top of page

KKo Terjebak di Gunung Wian

Bagaimana satu peleton pasukan elite AL itu nyaris hancur oleh sekelompok gerilyawan Permesta.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Gerakan pasukan KKo-AL di hutan Minahasa (Dokumen Korps Marinir AL)

  • 19 Nov 2019
  • 2 menit membaca

SENIN, 11 Januari 1960. Situasi mencekam dirasakan oleh Letnan Dua (KKo) Kahpi Soeriadiredja, saat dia dan dua peleton pasukan KKo-AL dari Detasemen Pendarat (DETAP) memasuki  kawasan Gunung Wian, sebuah bukit kecil di Tatelu, Minahasa Utara. Tiap kaki melangkah, selalu saja para prajurit KKo-AL mendapat gangguan, baik tembakan dari regu musuh maupun tembakan bidik dari para sniper gerilyawan Permesta.


Pergerakan dua peleton DETAP pimpinan Wakil Komandan Kompi Letnan Dua Kahpi sesungguhnya merupakan pasukan bantuan. Beberapa jam sebelumnya, satu peleton DETAP pimpinan Letnan Muda Soetedi Senaputra (yang tak lain adalah adik sepupu Kahpi) telah dikirim untuk menguasai Gunung Wian. Namun, alih-alih dapat membereskan bukit kecil tersebut, peleton Letnan Muda Tedi malah masuk dalam jebakan zone pembantaian (killing ground) para gerilyawan Permesta.


“(Yang dapat dilakukan), pasukan KKo-AL ini hanya diperintahkan berdiam diri sambil menunggu bantuan datang,” demikian menurut buku 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir yang ditulis oleh Mayor Laut (KH) Drs. Junaedi, Mayor Laut (KH) Drs. Margoyono dan Sersan Satu Marinir M. Syafrudin,SH.  


Begitu sampai di kaki Gunung Wian, pasukan pimpinan Kahpi langsung melakukan pendakian. Saat itulah, tetiba peluru-peluru Mitraliur 12,7 milik musuh berhamburan ke arah mereka. Sebagian peluru bahkan menggasak akar-akar gantung pohon beringin raksasa yang menjadi tempat perlindungan pasukan DETAP hingga kulit-kulitnya terlihat putih mengelupas.


“Kami sendiri tak bisa sama sekali melihat posisi musuh karena lereng-lerengnya ditumbuhi pepohonan yang sangat rapat,” ujar Kahpi dalam otobiografinya, Mengukir Jejak Langkah: Pengabdian Sebagai Prajurit Marinir.


Situasi benar-benar kritis buat para prajurit KKo-AL. Kedua peleton DETAP tidak bisa bergerak kemana-mana. Jangankan bergerak maju, untuk merayap perlahan pun situasi sangat tidak memungkinkan karena setiap jengkal tanah seolah disiram hujan peluru.


Namun sebagai komandan, Kahpi tidak bisa berdiam diri saja. Dengan setengah nekat, dia meloncat dari pohon ke pohon, berjibaku menghadapi hujan peluru. Di sebuah pohon beringin raksasa, Kahpi bertahan bersama beberapa anak buahnya, sementara para gerilyawan Permesta dengan seenaknya menembaki mereka dari atas seraya berteriak-teriak mengejek anak-anak KKo.


Dalam situasi demikian, tetiba dari arah samping, Kahpi mendengar seseorang berteriak.

“Letna Tedi kena! Letnan Tedi kena tembak!”


Tanpa banyak pertimbangan, Kahpi langsung merangsek sendirian, memburu datangnya sumber teriakan itu. Dilihatnya Letnan Tedi sedang tergeletak. Setelah Kahpi memeriksa lukanya, ternyata peluru masuk ke perut namun tidak tembus ke belakang. Saat itulah, Kahpi baru sadar bahwa mereka tinggal bertiga saja di garis terdepan karena anggota peleton lainnya telah melakukan gerakan mundur.


“Saya langsung angkat dia walaupun berat…” kenang Kahpi.


Selama bergerak mundur, Tedi selalu meracau. Dalam pangkuan Kahpi, sang adik sepupu itu berkisah banyak hal mengenai kenangan-kenangan masa lalu, terutama mengenai nenek mereka. Anehnya Tedi mengigau dalam bahasa Inggris.


“Akhirnya dalam pangkuan saya, dia menghembuskan nafas trakhir…”kenang Kahpi.


Kendati gagal menguasai Gunung Wian saat itu, namun setidaknya Kahpi berhasil membawa pulang peleton KKo yang terjebak dalam zone pembantaian. Gerakan pasukan kemudian dialihkan ke wilayah Wasian-Tatelu guna melakukan pembersihan. Gunung Wian baru berhasil dikuasai oleh tentara pemerintah beberapa hari kemudian, lewat suatu pertempuran yang juga sangat brutal.


Letnan Muda Soetedi Senaputra sendiri kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Manado, Sulawesi Utara. Pangkatnya dinaikan menjadi kapten (anumerta). Mengapa kapten? Sebenarnya, saat akan melakukan gerakan ke Gunung Wian, Letnan Muda Tedi baru saja mendapatkan telegram tentang kenaikan pangkatnya menjadi letnan dua.


“Namun karena (saat itu) tidak tersedia tanda pangkat, maka ketika gugur dia masih memakai tanda pangkat letnan muda…” ungkap Komandan Korps Marinir AL yang ke-6 itu.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Misi barisan Guardians of the Galaxy diselamatkan anjing galaksi berkekuatan super. Karakter yang terinspirasi dari Laika si martir antariksa Soviet.
Bermula dari kompetisi pengiring pekan raya perdagangan dan industri. Cap kasta kedua tetap terasa hingga dijuluki “Liga Malam Jumat”.
Bermula dari kompetisi pengiring pekan raya perdagangan dan industri. Cap kasta kedua tetap terasa hingga dijuluki “Liga Malam Jumat”.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Presiden Putin begitu sumringah menendang bola di Lapangan Merah laiknya Stalin delapan dasawarsa sebelumnya di tempat yang sama.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Seni pertunjukan drama musikal yang lahir dari masa kolonial ini bertahan dan menjadi salah satu kesenian Betawi terpopuler di masa kini.
Seni pertunjukan drama musikal yang lahir dari masa kolonial ini bertahan dan menjadi salah satu kesenian Betawi terpopuler di masa kini.
Pada masa kolonial, aturan yang mengekang kebebasan berpendapat hanya diberlakukan di negeri jajahan. Tidak di negeri induknya.
Pada masa kolonial, aturan yang mengekang kebebasan berpendapat hanya diberlakukan di negeri jajahan. Tidak di negeri induknya.
transparant.png
bottom of page