Diperbarui: 22 Sep
BUKAN hal mudah bagi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Komodor Suryadi Suryadarma mengonsolidasikan kekuatan semenjak AURI (kini TNI AU) didirikan via Penetapan Pemerintah No. 6/SD tanggal 9 April 1946. Sejak masih bernama Tentara Republik Indonesia (TRI) Jawatan Udara, alutsista maupun sumber daya manusianya (SDM) masih tersebar dan belum satu komando.
“Sejak diresmikannya AURI, praktis telah mendorong pimpinan untuk menyempurnakan organisasi. Betapapun sulitnya masalah waktu itu, khususnya dalam usaha mempersatukan TKR Bagian Penerbangan yang otonom telah kuat kedudukannya di masing-masing daerah, tidak jarang terbentur ketegangan pendirian yang sebetulnya tak perlu terjadi,” tulis Irna HN Sowito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950.
Ketegangan pendirian itu terjadi antara lain di Pangkalan Udara (Lanud) Bugis di Malang, Jawa Timur (kini Lanud Abdulrachman Saleh). Butuh waktu hingga setahun sejak AURI berdiri sampai Lanud Bugis bisa diambil alih Markas AURI di Yogyakarta dari TRI Divisi VII/Suropati di bawah Jenderal Mayor Imam Soedja’i.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















