- 27 Jul 2019
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 hari yang lalu
ENTAH perasaan apa yang bergolak dalam hati Letjen Dirk Cornelis Buurman van Vreeden pada 25 Juli 1950 malam di kediaman Komisaris Tinggi Belanda Max Hans Hirschfeld. Dalam hitungan menit, dia mesti berpidato dua bahasa di depan hadirin yang berisi perwakilan Belanda dan Republik Indonesia Serikat. Pidatonya bukan hanya penting bagi dirinya semata, tapi juga bangsanya dan ribuan orang di dalamnya.
Lembaran-lembaran kertas sudah dihadapinya. Kacamata pun sudah terpajang di wajahnya. Sejurus kemudian, naskah pidato itu dibacakan secara perlahan oleh Buurman. Isinya: Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, di mana ia jadi panglimanya, dibubarkan.
“Seperti telah saya kataken dalam pidato radio saya, kepada semua militer KNIL. Saya yakin, di manapun tuan-tuan berada dalam pekerjaan selanjutnya, tuan-tuan memperlihatken di sana sifat-sifat baik yang sama itu,” demikain potongan pidatonya berbahasa Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















