sementara bantuan tak kunjung tiba.
Rupanya, petugas operator radio yang turun ke desa tak mendapatkan sinyal sehingga tak bisa mengontak kantor pusat. Mereka bahkan diberondong pasukan Indonesia yang berada di sebuah sekolah. Satu Gurkha dan satu polisi lapangan (Police Field Force atau PPF) tewas. Seorang polisi PFF yang terluka melarikan diri. Lima orang tewas dari pihak Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















