Diperbarui: 14 Sep
PERANG Aceh jelas perang tersulit bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda dan tentara kolonialnya, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Banyak uang terhambur dan serdadu-serdadu gugur sia-sia dalam perang panjang itu. Tapaktuan di Aceh bagian selatan juga menjadi arena peperangan itu.
Majalah Trompet No. 66, Juni 1939 menyebut daerah Tapaktuan sempat sepi dari perlawanan sebelum 1902. John Fitzgerald McCarthy dalam The Fourth Circle A Political Ecology of Sumatra's Rainforest Frontier menyebut pada 1901 di Tapaktuan telah ditempatkan seorang pejabat kolonial, yakni Colijn.
Daerah Tapaktuan punya nilai ekonomis. Hutannya kaya akan karet. Sekitar tahun 1901, ratusan orang didatangkan dari luar untuk mengumpulkan getah karet hutan. Namun, meski ada kekuasaan Belanda di daerah itu, keadaan tak sepenuhnya aman.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















