- 29 Okt 2022
- 5 menit membaca
Diperbarui: 27 Agu
KOLONEL Alex Evert Kawilarang tengah berunding dengan Jenderal Mayor KNIL Schaffelaar di Makassar pada Agustus 1950. Tiba-tiba muncul dua pesawat Bomber B-25 melintas di atas kota dan menembaki kampemen KIS, tangsi KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger), dengan peluru berkaliber 12,7.
“Bagaimana bisa bicara tentang cease fire (gencatan senjata) kalau dua kapal terbang terus menembak?” tanya Schaffelaar. Kawilarang tak hilang akal.
“Penghentian tembak-menembak baru pada waktu mulai cease fire,” kata Kawilarang.
Tak hanya tembak-menembak yang kemudian berhenti, para serdadu KNIL pun dikosongkan dari kota Makassar sehingga Makassar pun damai. Begitu tercatat dalam otobiografi AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












