top of page

Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung

Jenderal Soedirman sempat menolak pulang ke Yogyakarta selama tentara Belanda bercokol di Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Panglima Besar Soedirman saat tiba di Yogyakarta (IPPHOS)

11 Jul 2021
3 menit membaca

Diperbarui: 5 Mei

PERJANJIAN Roem-Royen disepakati oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut.


“Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein.


Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa menghindar dan terpaksa menyetujuinya. Maka, pada 29 Juni 1949, secara berangsur, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka disusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page