- 14 Sep 2022
- 2 menit membaca
SUATU hari pada 1960-an, Kolonel Suhario Padmodiwirio mengadakan inspeksi ke daerah yang kini termasuk Provinsi Kalimantan Utara. Kala itu, sang kolonel yang dikenal sebagai Hario Kecik, menjabat panglima Komando Daerah Militer (Kodam) yang bertanggung jawab atas daerah Kalimantan Utara dan Timur. Kodam itu berpusat di Balikpapan. Ketika lelah melakukan inspeksi, dia diajak makan.
“Uwis jam piro, Mas?” kata seorang tua asli daerah itu tapi bukan orang Jawa. Artinya “sudah jam berapa, Mas?” Hario Kecik merasa heran.
“Eh, Opo Pake ngerti coro Jowo?” tanya Hario Kecik. Artinya “Eh, apa Bapak mengerti bahasa Jawa?” Orang tua itu hanya meringis saja.
“Makanan sudah ada, mari makan, Pak,” kata pria tua itu. Hario Kecik semakin bingung.
Kapten Tosin menghampiri Hario Kecik dan mengatakan bahwa makanan sudah siap. Hario Kecik lalu bertanya pada Tosin soal percakapan yang membingungkan antara dia dan bapak tua tadi. Tosin pun segera bertanya ke bapak tua itu. Jawabannya membuat Tosin tertawa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















