top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Raja Intel Jadi Panglima ABRI

Minim pengalaman memimpin pasukan tidak jadi penghalang bagi Benny Moerdani menggapai karier paripurna sebagai tentara.

27 Nov 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani dan Pangliima Kodam Jaya Try Sutrisno saat konferensi Pers pasca Peristiwa Tanjung Priok 1984. Sumber: Repro buku Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998 karya Jusuf Wanandi.

  • 27 Nov 2018
  • 3 menit membaca

NAMA Jenderal Andika Perkasa jadi pemberitaan sepekan belakangan. Perwira tinggi bertubuh atletis ini telah dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dia menjabat posisi orang nomor satu di jajaran TNI AD terhitung sejak 22 November 2018.


Perbincangan menguar di sekitar pelantikan Andika. Sebagai lulusan Akmil angkatan 1987, Andika terbilang cepat menggapai puncak karier militernya. Pengalamannya dalam operasi militer ataupun memegang pasukan kemudian dipertanyakan. Rekam jejak Andika juga disangkut-pautkan dengan ayah mertuanya, Jenderal (purn) Hendropriyono, mantan kepala BIN (Badan Intelijen Negara) yang dekat dengan Presiden Joko Widodo. Sebagian kalangan menilai, moncernya karier Andika tak lepas dari relasi perkoncoan di Istana.


Pengangkatan Andika agak mirip dengan kisah Benny Moerdani di era Orde Baru. Mereka sama-sama diragukan karena dianggap minim jam terbang memimpin pasukan. Khusus untuk Benny Moerdani, tak tanggung-tanggung. Presiden Soeharto menunjuknya sebagai panglima ABRI.


Rekam Jejak Benny


Bernama lengkap Leonardus Benyamin Moerdani. Sosok Benny langsung jadi sorotan saat pelantikannya sebagai panglima ABRI pada Maret 1983. Namanya melejit seketika. Sebelumnya, Benny menjabat sebagai Asisten Intelijen Pertahanan dan Keamanan merangkap Asisten Intelijen Kopkamtib sekaligus wakil kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Sebagai perwira intel yang selalu berada di balik layar, tak banyak yang menyadari siapa dan bagaimana sosok Benny Moerdani.


Soal penujukan Benny, pengamat militer Salim Said punya jawaban. “Di masa Orde Baru, aturan yang berlaku dibuat dan dipraktikkan sendiri oleh Pak Harto. Mana yang baik saja menurut Beliau,” kata Salim Said kepada Historia.


Keputusan Soeharto menunjuk Benny sebagai Panglima ABRI memang memantik perdebatan. Sebagian orang menilik kendala dalam perjalanan karier kemiliteran Benny yang belum lengkap. Seperti umum diketahui, Benny minus sejumlah pengalaman keperwiraan.


Benny belum punya pengalaman memimpin teritorial semisal panglima Kodam. Dia juga tanpa pengalaman sebagai pendidik dan tak pernah mengikuti Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat). Nyaris seluruh pengalamannya berlangsung di pasukan khusus dan intelijen. Bahkan di bidang telik sandi Benny bisa dikatakatakan lebih ahli hingga dia dikenal sebagai Si Raja Intel.


Sebagai komandan, jabatan tertinggi yang pernah dipegang Benny hanya komandan batalion sewaktu memimpin “Operasi Naga” di Papua. Operasi militer skala besar yang pernah ditangani Benny barangkali misi invasi ke Timor-Timur pada 1975. Dengan demikian, muncul sentimen seakan-akan Benny langsung meloncat dari jabatan intel ke posisi Panglima ABRI.   


Salah satu yang bersuara kritis adalah mantan Panglima Pangkopkamtib Jenderal (Purn.) Soemitro. Soemitro sebenarnya kurang sepakat dengan keputusan Soeharto yang mengangkat Benny menjadi Pangab menggantikan Jenderal M. Jusuf. Adalah lebih baik, menurut Soemitro, bila Benny terlebih dahulu diberi pengalaman memegang teritorial.


“Saya sarankan agar Benny dijadikan dulu Pangkowilhan (Panglima Komando Wilayah Pertahanan), jangan langsung jadi Pangab (Panglima ABRI),” kata Soemitro sebagaimana dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.


“Tidak ada waktu lagi,” konon begitulah jawaban Soeharto kepada Soemitro.


Panglima Pilihan 


Melihat rekam jejaknya, mengapa Benny yang ditunjuk sebagai panglima? Benny sendiri tak tahu-menahu alasan pengangkatan dirinya. Itu semua kembali kepada Presiden Soeharto yang punya hak prerogatif. Surat Keputusan Presiden No. 47 16 Maret 1983 menetapkan bahwa Benny memenuhi syarat untuk menjabat Panglima ABRI.


“Namun sebagian pendapat melukiskan, penunjukan Benny mungkin akan bisa menjadi jembatan antara Perwira Angkatan 45 dengan generasi lulusan AMN,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Tragedi Seorang Loyalis.


Menurut Julius Pour, Benny yang sedari muda ikut memanggul senjata dalam perang kemerdekaan semasa tentara pelajar merupakan faktor yang cukup diperhitungkan. Dengan pengalaman itu, Benny menjadi figur representasi Angkatan 45 yang tersisa. Namun, Benny juga dianggap tak terpaut jauh dari perwira alumni AMN Magelang. Mereka yang tak memperoleh peluang berjuang dalam palagan era revolusi. Sebagai perwira generasi perantara, Benny menjadi pilihan terbaik yang dapat menjembatani kesinambungan dua generasi tersebut.


Sementara itu, menurut Salim Said menyitir penjelasan Robert Lowry, atase militer Australia di Jakarta saat itu, pilihan Soeharto terhadap Benny punya pertimbangan pragmatis: memperkecil potensi oposan. Salah satu tugas Benny selaku Panglima ABRI adalah menghapuskan Kowilhan. Lembaga ini selama belasan tahun telah memberi tempat kepada sejumlah jenderal, laksamana, dan marsekal. Kenyatannya, setelah Benny menjabat panglima, lembaga tersebut memang dilikuidasi.  


Apa lacur, selama menjadi Panglima ABRI, peran Benny cukup besar menyokong kedudukan Soeharto di puncak kekuasaan. Kepentingan negara terjaga. Stabilitas politik jauh dari gaduh. Keamanan masyarakat terjamin. Termasuk membungkam mereka yang bersuara kritis terhadap pemerintah.


“Buat Pak Harto, Benny Moerdani sebagai Pangab waktu itu paling aman,” ujar sesepuh TNI AD yang juga mantan Wakil KASAD (1973-74) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia. “Ya aman bagi Pak Harto terhadap pihak-pihak yang berusaha melawannya.”


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page