- 23 Mei 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
RENTETAN teror mengatasnamakan agama menguar sepekan belakangan ini. Setelah aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, menyusul penyerangan markas polisi di Pekan Baru, Riau. Kebanyakan yang menjadi korban adalah warga sipil. Untuk mengatasinya, pemerintah sedang mempersiapkan Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab).
Koopsusgab dibentuk pada 2015 di masa kepemimpinan Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Meski hanya berjumlah 90 orang, Koopsusgab disebut-sebut sebagai unit pasukan antiteror paling mematikan. Personelnya berasal dari pasukan elite gabungan tiga matra: Satuan (Sat)-81 Gultor Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) Angkatan Laut, dan Satuan Bravo (Satbravo) 90 Korps Pasukan Khas Angkatan Udara. Dari ketiganya, Sat-81 Gultor menjadi pasukan yang merintis operasi antiteror pertama di Indonesia.
“Itulah inti pasukan pilihan diantara pasukan pilihan di Kopassus pada waktu itu,” kata Luhut Panjaitan, komandan pertama Sat-81 Gultor kepada Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Ketika dipimpin oleh Luhut, Sat-81 Gultor masih bernama Detasemen 81/Antiteror. Bagaimana kisah pembentukannya?
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















