- 18 Agu 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 17 Apr
PUKUL 04.00 pagi, 17 April 1958. KRI Gadjah Mada milik Angkatan Laut RI memulai salvo meriamnya. Hujan peluru dan bom kemudian mendarat di pantai Padang. Serangan itu menandai dimulainya operasi penumpasan Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat yang diberi sandi 17 Agustus.
“Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saya percayakan sepenuhnya kepada Deputi II Kolonel A. Yani mengenai Operasi 17 Agustus,” tutur Abdul Haris Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua.
Selain menjabat KSAD, Nasution merangkap sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS). Sementara itu, Yani baru saja pulang dari Amerika Serikat (AS) setelah mengikuti pendidikan General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas. Yani sendiri yang memberi nama “17 Agustus” untuk operasi militer yang akan dipimpinnya dan disetujui Nasution. Harapannya, PRRI akan tumpas sebelum 17 Agustus sehingga hari kemerdekaan dapat dirayakan dengan euforia kemenangan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















