top of page

Sehimpun Riwayat Giyugun

Di masa pendudukan, Jepang membentuk pasukan militer Giyugun yang terdiri dari orang-orang pribumi di Sumatra dan Jawa. Penelitian sejarawan Jepang Aiko Kurasawa menjadi kajian paling awal tentang Giyugun dalam sejarah militer Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 26 Mar 2024
  • 3 menit membaca

Tidak seperti kebanyakan pemuda sepantarannya, Soedirman lolos seleksi pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor tanpa melalui pemeriksaan fisik. Soedirman yang sebelumnya berprofesi sebagai guru sekolah Muhammadiyah itu dianggap cukup berpendidikan. Setelah digembleng beberapa bulan, Soedirman menjadi komandan batalion (daidancho) PETA di Banyumas. Selain Soedirman, ada Kasman Singodimendjo yang kemudian menjadi daidancho di Jakarta.


“Soedirman dan Kasman masuk PETA tanpa pemeriksaan badan, tapi ditunjuk oleh Jepang,” kata sejarawan Aiko Kurasawa dalam peluncuran bukunya Giyugun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra di Kompas Institute kemarin (25/3).


PETA adalah tentara sukarela bumiputra yang dibentuk Jepang pada masa pendudukannya di Jawa. Dalam bahasa Jepang tentara sukarela disebut Giyugun. Penyebutan Giyugun tetap digunakan untuk merujuk tentara sukarela bentukan Jepang yang ada di Sumatra.



Pada 1970-an, historiografi tentang pendudukan Jepang di masa Perang Dunia II mulai mendapat tempat sebagai objek penelitian di kalangan sejarawan. Itu pula yang memantik Aiko Kurasawa dalam penelitiannya di Cornell University tentang PETA (1974) dan Giyugun Sumatra (1976). Penelitian Aiko ini kemudian diterbitkan secara stensilan oleh Seknas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan judul Lahirnya Pembela Tanah Air.  Sementara itu, sejarawan Indonesia Nugroho Notosutanto baru menerbitkan disertasi tentang PETA pada 1979 berjudul The PETA Army During the Japanese Occupation of Indonesia.


Sejarawan Aiko Kurasawa dalam peluncuran bukunya Giyugun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra di Kompas Institute kemarin, 25 Maret 2024. Foto: Historia/Martin Sitompul.
Sejarawan Aiko Kurasawa dalam peluncuran bukunya Giyugun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra di Kompas Institute kemarin, 25 Maret 2024. Foto: Historia/Martin Sitompul.

Dalam meneliti tentang PETA dan Gyugun Sumatra, Aiko menyandarkan risetnya dari hasil wawancara pelaku sejarah. “Sembilan puluh sembilan persen didasarkan atas wawancara,” ungkap Aiko.


Aiko cukup beruntung. Saat itu, dia masih bisa mendapatkan banyak narasumber baik di Jepang maupun Indonesia. Dia mewawancarai sejumlah eks perwira PETA, Giyugun Sumatra, maupun eks instruktur Jepang.


“Semua senang diwawancarai,” kenang Aiko. “Saya diterima dengan senang hati dan mereka sangat terbuka.” Hasil wawancara itu direkam Aiko dalam kaset tape yang sekarang sudah didigitalisasi dan dapat diakses siapa saja.  



Meski menyebut dirinya tentara sukarela, menurut Aiko, Giyugun lahir karena Jepang butuh tentara lebih banyak untuk mengamankan daerah jajahannya. Apalagi untuk kawasan seluas Jawa dan Sumatra, Jepang kekurangan kekuatan militer. Di Jawa saja, Jepang hanya memiliki 10.000 prajurit.


“ Jepang mengatur pembentukan PETA ini seolah-olah atas keinginan dari pihak Indonesia. Jadi, sebenarnya Jepang yang ingin mendirikan PETA, tetapi mendorong seorang tokoh nasionalis bernama Gatot Mangkoepradja agar memberikan permohonan atau petisi pembentukan tentara sukarela,” terang Aiko.


Pada awal pembentukannya tahun 1943, PETA terdiri dari 35 daidan (batalion). Pada 1944, ditambah 20 daidan. Dan pada 1945, ditambah lagi sebanyak 11 daidan. Hingga berakhirnya pendudukan Jepang terdapat 66 daidan PETA di Jawa atau sekira 30.000 prajurit. Dengan demikian, pasukan PETA tersebar di seluruh karesidenan di Pulau Jawa. 

  


Di Sumatra, Jepang membentuk Giyugun secara lebih lugas, tanpa polesan “sandiwara” seperti di Jawa. Persebarannya juga hanya di sebagian wilayah Sumatra meliputi titik-titik penting pertahanan. Mulai dari pesisir timur, Aceh, pesisir barat, Bukittinggi, Sumatra Selatan, dan wilayah pertahanan lapangan udara.


Sementara itu, di bagian timur Indonesia, tentara sukarela tidak dibentuk. Wilayah itu dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang. Berbeda dari Angkatan Darat, Angkatan Laut lebih khawatir apabila kaum bumiputra dipersenjatai maka suatu saat bakal melancarkan perlawanan. Ibarat “digigit oleh anjing sendiri,” demikian diumpamakan Aiko.   


Dalam menggembleng tentara sukarela, menurut Aiko, instruktur militer Jepang lebih banyak melatih taktik gerilya. Hal ini dimaksudkan sebagai cara bertahan andaikata Sekutu datang menyerang. Kelak, taktik gerilya ini pula yang menjadi andalan dalam menghadapi tentara Belanda pada Perang Kemerdekaan Indonesia. Dalam perang gerilya, tersebutlah nama Soedirman –perwira jebolan PETA, yang menjadi panglima tertinggi militer Indonesia selama Perang Kemerdekaan.      



Menurut sejarawan Didi Kwartanada, tentara sukarela bentukan Jepang berperan penting dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kemudian hari. Tengok saja dari para jenderal yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)  dari masa revolusi hingga 1983. Kecuali Abdul Haris Nasution yang lulusan KMA Bandung, semua adalah jebolan PETA dan Giyugun. Mereka adalah: Djatikusumo, Bambang Soegeng, Bambang Utoyo, Ahmad Yani, Pranoto Reksosamodra, Soeharto, Maraden Panggabean, Umar Wirahadikusumah, Surono, Makmun Murod, Raden Widodo, dan Poniman.


“PETA dan Giyugun adalah salah satu cikal bakal TNI,” ulas Didi Kwartanada.


Senada dengan Didi, Aiko juga mengungkapkan PETA dan Giyugun Sumatra merupakan inti dari TNI pada awal masa revolusi. Terlepas dari apakah tentara sukarela ini menjadi boneka Jepang semasa pendudukan, terjawab setelah memasuki era kemerdekaan Indonesia. Banyak dari eks PETA dan Giyugun kemudian melancarkan perlawanan terhadap Jepang; merebut senjata Jepang, dan meleburkan diri ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR).



Namun, bertahun-tahun setelah kemerdekaan, nasib prajurit TNI jebolan Giyugun Sumatra jauh lebih miris. Pada 1960, banyak dari mereka harus menanggalkan seragam TNI lantaran kecewa. Apa sebab?


“Eks Giyugun banyak yang meninggalkan TNI karena terlibat PRRI,” tutup Aiko.    

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
transparant.png
bottom of page