- Randy Wirayudha

- 3 Feb 2021
- 6 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
SUDAH tiga bulan sejak Jenderal Douglas MacArthur menginjakkan kaki lagi di Filipina untuk menunaikan janjinya, “I Shall Return!”, namun Manila masih belum dikuasainya. Padahal, bagi MacArthur Manila merupakan yang utama di Filipina.
MacArthur mendarat kembali ke Filipina pada 20 Oktober 1944. Dia mendarat di Pantai Merah Leyte. Saking semangatnya, MacArthur yang ditemani Presiden Filipina Sergio Osmeña turun dari kapal sesegera mungkin walau celananya harus kebasahan oleh air laut di bibir pantai.
“Bagi MacArthur, kembali ke Filipina dan menunaikan janjinya sudah jadi obsesi lamanya, sebagaimana paus beluga bagi Ahab dalam novel (Herman) Melville, Moby Dick. Kepala staf intelijen MacArthur Brigjen Charles Willoughby mengatakan: ‘Setiap pertempuran di Papua, setiap raid di Rabaul atau serangan kapal patroli terhadap kapal-kapal tongkang Jepang, adalah pendahuluan bagi penaklukan kembali Filipina,’” tulis James M. Scott dalam Rampage: MacArthur, Yamashita, and the Battle of Manila.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












