top of page

Kisah Penyair Besar Prancis Jadi Serdadu di Salatiga

Penyair Arthur Rimbaud pernah bergabung dengan pasukan Hindia Belanda di Salatiga. Kabur setelah dua minggu menjalani kehidupan barak militer.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rimbaud pernah tinggal di Salatiga sebagai seorang serdadu pada 2 hingga 15 Agustus 1876.. (�tienne Carjat/Wikimedia Commons & Andri Setiawan/Historia).

  • 22 Feb 2021
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 29 Mei

PLAKAT marmer itu terpasang kokoh pada salah satu dinding Rumah Dinas Walikota Salatiga. Warna abu-abunya mencolok di antara pilar-pilar putih rumah bergaya Indis yang pernah didiami oleh asisten residen Salatiga itu. Tulisannya berbunyi: Le poète français ARTHUR RIMBAUD (1854-1891) a séjourné à Salatiga du 2 au 15 août 1876.


Memorabilia ini menandakan bahwa penyair besar Prancis, Arthur Rimbaud, pernah tinggal di Salatiga. Rimbaud menjalani hari-harinya di sini sebagai serdadu antara 2 hingga 15 Agustus 1876.


Sebaris puisi Rimbaud juga disematkan dalam plakat itu. “Aux pays poivrés et détrempés (artinya “Ke negeri rempah-rempah pedas dan basah”),” demikian bunyinya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page