top of page

Operasi Culverin, Gagasan Churchill Menginvasi Sumatera

Merasa Sekutu minim perhatian terhadap Sumatera, Churchill merencanakan membuka front baru untuk menginvasi Sumatera.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill (kanan atas) bersama PM Kanada Mackenzie King (kiri atas), Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt (kiri bawah) &amp Gubernur-Jenderal Kanada Earl of Athlone di Konferensi Quebec, 17-24 Agustus 1943. Foto: Wikipedia.

22 Jan 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 21 Jul

KEPULAUAN Nusantara dengan letak yang strategis dan kekayaan luar biasa acap menjadi rebutan banyak kekuatan sejak lama, termasuk ketika Perang Pasifik dilancarkan Jepang. Pertempuran-pertempuran dahsyat macam Pertempuran Selat Makassar, Pertempuran Laut Jawa, atau rangkaian pertempuran dalam manuver “Lompat Katak”-nya Jenderal Douglas McArthur pasukan Amerika Serikat (AS) berlangsung di negeri yang kini bernama Indonesia.


Arti penting itulah yang mendorong PM Inggris Winston Churchill merencanakan Operation Culverin, invasi ke sejumlah titik penting di Pulau Sumatera. Sebagaimana diuraikan John Ehrmann dalam Grand Strategy Vol. V: August 1943-September 1944, Operasi Culverin –nama meriam kecil yang digunakan banyak negara Eropa pada abad ke-17– tercetus dari mulut Churchill di Konferensi Quadrant di Quebec, Kanada, 20 Agustus 1943. Dia menginginkan adanya operasi pendaratan amfibi di utara Pulau Sumatera pada Mei atau Juni 1944.


Desakan itu tak lepas dari keinginannya agar komando Sekutu mau lebih memperhatikan kawasan Asia Tenggara dengan membuka front baru. “Kita harus menyerang dan merebut satu pijakan (di pantai Sumatera) terhadap Jepang, di mana Jepang mesti merebutnya lagi dengan susah payah jika mereka tak ingin perkapalan mereka (di Selat Malaka) terganggu oleh serangan udara dari Sumatera,” cetus Churchill, dikutip Ehrmann.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page